al-Mubarok

Tanda Kebahagiaan Hamba

Bismillah.

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pedoman bagi manusia untuk bisa meraih kebahagiaan. Oleh sebab itu Allah mengatakan (yang artinya), “Tidaklah Kami turunkan al-Qur’an ini kepadamu supaya kamu celaka.” (Thaha : 2)

Kunci kebahagiaan itu ada pada mengikuti petunjuk Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Mengikuti al-Qur’an hanya bisa terwujud ketika seorang muslim memahami agama Islam. Karena Islam inilah satu-satunya agama yang Allah ridhai. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran : 85)

Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkat kesadaran inilah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Kami adalah sebuah kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan agama Islam ini. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selainnya pasti Allah akan menghinakan kami.” (HR. Hakim dalam al-Mustadrak)

Dengan mengikuti Islam dan mengamalkan al-Qur’an maka umat akan meraih kejayaan dan mendapatkan kebahagiaan hakiki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan sebab Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan kaum-kaum yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim)

Mereka yang mengikuti al-Qur’an akan mendapatkan petunjuk dan keselamatan. Sementara mereka yang berpaling darinya dan menolak ajarannya akan hidup dalam kesengsaraan. Tidaklah para sahabat menjadi generasi terbaik umat ini kecuali karena mereka adalah orang-orang yang berpegang-teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka beriman bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan penguasa alam ini…

Mereka beriman bahwa Allah sat-satunya sesembahan yang benar…

Mereka beriman bahwa Allah memiliki nama-nama terindah dan sifat-sifat yang maha tinggi….

Mereka membenarkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mereka tunduk melaksanakan perintah-perintahnya…

Mereka menjauhi larangan-larangannya…

Mereka berhukum dengan syari’at dan hukum-hukum-Nya…

Mereka beribadah kepada Allah dengan sunnah/tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mereka mempelajari al-Qur’an itu dan mengajarkannya…

Mereka berilmu dan mengamalkannya…

Mereka menjunjung tinggi wahyu di atas akal dan perasaannya…

Mereka jauhi segala bentuk syirik kepada Allah

Mereka tinggalkan khurafat, bid’ah dan pemikiran sesat…

Apabila mereka diberi nikmat, mereka pun mensyukurinya…

Apabila mereka diberi cobaan atau musibah maka mereka bersabar menghadapinya…

Apabila terjerumus dalam dosa maka mereka beristighfar dan bertaubat darinya…

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3)

Mereka menghiasi hidupnya dengan iman dan menjauhkan diri dari segala bentuk kezaliman. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik) maka mereka itulah orang-orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (al-An’am : 82)

Sebaliknya, orang yang mengisi umurnya dengan syirik dan kekafiran maka amalnya akan sia-sia, capek dan lelah bertambah dengan petaka siksa api neraka. Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Apabila kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang pun penolong.” (al-Ma’idah : 72)

Mereka tujukan ibadahnya kepada Allah semata. Dalam rangka menjalankan peirntah Allah (yang artinya), “Dan Rabbmu telah memerintahkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya…” (al-Israa’ : 23)

Inilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setiap insan mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya; apa pun bentuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Allah tidak ridha apabila dipersekutukan dengan-Nya siapa pun dal hal ibadah kepada-Nya, apakah itu malaikat ataupun nabi. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (al-Jin : 18)

Ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik, inilah tujuan hidup setiap kita dan jalan untuk meraih hidup bahagia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-dzariyat : 56)

Demikian sedikit catatan semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 10 Jumadal Ula 1442 H / 25 Des 2020


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Sambut Ramadhan

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI