Bismillah.
Di dalam al-Qur’an, Allah telah menggambarkan kepada kita diantara sifat-sifat orang kafir yang wajib untuk kita jauhi dan hindari. Karena sifat-sifat itu merupakan perkara yang merusak kesempurnaan tauhid. Diantaranya adalah merasa ujub dengan dirinya sendiri dan tidak mengakui nikmat Allah atas dirinya.
Allah berfirman :
وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِندَهُ لَلْحُسْنَىٰ ۚ فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ
“Dan sungguh jika Kami berikan kepadanya (orang kafir) suatu rahmat/kenikmatan dari Kami setelah di dirundung oleh kesulitan maka benar-benar dia mengatakan ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak mengira/yakin bahwa kiamat itu akan terjadi. Dan seandainya aku dikembalikan kepada Rabbku pasti aku memiliki kebaikan (kekayaan) di sisi-Nya.’ Sungguh Kami akan kabarkan kepada orang-orang kafir itu dengan apa yang telah mereka perbuat dan benar-benar Kami akan berikan kepada mereka siksaan yang sangat keras.” (Fushshilat : 50)
Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran bahwa persangkaan seorang manusia bahwa dirinya pantas untuk mendapatkan kenikmatan setelah sebelumnya ditimpa kesulitan/bahaya adalah perkara yang merusak kesempurnaan tauhid (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 353)
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan :
ولئن نحن كشفنا عن هذا الكافر ما أصابه من سقم في نفسه وضرّ, وشدّة في معيشته وجهد, رحمة منا, فوهبنا له العافية في نفسه بعد السقم, ورزقناه مالا فوسعنا عليه في معيشته من بعد الجهد والضرّ.( لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي ) عند الله, لأن الله راض عني برضاه عملي, وما أنا عليه مقيم
“Maksud ayat ini; Jika Kami (Allah) menyingkap dari orang kafir musibah yang menimpanya berupa sakit pada dirinya atau suatu bahaya dan kesulitan dalam penghidupan dan keadaan susahnya, karena Kami sayang kepadanya lalu Kami berikan kepadanya kesehatan setelah sakit, Kami berikan rezeki harta dan Kami lapangkan urusan penghidupannya setelah kondisi yang berat dan susah ‘benar-benar dia berkata; ‘Ini adalah hakku’ di sisi Allah, karena Allah ridha kepadaku dan ridha kepada perbuatanku, dan apa-apa yang selama ini aku kerjakan…” (lihat Tafsir ath-Thabari, dikutip dari situs KSU [klik])
Ucapan semacam itu pula yang dikisahkan dari Qarun ketika dia mengatakan -sebagaimana dikisahkan dalam ayat- :
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Dia (Qarun) berkata; Sesungguhnya aku diberi ini semuanya karena ilmu yang aku miliki.” (al-Qashash : 78)
Imam ath-Thabari menjelaskan :
قال قارون لقومه الذين وعظوه: إنما أوتيتُ هذه الكنوز على فضل علم عندي, علمه الله مني, فرضي بذلك عني, وفضلني بهذا المال عليكم, لعلمه بفضلي عليكم
Qarun mengatakan kepada kaumnya yang menasihatinya : “Sesungguhnya aku diberikan perbendaharaan harta yang melimpah ini karena keutamaan ilmu yang ada padaku, Allah mengetahui hal itu ada pada diriku oleh sebab itu Allah ridha kepadaku dan mengutamakan aku dengan harta ini daripada kalian karena Allah mengetahui keutamaan/kehebatanku atas kalian.” (lihat Tafsir ath-Thabari [klik])
Qarun mengira bahwa limpahan harta yang ada padanya adalah tanda kemuliaan dirinya di hadapan Allah. Dia mengukur keridhaan Allah kepada manusia dengan materi yang mereka punyai. Semakin orang itu kaya dan berkuasa maka dia semakin mulia dan semakin diridhai oleh Allah; sungguh ini adalah logika yang rusak!
Ayat di atas juga menunjukkan kepada kita wajibnya kita mensyukuri nikmat Allah dan mengakui sepenuhnya bahwa nikmat itu datang dari Allah semata, bukan karena keahlian, kemuliaan atau ilmu yang ada pada kita. Selain itu ayat ini juga menunjukkan diharamkannya sifat ujub/kagum kepada diri sendiri dan tertipu oleh kemampuan dan kekuatan yang ada pada hamba. Ayat di atas juga mengandung wajibnya beriman terhadap hari kiamat dan merasa takut terhadap azab akhirat. Di dalam ayat itu juga terkandung peringatan dan ancaman keras bagi orang yang kufur nikmat/tidak mengakui nikmat Allah atas dirinya (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab atTauhid, hal. 354-355)
Ayat di atas dalam surat Fushshilat ayat 50 dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya yang ini juga mengandung faidah dan isyarat bahwa pembahasan tauhid tidak terlepas dari bab syukur kepada Allah. Karena tauhid itu sendiri merupakan bentuk syukur yang paling agung.
Seorang hamba yang menyadari bahwa hanya Allah yang menciptakan dirinya dan mencurahkan segala macam nikmat kepadanya; maka dia pun meyakini bahwa tidak ada yang layak diibadahi kecuali Allah. Karena itu lah Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi teladan hamba yang paling pandai bersyukur kepada-Nya.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar