al-Mubarok

Persaksian Teragung

Bismillah.

Di dalam al-Qur’an, Allah berfirman (yang artinya), “Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Dia, bersaksi pula para malaikat dan orang-orang berilmu; demi tegaknya keadilan. Tiada ilah yang benar selain Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali ‘Imran : 18)

Di dalam ayat yang mulia ini Allah mengiringkan persaksian para ulama dengan persaksian para malaikat dalam persaksian yang paling agung dan paling mulia yaitu persaksian mengenai keesaan Allah/tauhid (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi, hal. 79)

Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan : Ini merupakan pemuliaan bagi ahli ilmu/ulama tatkala Allah menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian-Nya subhanahu wa ta’ala dan persaksian para malaikat-Nya… Dan yang dimaksud ahli ilmu di sini adalah ahli ilmu syar’i/pemilik ilmu agama… (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh beliau, hal. 164-165)

Dalam rangka menyerukan kalimat tauhid inilah Allah mengutus para rasul di muka bumi. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu -Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiya’ : 25)

Begitu pula dakwah Nabi ‘Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya (Bani Isra’il). Allah menceritakan perkataan beliau (yang artinya), “Wahai Bani Isra’il sembahlah Allah; Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong.” (al-Ma’idah : 72)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut…” (an-Nahl : 36). Makna dari ayat ini adalah : beribadahlah kepada Allah semata dan tinggalkan ibadah kepada selain-Nya. Inilah kandungan dari kalimat laa ilaha illallah (lihat Fath al-Majid, hal. 44-45)

Aqdah tauhid inilah yang juga telah diserukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika mendakwahi kaumnya. Allah berfirman mengisahkan perkataan beliau (yang artinya), “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa-apa yang kalian sembah; kecuali [Allah} Yang menciptakanku.” (az-Zukhruf : 26-27)

Aqidah tauhid ini pula yang disebarkan kembali oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya aku telah diberikan petunjuk oleh Rabbku menuju jalan yang lurus; yaitu agama yang tegak/lurus dan millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan bukanlah dia/Ibrahim termasuk golongan orang-orang musyrik.” (al-An’am : 161)

Hakikat millah/ajaran Ibrahim adalah beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya. Yang dimaksud memurnikan agama untuk Allah adalah menjauhi syirik. Karena ibadah yang tercampuri syirik akan batal/sia-sia; maka tidaklah ibadah itu benar/diterima kecuali apabila bersih dari syirik besar maupun syirik kecil (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh al-Qawa’id al-Arba’ yang dicetak dalam Syarh Rasa’il al-Imam, hal. 189)

Aqidah tauhid inilah yang diwahyukan kepada para para nabi dan rasul. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertauhid maka amalnya tidak akan diterima, dosanya tidak diampuni dan dia akan menetap selamanya di dalam siksa neraka. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (an-Nisaa’ : 48)

Dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan berdoa/beribadah kepada sesembahan/tandingan selain Allah maka dia masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Shalih alu Syaikh menerangkan bahwa yang dimaksud ‘masuk neraka’ dalam hadits tersebut adalah sebagaimana keadaan orang kafir sehingga dia akan kekal di dalamnya. Seorang muslim yang terjerumus dalam perbuatan syirik besar maka semua amalnya terhapus karenanya walaupun dia sebelumnya adalah orang yang paling salih (lihat at-Tamhid, hal. 54)

Imam Nawawi mengatakan : Adapun masuknya orang musyrik ke dalam neraka maka hal itu berlaku sebagaimana keumumannya, bahwa dia akan masuk ke neraka dan kekal di dalamnya. Tidak ada bedanya apakah dia ahli kitab, Yahudi atau Nasrani, atau pemuja berhala dan seluruh kelompok kaum kafir… (lihat Syarh Muslim, 2/168)

Barangsiapa yang memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah maka dia telah kufur/berbuat kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Seandainya seorang melakukan ruku’ atau sujud kepada selain Allah dan dia mengagungkannya sebagaimana pengagungan kepada Allah dalam hal ruku’ dan sujud ini maka dia menjadi musyrik (lihat al-Qaul al-Mufid, 1/76)

Oleh sebab itulah Syaikh Muhammad at-Tamimi menegaskan dalam risalah al-Qawa’id al-Arba’ bahwa ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah -yang benar- kecuali apabila disertai dengan tauhid. Maksudnya apabila seorang menujukan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah -walaupun dia juga menyembah Allah- maka dia pun berubah menjadi musyrik dan kafir; sebagaimana hal itu juga beliau tegaskan dalam risalah al-Ushul ats-Tsalatsah.

Dalil kaidah ini bersumber dari al-Qur’an. Allah berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang menyeru/berdoa bersama dengan Allah ada sesembahan yang lain dan hal itu jelas tidak dilandasi bukti yang gamblang dan kuat maka sesungguhnya hisabnya ada di sisi Rabbnya, sesungguhnya tidaklah beruntung orang-orang yang kafir itu.” (al-Mu’minun : 117)

Dari sini pula kita bisa memahami bahwa kalimat laa ilaha illallah harus disertai dengan sikap pengingkaran kepada sesembahan selain Allah alias menjauhi segala bentuk syirik. Tidak cukup mengucapkan laa ilaha illallah apabila pelakunya justru menyetujui atau bahkan melakukan perbuatan syirik. Dalilnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah dan mengingkari segala sesembahan selain Allah maka terjagalah harta dan darahnya, sedangkan hisabnya urusan Allah.” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu barangsiapa yang beribadah kepada Allah tetapi dia juga beribadah kepada selain Allah maka ibadahnya itu batil/tidak diterima. Dia beribadah atau tidak itu sama saja. Karena ibadah tidak berguna tanpa adanya tauhid dan keikhlasan. Apabila ibadah tercampuri syirik maka ibadah itu pun rusak/sirna. Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amal yang dahulu pernah mereka lakukan.” (al-An’am : 88) (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 52-53)

Demikian sekelumit catatan yang Allah mudahkan bagi kami untuk mengumpulkannya, alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wallahul muwaffiq.

Perpustakaan al-Mubarok,

Malam Ahad 18 Syawwal 1442 H


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Ikut Beramal Yuk!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI

    Nasihat Ulama

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas bagaimana keadaan seekor ikan apabila memisahkan dirinya dari air?” (al-Wabil ash-Shayyib)