al-Mubarok

Sebuah Perjalanan

pohon

Percayalah, bahwa hidup ini adalah perjalanan. Itulah mengapa kita selalu memohon kepada Allah petunjuk kepada jalan yang lurus. Tidak lain karena hidup ini adalah perjalanan. Banyak pilihan yang ditawarkan kepada kita, namun jalan yang benar adalah jalan yang mengantarkan ke surga. Adapun selain itu adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam lembah neraka.

Al-Qur’an telah menunjukkan kepada kita jalan-jalan kebaikan. Jalan-jalan yang mengantarkan kepada keselamatan di dunia dan di akhirat. Demikian pula As-Sunnah, membimbing umat manusia kepada kebahagiaan dan kemuliaan. Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah Allah pilih untuk menjumpai masa kenabian. Kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka belajar dan mengambil ilmu dan keteladanan.

Jalan yang lurus ini dibentangkan oleh Allah bagi mereka yang memiliki ketulusan niat dan keikhlasan hati. Jalan untuk kembali bagi mereka yang telah terjebak dalam kebingungan dan kesesatan, jalan untuk menemukan arti kehidupan yang sejati. Kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai penghambaan kepada Rabb penguasa alam. Inilah mutiara terindah yang dicari-cari segenap pengejar kesuksesan. Mutiara yang telah tertutupi oleh pekatnya asap kehidupan.

Beruntunglah orang-orang yang menemukan jalan ini, berbahagialah orang-orang yang bekerja keras untuk mencari mutiara terindah ini. Tak akan sia-sia usaha mereka. Tidak akan percuma kesungguhan dan perjuangan mereka, selama mereka benar-benar ikhlas dan tulus mendamba wajah-Nya. Siang dan malam akan pergi sementara keindahan mutiara kehidupan ini akan selalu menghiasi lubuk hati. Mutiara paling berharga yang kelak akan bermanfaat bagi insan tatkala harta dan keturunan tiada lagi berfungsi.

Perjalanan yang tiada kenal lelah. Perjalanan menelusuri lembah ketaatan dan mendaki bukit pengabdian. Perjalanan yang sarat dengan rintangan dan godaan. Perjalanan yang menuntut kesabaran dan keistiqomahan. Perjalanan yang menyita waktu dan tenaga. Perjalanan yang selalu butuh akan bekal takwa. Perjalanan seorang muslim di tengah samudera kehidupan menghadapi geombang fitnah dan badai cobaan. Inilah saat-saat dimana dirinya membutuhkan pertolongan dari atas langit. Inilah saat-saat dimana dirinya tidak boleh bersandar kepada kemampuan dirinya sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perjalanan menuju negeri keabadian.

Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang telah menyediakan untuknya sebuah bahtera untuk dia berlayar di atasnya. Bahtera amal salih dan tauhid kepada-Nya. Bahtera nan megah dan perkasa untuk menembus gelombang dan melintasi samudera. Ketika setan dan bala tentaranya telah bersumpah untuk menyesatkan manusia, maka segala cara ditempuhnya untuk menjauhkan bani Adam dari menaiki bahtera keselamatan itu. Mereka melemparkan cemoohan, kedustaan, dan bahkan makar-makar jahat untuk menyimpangkan umat manusia dari jalan kebahagiaannya.

Perjalanan ini membutuhkan nahkoda. Maka Allah pun telah memilih nabi akhir zaman dan penutup rasul-rasul untuk memegang kendali bahtera. Bersama para sahabatnya yang setia, beliau bentangkan layar islam dan mengibarkan bendera tauhid. Melindungi para pencari kebenaran dan menyelamatkan para pengejar kemuliaan. Tak peduli dengan cacian dan cemoohan dari pemuja-pemuja setan dan pengekor nafsu rendahan. Kafilah orang-orang yang terasing pun berangkat meninggalkan masa lalu yang hitam. Bergerak maju untuk menjemput pahala dan ampunan Allah, serta takut akan azab-Nya.

Inilah keadaan umat manusia bersama teman dan musuh-musuhnya. Di tengah perjalanan yang panjang itu kerapkali musuh menyelinap masuk dan berpura-pura seperti teman akrabnya, memberikan iming-iming dan tipu daya sembari memakai topeng nasihat. Perjalanan yang membuat banyak orang terlena dengan sepoi-sepoi angin samudera. Mereka terlelap dalam mimpi-mimpi dan hanyut dalam angan-angan besutan sang durjana. Sehingga menurut mereka tiada kehidupan selain kehidupan dunia ini, kita hidup dan mati, dan tiada yang menghancurkan selain waktu. Akhirnya, waktu demi waktu yang dihabiskan untuk berfoya-foya. Seperti bajak laut yang menghabiskan malamnya dengan arak dan hawa nafsu serta melalui siangnya dengan dosa.

Berkumpullah manusia dari berbagai penjuru. Mereka tertarik dengan impian dan khayalan yang ditawarkan oleh sang durjana. Mereka pun mengumpulkan perbekalan yang dimilikinya untuk dijual demi mendapatkan harta karun dan kesenangan yang dipromosikan oleh komandan bajak laut bersama begundal-begundalnya. Mereka pun bergabung dengan perahu perompak dan tergoda dengan kejayaan sesaat dan kenikmatan semu. Sementara kapal keimanan mereka telantarkan. Karena bagi para penumpang kapal itu digambarkan bahwa perjalanan mereka seolah berada di dalam penjara. Sementara bersama sang perompak, orang bisa hidup laksana di surga.

Aduhai, betapa malang nasib para penumpang perahu sang bajak laut. Karena mereka tidak sadar telah tersihir oleh iming-iming dan rayuan palsunya. Kesenangan yang mereka kira bisa mengekalkan mereka bersama tumpukan harta dan ketinggian tahta. Padahal, suatu saat nanti dia akan berkata, “Tidak berguna lagi hartaku, telah hancur kekuasaanku.” Bahkan orang yang malang itu merintih dan menjerit, “Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia…” Dia pun menyesal seraya berucap, “Aduhai malangnya, andaikata aku dahulu menjadi sebongkah tanah saja.”

Di sinilah, manusia harus memilih. Antara menjadi pengikut sekte iblis ataukah menjadi pengikut golongan Allah. Padahal, kemenangan hanya akan diberikan kepada para pengikut golongan Allah. Adapun para pemuja setan akan terombang-ambing dalam kegelapan dan siksaan. Sungguh perjalanan panjang yang menguji kesabaran. Sabar dalam melakukan perintah, sabar dalam menjauhi larangan, dan sabar dalam menghadapi musibah. Hanya mereka yang sabar yang bisa menang dalam pertarungan melawan serbuan dan intrik sang durjana.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Al-‘Ashr : 1-3)

Sebagian ulama berkata, “Sabar dalam keimanan seperti kepala bagi anggota tubuh. Apabila kepala telah putus, maka tidak ada kehidupan lagi pada tubuh. Ketahuilah, bahwa tiada iman pada orang yang tidak memiliki kesabaran.”

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)

Sebaik-Baik Bekal

Menempuh perjalanan tanpa bekal adalah sebab kesengsaraan. Yang menjadi masalah adalah ketika seorang yang berjalan namun tidak mengetahui bekal apa yang harus dia siapkan. Yang menjadi masalah berikutnya adalah ketika dia sibuk menyiapkan segala sesuatu yang dia kira menjadi bekal terbaik untuknya sementara hal itu hanya akan lenyap dan sia-sia. Banyak orang lupa, bahwa sebaik-baik bekal dalam perjalanan hidup kita ini adalah takwa.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Telah pergi para pemuja dunia sementara mereka tidak merasakan sesuatu yang paling lezat dan indah di dalamnya.” Orang-orang pun bertanya, “Apakah hal itu wahai Abu Yahya?”. Beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”

Mengenal Allah, bukan semata-mata meyakini bahwa Allah adalah pencipta dan pemberi rizki. Mengenal Allah, bukan semata-mata memperindah penampilan dan menebar angan-angan. Akan tetapi mengenal Allah adalah dengan ketulusan iman dan kesucian tauhid. Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau sekedar memperbagus penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Inilah potret keimanan dan lukisan ketakwaan yang akan mengantarkan hamba kepada kesuksesan.

Mereka yang tidak silau oleh gemerlapnya dunia. Mereka yang tidak mau menjual akidah dan agamanya demi mencicipi kesenangan dunia yang fana. Mereka itulah yang merasakan manisnya iman dan lezatnya pengabdian.

Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair :

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cendekia
Mereka ceraikan dunia dan takut akan fitnahnya.

Mereka lihat apa-apa yang ada di dalamnya.
Ketika mereka tahu bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya.

Maka mereka jadikan dunia sebagai samudera
Lalu mereka jadikan amal salih sebagai perahu tuk berlayar di atasnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Sudahkah anda memiliki bekal itu wahai saudaraku? Bekal keimanan, bekal ketakwaan, dan bekal amal salih yang harus kita persiapkan. Perjalanan yang panjang ini hanya akan mengantarkan anda kepada salah satu diantara dua kemungkinan; bahagia atau sengsara. Bahagia dengan kenikmatan surga atau sengsara di dalam azab neraka. Mana yang anda sukai? Plihlah apa yang anda sukai…

Lalu kemanakah hendak anda cari pundi-pundi keimanan dan benih-benih ketakwaan? Apakah dalam temaram lampu diskotik, dalam kegelapan bisnis narkoba, dalam hiruk-pikuk gerombolan koruptor pemburu harta, atau dalam genangan darah dan keringat pengejar tahta? Apakah anda akan menemukan bekal yang anda butuhkan itu di tengah gerombolan orang yang wajahnya tidak pernah tersentuh oleh air wudhu?

Apakah anda akan menjumpai bekal yang anda cari itu dalam majelis-majelis yang tidak pernah disebutkan nama Allah di situ? Kemana hendak anda cari harta paling berharga dan mutiara terindah dalam hidup ini, kalau bukan di majelis ilmu?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) maka dengan sebab hal itu Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya nicaya Allah pahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang bersimbah peluh, bekerja keras, membanting tulang, pergi pagi pulang malam, seolah-olah dia tidak bisa hidup dan tidak bahagia tanpa kepingan dan lembaran uang. Sementara hatinya meronta-ronta, hatinya terluka dan terluka, hatinya menderita dan kehausan akan hidayah dan petunjuk Rabbnya. Akankah kita biarkan hati ini kering dari zikir dan ilmu dari-Nya?

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”

Abul ‘Abbas Al-Harrani rahimahullah berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan terjadi pada seekor ikan apabila dia justru memisahkan dirinya dari air?”. Hati tanpa ilmu dan zikir kepada Allah pasti akan mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)

Ketakwaan kepada Allah adalah sebaik-baik bekal yang harus kita miliki. Ketakwaan kepada Allah tidak akan terwujud tanpa landasan ilmu dan pemahaman. Ketakwaan kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bagaimana kita bisa bertakwa apabila kita tidak mengerti apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh-Nya?

Sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang dia rusak jauh lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”

Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah telah mewanti-wanti masalah pentingnya ilmu ini. Di dalam kitabnya Sahih Bukhari, beliau membuat bab dengan judul ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’. Bagaimana ucapan dan perbuatan kita bisa lurus apabila kta tidak memiliki bekal ilmu tentang kebenaran?

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)

Diantara sekian banyak ilmu, maka ilmu tentang tauhid adalah ilmu yang paling utama dan paling wajib untuk dimengerti. Karena tauhid menjadi pondasi agama islam. Tauhid juga merupakan syarat diterimanya segala amalan. Tauhid pula yang menjadi kunci untuk bisa masuk ke dalam surga dan lolos dari azab neraka. Oleh sebab itu dakwah segenap rasul tegak di atasnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Dari sinilah, mempelajari ilmu tauhid menjadi penting dan bahkan kebutuhan yang sangat mendesak. Ilmu tauhid inilah yang pertama-tama tercakup di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan pahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Bangun Istana di Surga

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI