al-Mubarok

Tentu Tidak Sama

Bismillah.

Keesaan Allah adalah perkara yang bersifat mendasar di dalam agama Islam. Hal ini menjadi landasan pokok bagi keimanan dan amal ketaatan. Keesaan Allah ini sering disebut oleh para ulama dengan tauhid. Secara lebih khusus tauhid diartikan dengan pengesaan Allah dalam hal ibadah.

Banyak sekali ayat dan hadits yang menunjukkan wajibnya memurnikan ibadah kepada Allah dan alasan-alasan kuat untuk mewujudkan tauhid itu. Hal itu tidak mengherankan, karena sesungguhnya diciptakannya jin dan manusia serta diutusnya para rasul adalah untuk menegakkan ajaran tauhid. Wajibnya menujukan ibadah kepada Allah dan menjauhi segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Inilah pondasi agama Islam.

Dalam menjelaskan tauhid, al-Qur’an memiliki banyak metode dan cara. Salah satunya adalah dengan mengungkapkan kemuliaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Bahwa tidak ada yang serupa dan setara dengan-Nya, sehingga tiada yang bisa menandingi-Nya. Tidak ada yang bisa menciptakan langit dan bumi selain Allah. Tidak ada yang memberikan rezeki kecuali Allah.

Allah berfirman (yang artinya), “Apakah Yang menciptakan itu sama dengan yang tidak menciptakan.” (an-Nahl : 17)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun.” (asy-Syura : 11)

Allah berfirman (yang artinya), “Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu/sesembahan tandingan.” (al-Baqarah : 22)

Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia. Kalian semua adalah fakir/sangat butuh kepada Allah, sedangkan Allah Dia Mahakaya lagi Mahaterpuji.” (Fathir : 15)

Allah berfirman (yang artinya), “Apa pun yang Allah bukakan untuk manusia dari rahmat-Nya maka tidak ada seorang pun yang bisa menahannya. Dan apa pun yang Allah tahan maka tiada yang bisa melepaskannya sesudah-Nya, dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir : 2)

Allah berfirman (yang artinya), “Itulah Allah Rabb kalian; milik-Nya seluruh kerajaan. Dan apa-apa yang kalian seru/sembah selain-Nya tidak menguasai apapun walaupun hanya setipis kulit ari.” (Fathir : 13)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Maka tidak ada pendidikan tauhid yang lebih baik daripada pendidikan yang telah dijelaskan di dalam al-Qur’an. Sampai-sampai dikatakan oleh sebagian ulama bahwa pada hakikatnya semua bagian dari al-Qur’an itu mengupas tentang tauhid. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim dan disepakati pula oleh Imam Ibnu Abli Izz al-Hanafi rahimahumallah.

Semoga sedikit catatan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penyusun : Redaksi al-mubarok.com

Referensi :

at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, Shalih alu Syaikh

at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala ath-Thahawiyah, Shalih al-Fauzan

Majmu’ Tafsir Ayat minal Qur’an, Abdul Aziz bin Baz

Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Prioritas Dakwah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI