Bismillah.
Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita diberi kemudahan untuk melanjutkan kembali seri pembahasan ayat-ayat tauhid yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid.
Kita masuk pada bab yang baru yaitu mencari berkah kepada pohon, batu atau yang semacamnya.
Penulis rahimahullah membawakan firman Allah :
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى
“Bagaimana pendapat kalian mengenai Latta, Uzza dan Manat [sesembahan] yang ketiga yang lain.” (an-Najm : 19 – 20)
Ketiga nama di atas adalah nama-nama berhala kaum musyrikin di masa itu. Ada yang menyembah batu atau kuburan semacam Latta. Ada yang menyembah pohon seperti Uzza. Dan ada pula yang menyembah patung seperti Manat. Mereka meyakini bahwa dengan mengagunkan dan berdoa kepada berhala-berhala itu akan mendatangkan keberkahan. Mencari berkah kepada kuburan seperti Latta. Mencari berkah melalui pohon dan batu seperti halnya kepada Manat dan Uzza (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 89 – 90)
Maksud dari ayat di atas adalah mengingkari peribadatan kepada berhala-berhala itu. karena ia tidak bisa mendatangkan manfaat ataupun menolak bahaya; oleh sebab itu ia tidak layak menjadi sekutu bagi Allah dalam hal ibadah (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fath al-Majid [klik])
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan :
وكان من عملهم عندها: سؤالها، والتبرك بها، والنذر لها، والاستغاثة بها، ونحو ذلك من أعمالهم الخبيثة، فأبطلها الله بالإسلام وأمر الله عباده أن يعبدوه وحده، وأن يدعوه وحده، وأن يسألوه البركة جل وعلا
“Diantara kebiasaan orang-orang musyrik kala itu di sisi berhala-berhala itu adalah berdoa kepadanya, mencari berkah dengannya, bermazar untuknya, beristighotsah padanya dan lain sebagainya yang termasuk perbuatan buruk mereka. Maka Allah pun membatalkan hal itu dengan Islam dan Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata, berdoa kepada Allah saja dan meminta keberkahan kepada-Nya…” (lihat keterangan Syaikh Bin Baz dalam pelajaran Syarh Kitab at-Tauhid [klik])
Ngalap berkah -dalam bahasa arab disebut tabarruk- kepada batu, pohon, kuburan, atau tempat dan benda yang dianggap keramat adalah perbuatan yang merusak tauhid. Orang yang melakukan perbuatan semacam ini telah terjerumus dalam salah satu diantara dua kemungkinan; syirik akbar -yang mengeluarkan dari Islam- atau syirik ashghar -yang tidak sampai mengeluarkan dari agama, tetapi dosanya lebih besar daripada dosa-dosa besar-.
Perbuatan ini tergolong syirik akbar apabila pelakunya mencari berkah darinya dengan keyakinan bahwasanya perkara-perkara itu -batu, pohon, kuburan, dsb- menjadi perantara baginya di sisi Allah. Apabila dia meyakini bahwa hal itu merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ini termasuk tindakan mengangkat sekutu/sesembahan tandingan bagi Allah. Oleh sebab itu perbuatan semacam ini dihukumi syirik akbar. Hal semacam inilah yang dilakukan kaum musyrikin jahiliyah terhadap batu, pohon, dan kuburan yang mereka puja-puja.
Namun, apabila pelakunya melakukan hal itu -misalnya dengan menaburkan tanah ke anggota tubuhnya, atau mengusap benda tersebut- dengan keyakinan bahwa benda-benda itu merupakan sebab datangnya berkah tanpa ada keyakinan bahwa ia menjadi perantara atau lebih mendekatkan dirinya kepada Allah; maka yang semacam ini termasuk syirik ashghar. Hal ini serupa dengan keadaan orang yang mengenakan tamimah/jimat, gelang, atau kalung untuk menolak bala atau menyembuhkan penyakit yang dihukumi sebagai syirik ashghar. Disebabkan hal itu pada dasarnya bukan termasuk bentuk peribadatan kepada selain Allah. Sehingga ia dimasukkan dalam kategori syirik ashgar dikarenakan keyakinannya bahwa sesuatu yang tidak Allah izinkan sebagai sebab -secara syari’at- bisa menjadi sebab -menurut pandangannya sendiri-. Adapun apabila dia mengusap-usap benda yang dianggap keramat itu dengan keyakinan bahwa ia menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka hal ini berubah status hukumnya menjadi syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam (lihat penjelasan Syaikh Shalih alu Syaikh hafizhahullah dalam at-Tam-hid, hal. 128-129)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]
0 Komentar