Bismillah.

Seorang manusia tidak pernah lelah untuk menata dirinya. Dia akan terus belajar dan berbenah untuk memperbaiki keadaan. Dari satu ujian menuju cobaan dan tantangan berikutnya. Dari satu kemudahan menuju kelapangan dan peningkatan selanjutnya. Ada kalanya ia harus duduk sejenak merenung, tetapi bukan untuk menyerah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, kehidupan dunia yang penuh dengan ujian ini adalah sebuah sarana untuk kita kembali membangun kepekaan. Peka terhadap kekurangan diri dan peka akan banyaknya celah untuk bisa mendapatkan pencerahan atau sebaliknya; tenggelam dalam kebatilan demi kebatilan.

Allah telah menetapkan ibadah sebagai tujuan hidup kita. Allah juga telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para rasul-Nya. Agar manusia mengerti apa yang seharusnya ia kerjakan di atas muka bumi ini. Sehingga siapa pun yang celaka akan binasa setelah keterangan dan bukti sampai kepadanya. Dan siapa saja yang hidup dapat menjalani hidupnya dengan bekal keterangan dan bukti yang ada padanya.

Akal dan perasaan manusia tentu memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan. Oleh sebab itu ia butuh bimbingan dan petunjuk wahyu dari langit. Di sana lah tugas para nabi dan rasul menyampaikan pesan-pesan ilahi dan pedoman-pedoman iman agar umat manusia dapat menemukan jalan kebahagiaan.

Orang-orang yang terbaik adalah yang selalu berupaya mengikuti petunjuk Allah serta menundukkan akal dan hawa nafsunya kepada perintah dan larangan Rabb penguasa seluruh alam. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Di dalam al-Qur’an telah terdapat bimbingan dan arahan menuju kebahagiaan dan keselamatan. Barangsiapa yang membaca dan memahaminya dengan benar lalu menerapkan ajarannya maka Allah jamin dirinya lepas dari kesesatan di dunia dan terbebas dari kesengsaraan di akhirat. Inilah kandungan tafsiran Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma terhadap ayat itu.

Orang-orang yang hidup dalam ketaatan dan patuh kepada syariat Allah adalah mereka yang betul-betul merasakan lezatnya iman dan ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pasti merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Mereka yang senantiasa menghadirkan panduan Allah bagi jiwa dan raganya. Mereka yang mengingat Allah dengan hati, lisan dan anggota badannya. Kesejukan dzikir dan ketenangan hati yang menjaga mereka untuk terus bertahan dalam dunia yang sarat dengan cobaan dan ujian. Tidak terjebak pada sikap berlebihan, tidak pula terjatuh pada sikap dan perilaku meremehkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang hidup dengan orang yang sudah mati/meninggal dunia.” (HR. Bukhari)

Hidup dengan cahaya iman akan memberikan semangat bagi hamba dalam menempuh perjalanan menuju negeri keabadian. Dia akan bergerak untuk mencari jalan-jalan keselamatan. Dia akan terdorong untuk menjauhi pintu-pintu yang menjerumuskan pada kehinaan. Dia menyadari bahwa kehidupan dunia ini sungguh singkat bila dibandingkan dengan kehidupan di alam akhirat. Untuk itulah seorang muslim menyerahkan dirinya kepada Allah; dia memurnikan ibadahnya kepada Allah, dia patuh kepada ajaran-Nya dan menjauhi segala bentuk syirik dan kekafiran.

Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Seorang ulama salaf bernama Fudhail bin Iyadh rahimahullah menafsirkan bahwa yang terbaik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas apabila murni karena Allah, dan benar jika sesuai dengan sunnah/ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah standar pokok untuk menilai baik tidaknya suatu amalan, bukan berlandaskan hawa nafsu dan perasaan manusia. 

Ketaatan kepada Allah artinya kita mengikuti kehendak Allah secara syar’i dan menundukkan akal kita kepada wahyu dan petunjuk-Nya. Oleh sebab itu Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan kehendak Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan kehendak Rasulullah.” Inilah yang menjadi syi’ar dan pedoman para ulama ahlus sunnah di sepanjang masa. Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah mengatakan, “Dan tidaklah akan kokoh pijakan Islam kecuali dia atas permukaan kepasrahan dan ketundukan…”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” beliau pun menjawab, “Barangsiapa menaatiku maka dia masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh dia telah enggan.” (HR. Bukhari)

Orang yang meniti jalan yang lurus adalah orang yang bertauhid, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan hidayah dari Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang diberi keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (al-An’aam : 82)

Asas segala kebaikan adalah pengetahuanmu bahwasanya apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa saja yang tidak Allah kehendaki tidak akan bisa terjadi. Pada saat itulah akan tampak jelas bahwa segala kebaikan bersumber dari nikmat-Nya sehingga kamu harus bersyukur atasnya. Kamu harus merendahkan diri dan memohon kepada-Nya jangan sampai Dia memutus nikmat itu darimu. Begitu pula, akan tampak jelas bahwa segala keburukan karena Allah tidak memperdulikan dan sebagai hukuman dari-Nya. Oleh sebab itu seharusnya kamu berdoa dan berlindung kepada-Nya agar Dia menjagamu dari terjerumus ke dalamnya dan supaya Allah tidak membiarkan kamu tanpa bantuan dalam melakukan kebaikan maupun meninggalkan keburukan. Semua orang yang arif sepakat bahwasanya segala kebaikan bersumber dari taufik Allah kepada hamba. Dan segala keburukan sumbernya adalah ketika Allah tidak memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka pun sepakat bahwa hakikat taufik itu adalah Allah tidak menyandarkan urusanmu kepada dirimu sendiri. Adapun khudzlan/diabaikan itu adalah tatkala Allah membiarkan kamu mengurus dirimu sendiri tanpa bantuan-Nya. Apabila semua kebaikan bersumber dari taufik, sementara ia ada di tangan Allah bukan di tangan hamba. Maka kunci untuk membukanya adalah dengan berdoa, merasa butuh di hadapan-Nya, memulangkan segala permasalahan kepada-Nya, dan senantiasa menyimpan harap dan takut kepada-Nya. Demikian keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (lihat al-Fawa’id, hal. 94 cet. Dar al-‘Aqidah)

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah berkata, “Kebutuhan seorang muslim terhadap hidayah menuju jalan yang lurus lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman adalah bekal untuknya dalam kehidupan dunia, sedangkan hidayah jalan yang lurus adalah bekalnya untuk negeri akherat. Oleh sebab itulah terdapat doa untuk memohon hidayah menuju jalan yang lurus ini di dalam surat al-Fatihah yang ia wajib untuk dibaca dalam setiap raka’at sholat; baik sholat wajib maupun sholat sunnah.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 114)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *