al-Mubarok

Iman Butuh Dipelihara

Bismillah.

Iman adalah perbendaharaan paling berharga dalam hidup. Tanpanya hidup tidak akan bahagia. Karena iman adalah modal untuk meraih surga. Akan tetapi iman itu bukan ucapan di lisan semata. Butuh keyakinan kuat dan amal perbuatan untuk menopangnya.

Para ulama menjelaskan, iman terdiri dari ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Iman bertambah dengan ketaatan serta berkurang karena maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang, yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu besar perhatian para ulama terhadap perkara iman, sampai-sampai dalam kitab-kitab hadits sering kita temui pembahasan khusus tentang iman seperti Kitab al-Iman atau Kitab at-Tauhid. Hal ini disebabkan perkara iman dan aqidah memiliki peran urgen dan mendasar dalam agama. Ia laksana pondasi sebuah bangunan. Karena tidak akan diterima amalan tanpa landasan iman.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang sebelum kamu; Apabila kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan kelak di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran : 85)

Dalam aqidah Islam, iman bukan semata-mata ucapan kalimat syahadat. Oleh sebab itu orang-orang munafik yang bersyahadat pun tidak dimasukkan dalam kelompok kaum beriman. Karena syahadat yang mereka ucapkan tidak dilandasi dengan iman dan kejujuran. Bahkan mereka di akhirat berada di kerak neraka yang paling bawah…

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan ataupun memperindah penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amal-amal perbuatan.”

Karena itulah kita dapati dalam sejarah, bahwa para ulama salaf/terdahulu sangat perhatian terhadap iman mereka. Diantara mereka berkata kepada temannya, “Ayo duduk sebentar bersama, mari kita perbaharui keimanan…” Ada juga yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan, dan kepahaman.”

Para ulama juga sangat keras dalam mengingkari berbagai kelompok atau aliran yang menyimpang dalam perkara iman, seperti kaum Murji’ah yang mereka menganggap bahwa dosa tidak mempengaruhi iman, dan bahwa iman itu cukup dengan keyakinan hati dan atau ucapan lisan.

Mereka pun menulis bantahan ilmiah untuk orang-orang yang menyimpang dalam hal iman. Seperti halnya kaum Murji’ah yang menganggap bahwa imannya pelaku dosa besar dengan imannya orang yang paling taat adalah sama, karena iman itu cukup dengan pembenaran di dalam hati. Atau bahkan menganggap bahwa iman cukup dengan pengetahuan/ma’rifah di dalam hati sebagaimana ma’rifah-nya Iblis.

Ada pula aliran sesat yang suka mengakfirkan kaum muslimin yaitu Khawarij. Mereka ini beranggapan bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa keluar darinya. Mereka terapkan ayat-ayat tentang orang kafir kepada orang-orang beriman. Mereka pun menumpahkan darah kaum muslimin sementara para pemuja berhala justru mereka biarkan…

Dari sinilah, kiranya penting dan sangat urgen bagi kaum muslimin untuk senantiasa belajar dan mengenali kaidah-kaidah agamanya. Agar mereka tidak mudah terbius dengan slogan-slogan kekafiran yang berkedok kebebasan berpikir dan kemajuan peradaban. Karena zaman ini penuh dengan fitnah/kerusakan dalam hal aqidah dan akhlak. Apabila seorang muslim tidak melindungi diri dengan perisai ilmu agama yaitu al-Kitab dan as-Sunnah dengan jalan pemahaman salafus shalih niscaya dia celaka.

Apabila dalam urusan dunia saja kita begitu perhatian -padahal dunia ini sifatnya sementara- bagaimana lagi dengan urusan di akhirat -padahal akhirat itu kekal abadi- maka sudah sewajarnya kita lebih perhatian.

Pada hari-hari ini manusia sangat perhatian dalam urusan kesehatan akibat serangan wabah virus Corona. Segala cara mereka tempuh agar selamat dan terhindar darinya. Semua kekuatan dan lini dikerahkan untuk menanggulanginya. Ini adalah gambaran betapa manusia sangat memperhatikan urusan hidup dan dunia mereka.

Maka tidaklah berlebihan jika semestinya kita -apalagi kita adalah muslim- untuk selalu dan terus-menerus menjaga aqidah dan keimanan kita dari segala hal yang bisa merusak, melukai bahkan menghancurkan iman dan tauhid kita. Semoga Allah beri taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk terus belajar dan menjaga iman dan ketaatan.

Penyusun : Redaksi al-mubarok.com

# Silahkan simak ceramah tentang ‘Hakikat Iman’ bersama Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah di sini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Nasihat Ulama

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas bagaimana keadaan seekor ikan apabila memisahkan dirinya dari air?” (al-Wabil ash-Shayyib)

    Kalender

    Agustus 2022
    S S R K J S M
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

      Jalan Menuju Surga

      Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) maka dengan sebab hal itu Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

      Tentang Kami

      Alamat sekretariat : Wisma al-Mubarok 1, Ngebel RT 07, barat Unires Putri UMY, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

      Telp/wa : 0853 3634 3030.

      Alamat e-mail : yapadijogja@gmail.com

      Mau E-Book?

      wallup.net