Bismillah.

Alhamdulillah pada kesempatan ini kembali kita lanjutkan -bi idznillah- pembahasan seputar risalah al-Qawa’id al-Arba’ karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah.

Beliau mengatakan :

القاعدة الأولى: أن تعلم أن الكفار الذين قاتلهم رسول الله صلى الله عليه وسلم مُقِرُّون بأن الله تعالى هو الخالق المدبر، وأن ذلك لم يدخلهم في الإسلام.

والدليل قوله تعالى: {قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ}

Kaidah Pertama; hendaknya anda ketahui bahwasanya orang-orang kafir yang dahulu diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mengakui bahwa Allah lah satu-satunya pencipta dan pengatur alam, dan bahwa hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam.

Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Katakanlah; Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan; niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka katakanlah; Lalu mengapa kalian tidak mau bertakwa.” (Yunus : 31)

Apa yang beliau sampaikan di sini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita kaum muslimin. Bahwa pengakuan dan keyakinan mengenai rububiyah Allah adalah sesuatu yang telah tertanam dalam hati manusia, bahkan orang kafir Quraisy pun mengakuinya. Meskipun demikian hal itu belum cukup untuk menjadikan manusia sebagai muslim ahli tauhid. Karena tauhid ditegakkan dengan ibadah kepada Allah semata dan menolak syirik. Inilah yang dakwah yang diserukan oleh setiap rasul, “Sembahlah Allah saja, tidak ada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”

Dengan demikian wajib bagi kita untuk memahami apa itu islam dan tauhid yang sebenarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits sahih bahwa Islam itu dibangun di atas 5 perkara pokok; yang paling utama adalah syahadat laa ilaha illallah atau mentauhidkan Allah. Dalam hadits yang lain, beliau juga menerangkan bahwa iman itu ditopang oleh 6 pilar pokok yang biasa kita kenal dengan rukun iman. Sementara tauhid kepada Allah merupakan intisari dari rukun iman yang pertama yaitu beriman kepada Allah.

Iman kepada Allah tidak cukup dengan meyakini Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. Lebih daripada itu iman kepada Allah juga mengandung pengesaan ibadah kepada-Nya. Tauhid inilah perintah terbesar dan landasan agama. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif…” (al-Bayyinah : 5). Hanif adalah condong kepada Allah dan berpaling dari segala bentuk sesembahan selain-Nya. Oleh sebab itu Allah memuji Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang hanif.

Iman terhadap rububiyah Allah belumlah cukup untuk memasukkan seorang hamba ke dalam Islam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (Yusuf: 107).

Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Fath al-Bari [13/556])

Ini artinya, menganggap bahwa keyakinan Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta sebagai intisari tauhid adalah jelas sebuah kekeliruan. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya, dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat la ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, sehingga dia mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

1 Komentar

Bp Yanto · Agustus 19, 2026 pada 2:27 PM

Masya Allah betul mengenal syirik sangat perlu
Supaya kita tidak terjerumus

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *