al-Mubarok

Orang Bahagia

Bismillah.

Tidak sedikit orang yang keliru dalam menafsirkan bahagia. Mereka membatasi bahagia hanya dalam urusan dunia. Karena itu lah yang tampak dalam pandangan mereka.

Itulah sifat orang-orang kafir, yang hanya mengetahui apa-apa yang tampak dari kehidupan dunia, sementara dalam hal akhirat mereka melalaikan. Dan ini adalah sifat yang tercela.

Orang beriman tidak bisa melepaskan cara pandangnya dari dalil wahyu yang Allah turunkan. Karena wahyu itu adalah bimbingan untuk menjalani kehidupan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Di dalam Islam kebahagiaan itu diperoleh dengan sebab iman dan amal salih. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan benar-benar Kami akan berikan kepada mereka balasan dengan pahala yang lebih baik daripada amal yang mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)

Kebahagiaan di dunia berupa ketenangan hati dan kelapangan dada, hanya bisa diperoleh dengan sebab iman dan amal salih. Karena dengan ingat kepada Allah dan beribadah kepada-Nya hati menjadi tentram. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tenang hati mereka dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (ar-Ra’d : 28)

Sa’id bin Jubair rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat dzikir kepada Allah adalah dengan taat kepada-Nya. Dalam kesempatan lain, beliau juga menafsirkan bahwa hakikat ibadah itu adalah ketaatan. Dengan mudah bisa kita simpulkan bahwa dzikir adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah kepada-Nya, dan itulah yang menjadi sebab ketenangan hati.

Dengan begitu kebutuhan hati kepada dzikir dan ibadah adalah kebutuhan yang sangat besar dan urgen. Lebih besar daripada kebutuhan fisik kepada makanan dan minuman, karena dzikir merupakan sebab hidupnya hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)

Dari sini, kita bisa memahami orang yang akan merasakan ketenangan adalah mereka yang taat kepada Allah dan ingat kepada-Nya. Taat kepada Allah dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ingat kepada Allah membuat mereka selalu bersandar kepada-Nya tidak kepada selain-Nya. Sehingga hatinya pun tenang, karena Allah semata yang merajai alam semesta dengan segala isinya.

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Kebahagiaan itu di tangan Allah, dan tidak bisa digapai kecuali dengan taat kepada Allah.”

Orang yang taat kepada Allah adalah orang yang tunduk kepada-Nya dan mengenal Allah dengan sebenarnya. Dia lakukan apa-apa yang membuat Allah ridha, dan dia jauhi apa-apa yang membuat Allah murka. Hatinya merendah kepada Allah dengan disertai puncak kecintaan dan pengagungan. Hatinya fokus menghamba kepada Allah dan berpaling dari segala bentuk pujaan/sesembahan selain Allah….

Dengan demikian kebahagiaan itu tidak bisa diraih kecuali dengan ikhlas dan tawakal kepada Allah. Dan ia tidak bisa dicapai kecuali dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku niscaya masuk surga…” (HR. Bukhari). Allah pun telah berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang taat kepada Rasul itu sungguh dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisa’ : 80)

Sehingga kebahagiaan itu sederhana, taat kepada Rasul itulah kuncinya. Akan tetapi untuk mewujudkan ketaatan dibutuhkan ilmu dan perjuangan. Ilmu sebelum berkata dan beramal. Perjuangan untuk menundukkan hawa nafsunya agar mengikuti bimbingan agama. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa barang dagangan Allah itu mahal, yaitu surga… Dan untuk meraih surga butuh perjuangan dan kesabaran…

Semoga yang singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Prioritas Dakwah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI