al-Mubarok

Menolak Ujub dan Riya’

Bismillah.

Setiap hari kita membaca surat al-Fatihah. Di dalamnya terdapat resep untuk menghancurkan dua penyakit hati yang ganas. Dua penyakit hati itu adalah ujub dan riya’.

Ujub artinya seorang merasa kagum dengan dirinya, merasa hebat, merasa lebih unggul dari yang lainnya. Ujub adalah termasuk bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Adapun riya’ adalah seorang melakukan amal karena mengharapkan sanjungan dan pujian orang lain. Oleh sebab itu orang yang riya’ suka ‘memamerkan’ amalannya agar dilihat orang. Berbeda dengan orang yang ikhlas, dia lebih senang untuk menyembunyikan amalnya -selama itu memungkinkan- agar hatinya selamat dari kotoran.

Sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Orang yang ikhlas itu menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan keburukan-keburukannya.”

Orang yang riya’ -sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Taimiyah- pada hakikatnya telah mempersekutukan Allah dengan makhluk. Dia telah melakukan syirik dalam hal niat dan tujuan amal. Syirik semacam ini walaupun pada asalnya termasuk syirik kecil, tetapi ia bisa berubah menjadi syirik besar sebagaimana riya’nya kaum munafik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah ta’ala berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya antara Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia bersama syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Amal salih adalah amal yang sesuai tuntunan, sedangkan ‘tidak mempersekutukan Allah’ artinya amalan itu ikhlas. Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas untuk-Nya. Sebesar apapun amalan apabila tidak disertai keikhlasan maka sia-sia.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan, lalu Kami menjadikannya bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)

Penyakit riya’ akan bisa terobati apabila kita melaksanakan kandungan dari kalimat iyyaka na’budu; hanya kepada-Mu Ya Allah kami beribadah. Ini adalah resep untuk mengobati riya’. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan niat dalam beramal. Inilah perintah paling agung. Allah berfirman (yang artinya), “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36)

Inilah hak Allah yang paling wajib ditunaikan oleh setiap hamba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas segenap hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyakit ujub akan bisa diobati dengan mewujudkan kandungan dari kalimat iyyaka nasta’in; hanya kepada-Mu Ya Allah kami meminta bantuan. Kita menyandarkan hati kepada Allah semata karena Dia lah yang menguasai alam semesta, langit dan bumi beserta segenap isinya. Tidak ada satu pun nikmat yang ada pada kita melainkan itu datangnya dari Allah. Maka tidak sepantasnya seorang membanggakan diri di hadapan Rabbnya. Sebagaimana tidak sepantasnya seorang menyombongkan diri di hadapan manusia.

Seorang muslim merendahkan dirinya di hadapan Allah dan tawadhu’ kepada manusia. Dia memurnikan amalnya untuk Allah, bukan untuk mencari imbalan atau ucapan terima kasih dari manusia. Dia berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri dan masyarakat, bukan untuk mengejar ketenaran dan mengeruk kepentingan duniawi yang hina.

Semoga Allah bersihkan hati kita dari sifat ujub dan riya’. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penyusun : Redaksi al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Ikut Beramal Yuk!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI