Tebarkan Rahmat

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang penyayang maka akan disayang oleh ar-Rahman. Sayangilah para penduduk bumi niscaya Dzat yang berada di atas langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, disahihkan al-Albani. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud no. 4941)

Faidah Hadits :

Di dalam hadits ini disebutkan nama ar-Rahman. Hal ini menunjukkan bahwa kita wajib mengimani  nama-nama Allah. Salah satu nama Allah itu adalah ar-Rahman. Di dalam nama ini terkandung sifat rahmat/kasih sayang yang sempurna. Sampai-sampai disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah ‘jauh lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada kasih sayang seorang ibu kepada bayinya’ (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu di dalam nama ar-Rahman juga terkandung sifat rahmat Allah yang maha luas. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan rahmat-Ku maha luas mencakup segala sesuatu.” (al-A’raaf : 156). Allah juga mengisahkan doa para malaikat bagi kaum beriman (yang artinya), “Wahai Rabb kami, maha luas rahmat dan ilmu-Mu yang meliputi segala sesuatu.” (Ghafir : 7) (lihat al-Qawa’id al-Mutsla, hal. 10)

Inilah salah satu manhaj/metode yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah. Mereka mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak (ta’thil) dan tanpa menyerupakan (tamtsil). Allah berfirman (yang artinya), “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.” (asy-Syura : 11). Sehingga di dalam nama ar-Rahman terkandung sifat rahmat/kasih sayang. Kita wajib menetapkan bahwa sifat itu ada pada diri Allah. Tidak boleh kita selewengkan makna rahmat menjadi irodatul in’am/kehendak untuk mencurahkan nikmat atau kehendak memberikan kebaikan (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 15 oleh Syaikh Abdullah al-Qar’awi)

Nama ar-Rahman menunjukkan kasih sayang Allah yang maha luas mencakup seluruh makhluk, baik orang yang beriman maupun orang kafir. Rahmat Allah bagi kaum beriman adalah dalam bentuk pemberian taufik kepada mereka untuk mengikuti kebenaran, meniti jalan yang lurus, dan lain sebagainya. Adapun rahmat untuk mereka di akhirat adalah Allah masukkan mereka ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan dan Allah selamatkan mereka dari neraka. Rahmat Allah bagi orang kafir di dunia adalah dengan diberikannya kesehatan, makanan, minuman, dsb. Adapun di akhirat rahmat itu berupa keadilan dalam hal hisab dan balasan untuk mereka (lihat al-Lubab fi Tafsiril Isti’adzah wal Basmalah wa Fatihatil Kitab, hal. 99)

Di dalam hadits ini juga ditegaskan bahwasanya Allah berada di atas langit. Dalam al-Qur’an Allah berfirman (yang artinya), “Apakah kalian merasa aman dari -hukuman- Dzat yang ada di atas langit.” (al-Mulk : 16). Para ulama menjelaskan bahwa kata samaa’ di dalam ayat tersebut bisa bermakna al-‘uluww yaitu tinggi. Sehingga maknanya adalah Allah itu maha tinggi. Bisa juga samaa’ dimaknakan dengan tujuh lapis langit, maka maknanya adalah Allah berada di atas itu semuanya. Oleh sebab itu pernyataan ‘Allah di atas langit’ bukanlah berarti Allah berada di dalam langit. Karena langit adalah makhluk Allah dan Allah tidaklah menempati pada sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Tidak ada pada makhluk sedikit pun bagian dari Dzat-Nya, dan tidak ada pada-Nya sedikit pun bagian dari makhluk-Nya. Akan tetapi Allah terpisah dari makhluk-Nya. Maka di dalam ayat itu terdapat bantahan bagi kaum Jahmiyah dan Mu’aththilah yang mengatakan bahwasanya Allah tidak boleh disifati berada di ketinggian/di atas, mereka juga mengatakan bahwa Allah tidak berada di luar alam dan tidak juga di dalam alam. Konsekuensi pendapat mereka adalah Allah itu tidak ada; karena Dia tidak ada di dalam alam dan juga tidak di luar alam. Selain itu, ayat ini juga berisi bantahan bagi kaum Hululiyah (paham Wahdatul Wujud) yang menyatakan bahwa Allah itu ada pada segala sesuatu. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 94)

Di dalam hadits di atas juga terkandung perintah untuk menebarkan kasih sayang kepada sesama. Dalam hadits lainnya dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya.” Dalam riwayat Thabrani disebutkan dengan redaksi, “Barangsiapa tidak menyayangi yang ada di bumi maka Yang ada di atas langit tidak akan menyayanginya.” Dalam riwayat Thabrani dari Ibnu Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sayangilah yang di bumi niscaya Yang di atas langit akan menyayangimu.” al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa para periwayatnya tsiqah/terpercaya (lihat Fat-hul Bari, 10/541)

Bahkan kasih sayang ini tidak terbatas pada manusia. Hewan pun harus diperlakukan dengan kasih sayang. Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Sahih-nya dengan judul ‘Rahmat kepada manusia dan binatang-binatang.’ Salah satu dalil yang beliau bawakan -selain hadits di atas- adalah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang menanam sebatang pohon/tanaman kemudian dimakan buah/hasilnya oleh manusia atau pun binatang kecuali hal itu akan dicatat sebagai sedekah baginya.” (HR. Bukhari) (lihat Fat-hul Bari, 10/539)

Salah satu bentuk rahmat/kasih sayang yang ditebarkan itu adalah berupa dakwah dan ilmu. Pada bagian awal risalah Ushul Tsalatsah atau Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu-…” Syaikh Shalih alu Syaikh menerangkan, bahwa doa ini mengandung faidah bahwasanya ilmu ditegakkan di atas landasan kelembutan dan kasih sayang kepada segenap penimba ilmu. Para ulama menyatakan bahwa ilmu dibangun di atas sifat kasih sayang. Buahnya adalah tersebarnya rahmat di dunia dan tujuan akhirnya adalah rahmat di akhirat. Perkataan beliau ‘Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu-..’ menunjukkan bahwa pengajaran ilmu itu dibangun di atas jalinan kasih sayang (lihat Syarh Tsalatsatil Ushul oleh Syaikh alu Syaikh hafizhahullah, hal. 12-13)

Bentuk lain dari kasih sayang itu adalah dengan memberikan makan dan membantu kesulitan saudaranya sesama muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah berkata, “Di dalam hadits ini terkandung keterangan bahwa semestinya seorang muslim berusaha mengerahkan kemampuannya demi kebaikan saudaranya sebagaimana apa yang dicurahkannya demi kebaikan dirinya sendiri. Maka tidak boleh dia merasa kenyang sementara tetangganya kelaparan…” (lihat Minhatul Malik, 1/83)

Termasuk bentuk kasih sayang itu juga adalah dengan menyebarkan dakwah tauhid, berusaha menyingkirkan gangguan atau kotoran dari jalan, dan memelihara sifat malu terlebih lagi pada masa dimana banyak manusia -terutama kaum wanita- yang telah kehilangan rasa malunya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

banner donasi buku Nasihat-Nasihat Ramadhan2 ungu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.