Dampak Kelalaian

Bismillah.

Allah berfirman :

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu menaati orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dan dia lebih memperturutkan hawa nafsunya sehingga urusannya dalam keadaan melampaui batas.” (al-Kahfi : 28)

Diantara pelajaran yang terkandung dalam ayat ini adalah pentingnya mengingat Allah dan mengikuti petunjuk al-Qur’an. Karena tafsiran kalimat ‘dari mengingat Kami’ dalam ayat ini mencakup dzikir dari manusia terhadap Allah dan dzikir/peringatan yang Allah turunkan. Apabila dibawa kepada makna pertama maka maksudnya adalah orang yang hanya berdzikir dengan lisannya tetapi tidak disertai dengan hati. Adapun menurut pemaknaan kedua maka artinya adalah orang yang dipalingkan hatinya dari al-Qur’an dan tidak mau mengikuti ajarannya (lihat Tafsir Surat al-Kahfi oleh Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, sumber : https://shamela.ws/book/550/58#p1)

Ayat ini juga mengandung faidah bahwa orang/guru yang pantas untuk dijadikan sebagai panutan dan teladan adalah orang yang menjaga dzikirnya kepada Allah dan mampu menundukkan hawa nafsunya kepada petunjuk dan bimbingan Allah. Adapun orang yang selalu lalai, tidak rajin berdzikir kepada Allah, berpaling dari al-Qur’an serta senantiasa mengedepankan hawa nafsu, maka yang demikian itu tidak layak untuk dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan (lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam al-Wabil ash-Shayyib, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam rubrik Fawa’id Mukhtasharah di situs resmi beliau, sumber : https://al-badr.net/muqolat/6269)

Ayat yang agung ini juga menunjukkan bahwa keberkahan pada diri seorang hamba adalah dengan menghadirkan hati saat berdzikir. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :

وأن الإنسان الذي يذكر الله بلسانه لا بقلبه تنْزَع البركة من أعماله وأوقاته حتى يكون أمره فُرطا عليه، تجده يبقى الساعات الطويلة ولم يحصل شيئاً، ولكن لو كان أمره مع الله لحصلت له البركة في جميع أعماله

“Sesungguhnya seorang insan yang berdzikir kepada Allah dengan lisannya saja tanpa hadirnya hati maka akan tercabut keberkahan dari amal dan waktunya sampai-sampai urusannya menjadi melampaui batas/kacau. Anda dapati ia melalui waktu yang panjang tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Akan tetapi seandainya urusannya itu bersama bimbingan Allah niscaya tercapai keberkahan dalam segala amalnya.” (lihat Tafsir Surat al-Kahfi, sumber : https://shamela.ws/book/550/58#p1)

Saudaraku yang dirahmati Allah, ini menjadi pelajaran dan nasihat bagi kita semua; bahwa kita selalu membutuhkan bantuan dan bimbingan Allah. Salah satu kunci utama untuk mendapatkannya adalah dengan menjaga dzikir kepada Allah, dzikir lisan yang disertai dengan hadirnya hati. Karena dzikir yang paling utama adalah yang selaras antara apa yang diucapkan dengan lisan dengan apa yang ada di dalam hati.

Tidakkah kita memperhatikan keadaan orang-orang munafik yang lisannya juga mengucapkan dzikir yang paling utama yaitu laa ilaha illallah; tetapi bersamaan dengan itu hati mereka tidak membenarkannya, tidak jujur dengan apa yang mereka ucapkan. Mereka mengucapkan dengan lisannya apa-apa yang tidak tertanam di dalam hatinya. Oleh sebab itu syahadat mereka sia-sia…

Dari sinilah, kita bisa mengerti bahwa sesungguhnya di dalam doa yang kita baca ‘Allahumma a’inni ‘ala dzkrika…’ yang artinya, “Ya Allah bantulah aku untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu…” telah tercakup di dalamnya hadirnya hati dalam berdzikir. Kita memohon pertolongan dari Allah agar diberi hati yang hadir saat membaca kalimat-kalimat dzikir. Karena dengan hadirnya hati itulah bacaan dzikir semakin bermanfaat dan memberikan pengaruh positif dalam gerak-gerik kehidupan kita… Wallahul muwaffiq.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Tinggalkan komentar