al-Mubarok

Menuntut Ilmu

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bagi seorang muslim menuntut ilmu adalah sebuah kebutuhan yang sangat mendasar. Setiap orang dalam kehidupannya selalu memperhatikan apa-apa yang dia butuhkan. Diantaranya adalah kebutuhan pada makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Oleh sebab itu kita lihat banyak orang rela bekerja keras membanting tulang pergi pagi pulang petang untuk mencari sesuap nasi untuk anak dan istri. Hal itu menunjukkan betapa besar kebutuhan manusia kepada makanan dan minuman. Nah, sesungguhnya kebutuhan kita kepada ilmu agama jauh lebih besar dan lebih mendesak daripada hal itu. Mengapa demikian?

Sebab kehidupan kita di alam dunia ini adalah sebuah medan untuk beramal salih. Kita akan diuji oleh Allah siapakah diantara kita yang terbaik amalannya. Siapakah diantara kita yang mau beriman dan siapa yang justru memilih jalan kekafiran. Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang paling bagus amalnya.” (al-Mulk : 2)

Hidup di alam dunia ini ada tujuannya, dan bukan untuk kesia-siaan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Beribadah kepada Allah adalah dengan melakukan amal salih tanpa dicamppuri dengan kesyirikan kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Untuk melakukan amal salih dan untuk menghindari dari dosa syirik seorang muslim membutuhkan ilmu agama. Dengan ilmu itulah kita akan bisa mengetahui bagaimanakah cara yang benar dalam melakukan amal salih dan beribadah kepada Allah. Sebab ibadah kepada Allah itu harus mengikuti ketentuan dan perintah dari Allah, bukan sembarangan mengikuti hawa nafsu, perasaan, dan pemikiran manusia. Di sinilah kita membutuhkan ilmu agama itu. Karena jika kita beribadah kepada Allah tanpa ilmu bisa jadi amalan kita justru ditolak oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka itu pasti tertolak.” (HR. Muslim). Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa bersikap sederhana dalam mengikuti tuntunan/sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan/bid’ah.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa amalan yang terbaik bukanlah amalan yang paling banyak. Akan tetapi amalan yang paling baik adalah yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Amal itu dikatakan ikhlas kalau bersih dari syirik. Amal itu murni karena Allah, karena menjalankan perintah-Nya, karena mengharap pahala dari-Nya, bukan karena ingin dipuji orang atau mencari imbalan jasa. Dan amalan itu dikatakan benar jika sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itulah kaum muslimin yang dirahmati Allah kita butuh ilmu agama ini setiap saat dan di mana pun kita berada. Tanpa ilmu agama kita tidak bisa membedakan antara ikhlas dan tidak, dan mana yang sesuai tuntunan dengan mana yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.

Kalau orang ingin sukses dalam kehidupan dunia tentu orang akan mencari ilmunya, maka begitu pula siapa saja yang ingin sukses di akhirat sudah seharusnya dia juga mempelajari ilmunya. Kehidupan kita di dunia ini hanya sementara. Orang Jawa bilang ‘urip ki mung mampir ngombe’, hidup ini seperti orang yang singgah untuk minum seteguk air saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bahwa hidup di dunia itu seperti orang yang menempuh perjalanan jauh lalu berteduh di bawah sebatang pohon lalu pergi meninggalkannya. Setelah kehidupan dunia ini akan ada kematian dan hari kebangkitan serta pembalasan amal. Barangsiapa yang dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh dia telah menang.

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan benar-benar Kami akan membalas mereka dengan balasan untuk mereka yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka amalkan.” (an-Nahl : 97)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Ibnu ‘Abbas seorang sahabat nabi dan ahli tafsir mengatakan, “Allah memberikan jaminan bagi siapa pun yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya maka dia tidak akan tersedat di dunia dan tidak celaka di akhirat.” Sementara ilmu yang paling penting dan paling wajib dipelajari di dalam al-Qur’an adalah ilmu mengenai tauhid; yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Menujukan ibadah kepada Allah semata dan menjauhi syirik. Itulah yang terkandung dalam ayat yang senantiasa kita baca dalam sholat ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ artinya, “Hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Prioritas Dakwah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI