Bismillah.

Diantara istilah yang sering kita dengar adalah ungkapan ‘salafus salih’. Secara bahasa ia berarti pendahulu yang baik. Adapun secara istilah yang dimaksud ialah generasi terbaik umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para ulama yang membawa hidayah di tiga generasi awal umat ini.

Syaikh Nashir al-‘Aql menjelaskan :

السلف الصالح: هم صدر هذه الأمة، والسلف هم الذين سلفوا وقضوا من القدوات، فالسلف هم صدر هذه الأمة من الصحابة والتابعين وأئمة الهدى في القرون الثلاثة الفاضلة، وعلى هذا يطلق هذا الوصف أيضاً من باب التوسع في الوصف كما هو معروف عند تقرير الاصطلاحات، فيطلق هذا الوصف على كل من التزم هذا المنهج وإن كان معاصراً، فهو سلفي بمعنى أنه على نهج السلف.

“Salafus salih adalah generasi terdepan dari umat ini, yang disebut dengan salaf/para pendahulu adalah orang-orang yang telah berlalu dan lebih dahulu yang menjadi teladan kebaikan. Maka salaf adalah generasi awal umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan para imam pembawa hidayah di masa 3 generasi awal yang utama. Sebutan ini juga digunakan untuk menjelaskan sifat/karakter secara lebih umum sebagaimana dimaklumi dalam hal penetapan istilah. Sehingga sifat ini (salaf) dilekatkan kepada siapa saja yang berpegang-teguh dengan manhaj/jalan ini walaupun dia hidup di masa kini; sehingga dia adalah seorang salafi; dalam artian orang itu berada di atas manhaj/jalan beragama kaum salaf.” (lihat Mujmal Ushul Ahlis Sunnah, hal. 5 dikutip dari Maktabah Syamilah)

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan :

والمراد بالسلف الصالح: القرن الأول من هذه الأمة، وهم صحابة رسول الله صلى الله وعليه وسلم من الهاجرين والأنصار

“Yang dimaksud dengan salafus salih adalah generasi awal dari umat ini; mereka itu adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar…” (lihat Manhajus Salaf wa Hajatul Ummah ilaih, transkrip ceramah di situs resmi Syaikh Shalih al-Fauzan)

Apabila disebutkan istilah salaf secara umum maka yang dimaksud adalah tiga generasi pertama dari umat ini yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka itulah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian yang sesudah mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari, Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu) (lihat al-Manhaj as-Salafi ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani, hal. 11)

Allah pun meridhai orang-orang yang mengikuti para sahabat. Allah berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang mengikuti mereka, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti ridha kepada-Nya, dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar.” (at-Taubah : 100). Maka ayat ini berisi pujian bagi jalan para sahabat dan wajibnya menempuh jalan mereka itu (lihat al-Mukhtashar al-Hatsits, hal. 21)

Manhaj salaf sangat memperhatikan masalah aqidah tauhid. Karena inilah tujuan agung dari penciptaan jin dan manusia. Bahkan tidaklah Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul melainkan untuk mewujudkan tujuan ini dan mengajak manusia untuk merealisasikannya. Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56) (lihat Ushul ad-Da’wah as-Salafiyah, hal. 41-42)

Konsekuensi dari dakwah tauhid ini adalah memperingatkan kaum muslimin dari syirik dengan segala bentuknya. Karena syirik adalah dosa besar yang paling besar, sebab terhapusnya amal, dosa yang tidak diampuni oleh Allah, dan sebab kekal di dalam neraka Jahannam. Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kamu berbuat syirik maka pasti lenyap amal-amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65) (lihat al-Mukhtashar al-Hatsits, hal. 179-180)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid, 1/17)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *