al-Mubarok

Membaca Sejarah Munculnya Syirik

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad; mereka semua berada di atas tauhid.”

Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam; ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang salih dan membuat gambar-gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya mereka pun menyembah patung dan gambar-gambar itu. Maka Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula datang para rasul sesudahnya dengan membawa misi yang sama (lihat I’anatul Mustafid, 1/5)

Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah (yang artinya), “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (al-Baqarah : 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama (lihat Ma’alim at-Tanzil, hlm. 118)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, beliau berkata : Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syari’at kebenaran, lalu mereka pun berselisih, maka Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 1/327 cet. At-Taufiqiyah)

Penafsiran serupa -yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh- juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun; mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1/209)

Demikian pula penafsiran yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama; yaitu Islam (lihat al-Qaul al-Mufid, 1/235 cet. Maktabah al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an al-Karim, 2/84,87)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang salih. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang salih (lihat Ibthal at-Tandid, hlm. 112)

Sikap berlebih-lebihan kepada orang salih ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang salih. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada/bid’ah yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’ (lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah dalam al-Qaul al-Mufid, 1/235)

Demikianlah akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa suatu hari Ummu Salamah radhyiallahu’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya- tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Orang-orang itu apabila apabila ada seorang salih atau hamba yang salih meninggal diantara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat kepada Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu -Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (al-Anbiya’ : 25)

Allah berfirman pula (yang artinya), “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Pada masa jahiliyah -sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam– kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang salih, malaikat, dsb. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun I’tikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik (lihat al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, hlm. 7)

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian -yang benar- hanyalah satu sesembahan Yang Mahaesa, maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.” (al-A’raf : 158)

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus engkau -Muhammad- kecuali untuk seluruh manusia.” (Saba’ : 28)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka -umat-umat yang lain- menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa (lihat at-Taudhihat al-Kasyifat ‘ala Kasyfi asy-Syubuhat karya Syaikh Muhammad al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62)

Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengeluk-elukkan syirik dan pemberhalaan!


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Prioritas Dakwah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI