Urgensi Ikhlas

Untitled 15

Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal dinilai dengan niat. Dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits sahih yang disepakati kesahihannya. Disepakati tentang keagungan dan kemuliaan kedudukannya. Ia merupakan salah satu hadits yang menjadi poros ajaran Islam. Adalah para ulama terdahulu serta para ulama belakangan yang mengikuti mereka rahimahumullahu ta’ala menganjurkan untuk mengawali karya-karya tulis dengan hadits ini, sebagai pengingat bagi pembaca agar menjaga kelurusan niat, memberikan perhatian besar atasnya dan terus-menerus memeriksa niatnya.” (lihat al-Adzkar, hal. 24)

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang hendak menulis suatu buku maka mulailah dengan hadits ini.” (lihat al-Adzkar, hal. 24)

Imam Ibnu Daqiq al-’Ied rahimahullah menjelaskan, “Menurut Imam Ahmad dan Syafi’i rahimahumallahu, di dalam hadits al-A’maal bin niyaat ini tercakup sepertiga ilmu. Demikian pula dikatakan oleh al-Baihaqi dan ulama lain. Alasannya, karena perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan, dan anggota badan, sedangkan niat menempati salah satu diantara ketiga macam perbuatan tersebut.” (lihat Syarh al-Arba’in, hal. 10)

Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Tidak ada diantara hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits yang lebih lengkap, padat, dan paling banyak faidahnya daripada hadits ini.” (lihat Fath al-Bari [1/17] tahqiq Syaibatul Hamdi)

Faidah Hadits Secara Umum

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam kehidupan seorang muslim. Ia laksana ruh bagi tubuhnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Innamal a’maalu bin niyaat adalah kalimat yang komprehensif dan sempurna, sebab niat bagi amalan laksana ruh bagi jasad.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 106)

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau sedang bersafar maka akan dicatat baginya seperti amal yang biasa dilakukannya tatkala sehat dan mukim/tidak safar.” (HR. Bukhari)

Faidah Hadits Bagi Para Pendakwah

Hadits di atas memberikan pelajaran berharga, bahwa tidak semestinya seorang pendakwah beramar ma’ruf dan nahi mungkar dalam rangka sum’ah (ingin didengar) atau riya’ (ingin dilihat orang). Demikian pula tidak boleh berdakwah demi membela kepentingan diri sendiri, memburu jabatan atau kepemimpinan, atau demi membela kelompoknya sendiri serta untuk merendahkan kelompok yang lain. Karena itu semuanya termasuk fanatisme yang tidak diterima oleh Allah. Hal itu pula yang telah diperingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, “Banyak orang, apabila dia mengajak kepada kebenaran, maka yang terjadi justru dia [lebih] mengajak kepada dirinya sendiri.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 108)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat untuk mendapatkan ketinggian di muka bumi (kedudukan) atau untuk menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang yang berperang karena fanatisme dan riya’. Namun, apabila dia berbicara karena Allah; ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata, maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)

Ucapan Para Ulama Tentang Hal Ini

Oleh sebab itulah kita dapati para ulama salaf adalah orang-orang yang sangat khawatir dirinya terjangkiti niat-niat yang tidak benar dalam berdakwah kepada al-Haq dan mengajarkan ilmu kepada manusia. Inilah sebagian contohnya…

Sebutlah seorang ulama salaf bernama Hisyam ad-Dastuwa’i (wafat 153 H) rahimahullah. Syu’bah berkata tentangnya, “Tidaklah ada seorang diantara manusia -yang ada saat itu, pent- yang menimba ilmu hadits yang lebih ikhlas karena Allah daripada Hisyam ad-Dastuwa’i…” Abu Dawud ath-Thayalisi berkata, “Hisyam ad-Dastuwa’i adalah Amirul Mukminin fil Hadits.” Meskipun demikian, lihatlah ucapan Hisyam ad-Dastuwa’i tentang dirinya sendiri, “Aduhai, andaikata kami selamat dari akibat [menuturkan] hadits?” (lihat Thabaqat ‘Ulama al-Hadits [1/255-256] oleh Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah)

Contoh yang lain adalah Syu’bah bin al-Hajjaj (wafat 160 H) rahimahullah. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Syu’bah adalah Amirul Mukminin fil Hadits.” Imam Syafi’i berkata, “Kalau tidak ada Syu’bah niscaya hadits tidak akan dikenal di ‘Iraq.” Meskipun demikian, perhatikanlah ucapan Syu’bah tentang dirinya sendiri, “Tidaklah ada suatu perkara yang lebih aku takutkan menjerumuskan diriku ke dalam neraka daripada [akibat tidak ikhlas dalam mengajarkan] hadits.” (lihat Thabaqat ‘Ulama al-Hadits [1/293-296])

Contoh lainnya, Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) rahimahullah. Beliau berkata, “Tidak ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba [ilmu] hadits, yaitu apabila niatnya lurus.” Ibnul Mubarak berkata, “Aku tidak tahu di atas permukaan bumi ini seseorang yang lebih berilmu daripada Sufyan.” Waki’ berkata, “Sufyan laksana samudera.” Meskipun demikian, simaklah ucapan Sufyan tentang dirinya, “Aku berangan-angan bisa selamat dari ilmu ini; sehingga ia tidak mencelakakanku, meski tidak menguntungkanku. Tidak ada amalan yang paling aku khawatirkan mencelakakan diriku daripada hal itu -yaitu belajar dan mengajarkan hadits-.” (lihat Thabaqat ‘Ulama al-Hadits [1/309-312])

Pentingnya Ikhlas

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan la ilaha illallah karena mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Itban radhiyallahu’anhu)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, bahwa maksud dari ungkapan ‘mengharap wajah Allah’ adalah dia mengucapkan syahadat itu dengan penuh keikhlasan kepada-Nya, bukan karena riya’, sum’ah, atau pun kemunafikan (lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 97)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (Al-Furqan : 23).” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (Jilid 1, hal. 60-61)

Beliau juga memaparkan, bahwasanya kedua syarat ini merupakan kandungan dari kedua kalimat syahadat. Syahadat laa ilaha illallah bermakna kita harus mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah. Syahadat Muhammad rasulullah bermakna kita harus mengikuti tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1, hal. 61)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka bukanlah perkara yang terpenting adalah bagaimana orang itu melakukan puasa atau sholat, atau memperbanyak ibadah-ibadah. Sebab yang terpenting adalah ikhlas. Oleh sebab itu sedikit namun dibarengi dengan keikhlasan itu lebih baik daripada banyak tanpa disertai keikhlasan. Seandainya ada seorang insan yang melakukan sholat di malam hari dan di siang hari, bersedekah dengan harta-hartanya, dan melakukan berbagai macam amalan akan tetapi tanpa keikhlasan maka tidak ada faidah pada amalnya itu; karena itulah dibutuhkan keikhlasan…” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 17-18)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata kepada seseorang sembari menasihatinya, “Hati-hatilah kamu wahai saudaraku, dari riya’ dalam ucapan dan amalan. Sesungguhnya hal itu adalah syirik yang sebenarnya. Dan jauhilah ujub, karena sesungguhnya amal salih tidak akan terangkat dalam keadaan ia tercampuri ujub.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 578)

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya.” (lihat Iqazh al-Himam al-Muntaqa min Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 35)

Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata, “Allah tidak menerima amalan yang di dalamnya tercampuri riya’ walaupun hanya sekecil biji tanaman.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 572)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia akan terbebas dari ujub…” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83)

————

Baca Juga :

  • Donasi Pembangunan Masjid [klik]
  • Kumpulan Hikmah dan Faidah [klik]
  • Untaian Nasihat dan Mutiara Faidah [klik]
  • Meniti Jalan Hidayah [klik]
  • Untukmu, Wahai Ahlus Sunnah! [klik]
  • Meniti Jejak Salafus Shalih [klik]
  • Sekilas Mengenal Aqidah Islam [klik]
  • Teruslah Belajar dan Perbaiki Diri [klik]