Bismillah.

Diantara prinsip penting bagi seorang muslim adalah mengawali segala sesuatu dengan ilmu. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) niscaya Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Orang yang mendambakan kebahagiaan dan keselamatan tidak bisa bermodal niat baik belaka. Niat baik harus direalisasikan dengan cara dan metode yang benar. Tidak bisa asal-asalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan baginya fikih/ilmu agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama kita terdahulu telah memberikan pedoman bahwa setiap ucapan dan perbuatan harus berlandaskan ilmu. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Bukhari rahimahullah (wafat 256 H) dalam kitab Sohih-nya bahwa ilmu sebelum ucapan dan amalan. Seorang khalifah yang adil lagi bijaksana Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah mengatakan, “Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa-apa yang dia rusak justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.”

Maka seorang muslim selalu berusaha menyeleraskan perilaku dan keyakinannya dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Inilah petunjuk hidup yang menyinari kehidupan dan perjalanan umurnya. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Seorang ahli tafsir ulung dari kalangan sahabat yaitu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan maksud ayat ini, “Allah memberikan jaminan kepada siapa pun yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”

Berjalan di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nikmat agung bagi umat manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian mengakui mencintai Allah maka ikutilah aku (rasul) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali ‘Imran : 31). Allah juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Rasul sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa’ : 80)

Jalan yang akan mengantarkan hidup kita menjadi bahagia dan selamat adalah dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali orang yang enggan.” Maka para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” beliau pun menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia itulah orang yang enggan.” (HR. Bukhari)

Ketaatan kepada Allah adalah ibadah yang harus dilandasi ilmu agama. Ilmu yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah dengan metode pemahaman dan penerapan para sahabat nabi. Inilah kaidah pokok dalam memperbaiki kehidupan pribadi dan masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh ulama ahli hadits besar Imam Darul Hijrah Imam Malik bin Anas rahimahullah -gurunya Imam Syafi’i- bahwa “Tidak akan memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.”

Oleh sebab itu para ulama dari 4 madzhab senantiasa mengagungkan para sahabat nabi dan memuliakan mereka. Sebab mereka merupakan generasi terbaik umat ini. Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang suka merendahkan salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia itu adalah orang zindik/sesat dan menyimpang.”

Imam az-Zuhri rahimahullah -seorang imam ulama ahli hadits dan ahli fikih besar dari Syam di masanya- mengatakan, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti jejak orang-orang terdahulu/para sahabat nabi, meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia, meskipun mereka berupaya menghias-hiasinya kepadamu dengan ucapan dan kalimat yang indah/menawan.”

Jalan hidup para sahabat adalah jalan yang dibentangkan di atas fitrah dan petunjuk ilahi. Jalan yang menggabungkan antara keikhlasan dan ittiba’/mengikuti tuntunan rasul. Jalan yang memadukan antara ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Jalan yang meramu kesetiaan kepada Allah dan akhlak mulia kepada sesama. Jalan yang menempa ilmu, amal dan dakwah dalam bingkai kesabaran. Jalan yang mempertemukan antara rasa takut dengan harapan. Jalan yang menepis segala sikap ekstrim maupun perilaku meremehkan. Jalan yang mempertemukan antara kesabaran dan perwujudan syukur dalam hati, ucapan serta perbuatan sehari-hari. Jalan yang dibangun di atas ma’rifatullah dan aqidah yang murni.

Sebagian salaf berkata, “Wajib bagimu mengikuti jalan kebenaran dan janganlah berkecil hati atau sedih semata-mata karena sedikitnya orang yang meniti jalan itu. Dan jauhilah berbagai jalan kebatilan dan janganlah kamu gentar karena banyaknya orang yang binasa.” Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berpesan, “Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam ini, maka kapan saja kami mencoba mencari kemuliaan/kejayaan dengan selain cara Islam pastilah Allah akan merendahkan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Oleh sebab itu siapa pun di masa ini yang berupaya menegakkan kemuliaan umat tanpa kecintaan kepada para sahabat nabi dan tanpa mengikuti bimbingan dan arahan salafus salih maka sesungguhnya dia sedang menuju jurang kehancuran dan kegagalan. Dia suka atau tidak! Kemuliaan seperti apakah yang diharapkan pada suatu kaum yang gemar mencaci-maki para sahabat bahkan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar?! Janganlah anda pura-pura lupa atau tidak tahu (atau bahkan menutup mata) dari sejarah hitam penuh darah dan kezaliman plus kekejian kaum Syi’ah Rafidhah di dalam pentas sejarah kaum muslimin… Apakah mereka tidak mau mengambil pelajaran?

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *