Bismillah.

Alhamdulillah, dakwah Islam hingga hari ini tetap tegak dibela oleh para ulama di berbagai penjuru dunia. Allah berikan taufik kepada mereka yang tulus hatinya untuk mengenal iman dan membangun loyalitas di atasnya. Sebab tiada yang lebih bagus daripada orang yang menyeru menuju Allah dan beramal salih, seraya dia menyatakan bahwa dirinya adalah bagian tak terpisahkan dari barisan kaum muslimin.

Islam -sebagaimana diterangkan para ulama- merupakan kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah keislaman yang mencakup ajaran setiap nabi dan rasul yang Allah utus di muka bumi ini. Mengajak kepada tauhid dan memberantas pemberhalaan.

Adalah sebuah keniscayaan apabila kita menghendaki kebaikan bagi sebuah negeri, untuk membangun pondasi iman dan ketakwaan. Iman yang berakar dari dalam hati dan diaplikasikan dalam kehidupan. Takwa yang mengendalikan hati dan anggota badan manusia untuk berjalan di atas petunjuk ar-Rahman. Iman dan takwa ini berporos pada pemurnian ibadah kepada Allah; yaitu tauhid.

Perjalanan hamba menuju Allah adalah perjuangan hati untuk tunduk dan mengindahkan aturan-aturan Rabbnya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidak pantas bagi seorang lelaki yang beriman dan perempuan yang beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka…” (al-Ahzab : 36)

Perubahan menuju kemajuan dan kebahagiaan adalah dambaan insan. Untuk mewujudkannya diperlukan bekal ilmu dan pemahaman terhadap agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena keutamaan ilmu itulah para ulama menjadi jajaran makhluk yang paling takut kepada Allah. Dengan keadilan dan ilmu mereka dijadikan sebagai saksi dalam seagung-agung persaksian. Para ulama menjadi pewaris para nabi. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa menimba ilmu dalam rangka menghidupkan ajaran Islam maka dia termasuk golongan shiddiqin; dan derajatnya setelah derajat kenabian.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Ilmu tidak bisa ditandingi oleh amal apapun, bagi orang yang lurus niatnya.” Kemudian orang-orang pun bertanya kepadanya bagaimana menjadikan lurusnya niat itu. Beliau menjelaskan, “Yaitu dia niatkan untuk mengangkat kejahilan dari dirinya dan orang lain.”

Kita seringkali menyalahkan pemimpin atau pemerintah ketika melihat berbagai kerusakan dan kezaliman, seolah-olah kita tidak punya andil dan saham dalam memperkeruh suasana dan menanam bibit petaka. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” (ar-Ra’d : 11)

Perbaikan kondisi umat ini harus kita awali dari diri kita masing-masing. Pemimpin punya tugas untuk menegakkan keadilan dan menunaikan hak-hak rakyat. Begitu pula sebaliknya, rakyat punya tugas untuk menasihati penguasa dengan cara yang hikmah dan menaati mereka dalam kebaikan.

Orang sangat kritis ketika mengorek aib pemerintah tetapi terhadap aibnya sendiri dia menutup mata. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah dia tampakkan di hadapan umum/secara terang-terangan…” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim)

Para ulama kita telah memperingatkan, bahwa diantara tanda Allah telah berpaling dari seorang hamba adalah ketika dia tersibukkan dengan hal-hal yang tidak penting/bukan urusannya. Berbicara di luar kapasitas dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah agama. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya…” (al-Israa’ : 36)

Semangat untuk memperbaiki kondisi bangsa adalah terpuji, tetapi semangat ini harus dibimbing dengan ilmu wahyu. Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada kebaikan kecuali telah ditunjukkan olehnya, dan tidak ada keburukan melainkan telah diperingatkan umat ini darinya. Hakikat ilmu yang menjadi panduan hidup kita adalah apa yang telah diyakini dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini. Sebab Allah telah ridha kepada mereka dan kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan/baik.

Ingatlah, nasihat sebagian salaf, “Wajib bagimu untuk mengikuti jalan kebenaran dan jangan risau karena sedikitnya orang yang meniti jalan ini, dan jauhilah jalan-jalan kebatilan; dan jangan kamu terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa/menyimpang.”

Betapa banyak orang yang telah membaca al-Qur’an dan mengkhatamkannya, tetapi tidak jarang mereka lalai dari merenungkan serta mematuhi petuah dan bimbingannya. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak melampaui kerongkongannya. Perumpamaan mereka seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Mereka mengimani sebagian tetapi mengingkari/tidak setuju dengan sebagian yang lain.

Kita mungkin lupa, bahwa hakikat ilmu yang bermanfaat bukanlah banyaknya data yang tersimpan dalam memori/hafalan riwayat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Ilmu adalah apa-apa yang di dalamnya dilandasi dengan ucapan qoola (Allah berfirman) dan haddatsanaa (Nabi bersabda).” Allah berfirman (yang artinya), “Maka jika kalian berselisih tentang suatu perkara kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…” (an-Nisaa’ : 59)

Ilmu ini bukan sarana untuk menebar arogansi dan menerjang etika. Karena itulah para ulama terdahulu dalam sebagian keadaan mengatakan, “Kita saat ini lebih butuh kepada adab walaupun sedikit, daripada banyaknya ilmu semata.” Benarlah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa akan datang suatu masa yang mana orang yang berpegang-teguh dengan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.

Banyak orang di zaman ini menganggap aksi mengobral aib penguasa sebagai hal yang wajar dan bukan dosa. Seolah ia sedang menikmati lezatnya kuliner bangkai saudaranya yang sudah mati. Atas nama demokrasi dan hak asasi maka perintah dan aturan agama dikesampingkan, wal ‘iyaadzu billaah

Benar bahwa kezaliman harus ditumpas. Akan tetapi cara menumpasnya bukan dengan mengekor hawa nafsu dan perasaan jumhur netizen. Sebab menaati kebanyakan manusia di atas muka bumi justru lebih banyak menyeret bani Adam menuju jurang kesesatan yang sangat mengerikan. Kebenaran ini diukur dengan wahyu Rabb kita, bukan dengan menghamba kepada kehendak manusia yang menyimpang dari petunjuk-Nya.

Jangan anda gadaikan agama ini hanya demi mengais-ngais ceceran kenikmatan yang sedikit, fana lagi menipu. Jangan sampai Allah palingkan hati kita kepada kedurhakaan dan tidak mau bertaubat darinya. Mereka mengira mendapat petunjuk, padahal sesungguhnya mereka tenggelam dalam kesesatan. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah Kami kabarkan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia/tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira telah berbuat sesuatu dengan sebaik-baiknya…” (al-Kahfi : 103-104). Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum Khawarij dan orang-orang yang tenggelam dalam kebid’ahan ataupun kesyirikan.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *