Kebutuhan Belajar Aqidah

Bismillah.

Aqidah merupakan perkara-perkara yang diyakini oleh seorang muslim. Di atas aqidah inilah dia membangun agamanya. Amal dan ibadah kepada Allah hanya akan diterima apabila ditegakkan di atas aqidah yang benar. Oleh sebab itulah para ulama dari masa ke masa senantiasa memberikan perhatian besar kepada ilmu aqidah.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun lebih di Mekah memberikan perhatian pokok dalam hal aqidah, sebagai bentuk perhatian kepada perkara paling mendasar di dalam bangunan agama Islam. Ini tentu saja berjalan mengikuti petunjuk dan bimbingan dari Allah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara bedasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Bagi seorang muslim perkara aqidah bukan perkara sepele. Aqidah inilah yang terangkum dengan indah di dalam dua kalimat syahadat. Kalimat laa ilaha illallah mengandung aqidah tauhid kepada Allah. Pemurnian ibadah dengan segala bentuknya kepada Allah dan menolak berbagai bentuk syirik dalam ucapan dan perbuatan. Kalimat Muhammad rasulullah mengandung aqidah risalah; yaitu wajibnya mengimani dan tunduk kepada ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah kepada segenap manusia.

Dari sinilah kita mengetahui bahwa mempelajari aqidah adalah kebutuhan asasi setiap muslim. Apabila dia ingin memahami agama ini dengan benar maka wajib baginya untuk belajar aqidah sebelum mendalami perkara-perkara yang lain. Karena aqidah laksana pondasi dalam sebuah bangunan dan ibarat akar dalam sebuah pohon. Tanpa aqidah tauhid maka segala bentuk amal kebaikan akan tertolak dan musnah di hadapan Allah.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Apabila kamu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Apabila syirik mencampuri suatu ibadah maka ibadah itu menjadi rusak sebagaimana halnya hadats apabila menimpa pada thaharah. Dengan demikian memperbaiki tauhid adalah misi utama dakwah para nabi dan rasul.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (al-Anbiya’ : 25)

Syirik merupakan bentuk kezaliman yang paling berat. Karena orang yang berbuat syirik telah menujukan ibadah kepada selain Allah; sesuatu yang tidak pantas untuk disembah. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (al-Maidah : 72)

Dalil-dalil ini dengan jelas menunjukkan kepada kita betapa penting kedudukan aqidah bagi setiap muslim. Adalah mustahil seorang bisa selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga kecuali dengan merealisasikan tauhid di dalam kehidupannya.. Maka sungguh bahagia bagi orang yang Allah berikan taufik untuk mengenali tauhid ini dan mengamalkannya dengan benar di dalam hidupnya. Inilah kunci kebahagiaan dan jalan keselamatan yang paling utama; yang akan mengantarkan menuju kebahagiiaan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana mungkin seorang akan menjadi baik agamanya apabila dia tidak perhatian dalam hal aqidah dan tauhidnya. Bagaimana mungkin seorang hamba akan bisa merasakan lezatnya iman apabila dia membangun aqidahnya di atas kemusyrikan dan pemujaan kepada hawa nafsu dan tradisi manusia. Aqidah Islam adalah aqidah yang turun dari langit, ia bukan rekayasa pemikiran manusia. Dia datang dari wahyu yang terpelihara. Aqidah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada para nabi dan rasul. Aqidah yang membimbing manusia untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki dengan iman dan amal salih.

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan; Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.

Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kamu yang telah Allah muliakan dengan Islam. maka kapan saja kami mencari kemuliaan bukan dengan cara-cara Islam niscaya Allah akan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.”

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengenali dan mengamalkan aqidah tauhid.

Redaksi www.al-mubarok.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.