Bismillah.
Di dalam mukadimah al-Qawa’id al-Arba’, Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah menyebutkan doa yang indah bagi para pembaca risalahnya :
“Aku memohon kepada Allah al-Karim Rabb penguasa Arsy yang Agung; semoga Allah menjadi penolongmu di dunia dan di akhirat, dan semoga Allah menjadikanmu termasuk orang yang bersyukur apabila diberi nikmat, bersabar apabila diberi cobaan/musibah dan beristighfar apabila terjerumus di dalam dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan..”
Apa yang beliau ungkapkan ini merupakan tanda kasih sayang seorang da’i ila Allah. Seorang yang menghendaki kebaikan bagi umat manusia. Hamba yang mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan itu untuk dirinya. Beliau memadukan antara ta’lim/mengajarkan ilmu dengan mendoakan kebaikan bagi muridnya.
Sesungguhnya asas dari kebaikan adalah apabila seorang hamba diberi taufik oleh Allah untuk meraih kebaikan di dunia dan di akhirat. Kebaikan di dunia berupa ilmu, iman dan ibadah. Sementara kebaikan di akhirat berupa surga dan terbebas dari siksa neraka. Oleh sebab itu Allah menyebut orang-orang yang dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sebagai golongan orang yang beruntung/berjaya. Sebab kehidupan dunia ini adalah kesenangan dan perhiasan yang menipu banyak manusia.
Salah satu ciri diantara ciri orang yang bahagia itu adalah mensyukuri nikmat Allah. Sebagaimana sifat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam imamnya ahli tauhid dan kekasih ar-Rahman; Allah pilih beliau dan beri petunjuk beliau menuju jalan yang lurus. Allah sifati Ibrahim sebagai hamba yang patut dijadikan teladan, senantiasa patuh kepada Allah, hanif/ikhlas dan jauh dari syirik, dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah yang tercurah kepadanya.
Selain itu, orang yang berbahagia adalah menyadari bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak Allah dan takdir-Nya. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin-Nya. Oleh sebab itu dia meyakini bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, sehingga dia pun ridha dan pasrah. Sabar menghadapi musibah adalah cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup. Sebagaimana syukur akan menjadi kunci pembuka tambahan nikmat. Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa iman itu terdiri dari dua bagian; sabar dan syukur.
Di sinilah letak keindahan hidup orang beriman. Sabar dalam menghadapi musibah, dan bersyukur atas nikmat yang selalu tercurah. Jika dia diberi nikmat bersyukur, maka itu baik untuknya. Dan apabila dia terkena musibah atau kesulitan maka dia pun bersabar; maka hal itu pun baik untuknya.
Kemudian, diantara ciri hamba yang tunduk kepada Allah dan diberikan kebahagiaan sejati adalah mereka yang apabila melakukan suatu perbuat keji atau menzalimi diri mereka sendiri mereka pun segera ingat kepada Allah dan memohon ampunan untuk dosa-dosanya. “Apabila ia terjerumus dalam dosa maka ia pun beristighfar.”
Siapakah kita apabila dibandingkan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia paling berilmu dan paling takut kepada Allah; orang yang telah diampuni dosa-dosanya dan dijamin masuk surga. Meskipun begitu beliau adalah manusia yang paling banyak beristighfar kepada Allah.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dirinya sedang duduk di bawah sebuah gunung; yang dia khawatir gunung itu ambruk menimpa dirinya. Adapun orang kafir/fajir melihat dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di depan hidungnya lalu dia hela dengan jarinya begini.”
Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan 30 orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mereka semuanya takut kalau-kalau dirinya terjangkiti kemunafikan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril atau Mika’il.”
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Orang beriman memadukan dalam dirinya antara berbuat ihsan/kebaikan dan merasa takut. Adapun orang orang kafir/munafik menggabungkan dalam dirinya antara berbuat jelek dan merasa aman/tidak merasa berdosa dan tidak takut kepada Allah.”
Karena itulah para ulama menyatakan bahwa kebahagiaan itu terletak di dalam hati. Berupa kelapangan dada dan ketentraman jiwa. Hatinya tentram dengan iman dan dzikir kepada Allah. Hatinya lapang dengan tunduk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pasti merasakan lezatnya iman; seorang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)
Pendidikan iman dan penguatan aqidah merupakan tugas besar di pundak para da’i dan ahli ilmu. Maka sudah sepantasnya dakwah tauhid dan pemurnian aqidah ini selalu diutamakan di atas segala agenda dan program kebaikan. Sebab tauhid inilah kunci kebahagiaan dan pondasi tegaknya penghambaan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka berbuat syirik pasti lenyap semua amal yang mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)
Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk menjadi pembela tauhid yang ikhlas.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar