al-Mubarok

Perbanyak Istighfar

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.

Istighfar yaitu permohonan ampun kepada Allah. Sesuatu yang sangat akrab di telinga kita. Sebagai seorang muslim kita telah diajari untuk beristighfar dalam banyak kesempatan.

Diantaranya adalah setelah menunaikan sholat wajib. Kita dituntun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beristighfar 3 x. Bahkan, tidak hanya itu. Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 x.” (HR. Bukhari no. 6307)

Imam Nasa’i meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar, beliau berkata : Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 x (lihat Fath al-Bari oleh Ibnu Hajar, 11/115)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung. Dia takut apabila gunung itu jatuh/runtuh menimpa dirinya…” (lihat Fath al-Bari, 11/118)

Demikianlah sifat seorang muslim. Bahwa dia senantiasa merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah. Dia menganggap kecil amal salihnya dan dia mengkhawatirkan dampak perbuatan buruknya meskipun itu kecil (lihat Fath al-Bari, 11/119)

‘Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan : Adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari buang air (kamar kecil) maka beliau mengucapkan ‘ghufroonak’ – artinya ‘Kami mohon ampunan-Mu, ya Allah – (HR. Abu Dawud dan lain-lain)

Makna doa ini adalah ‘Aku memohon kepada-Mu -ya Allah- ampunan-Mu yaitu Engkau tutupi dosa-dosaku dan Engkau tidak menghukumku karena dosa-dosa itu’ (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Tas-hilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram, 1/242)

Hikmah dari bacaan ini adalah apabila seorang telah menunaikan hajatnya -dengan membuang kotoran secara fisik- hendaklah dia mengingat kotoran secara maknawi yang mengganggu kehidupannya yaitu dosa-dosa. Karena sesungguhnya menanggung dosa lebih berat dan lebih membahayakan daripada menanggung kotoran berupa ‘air besar’ atau ‘air kecil’. Oleh sebab itu sudah sepantasnya kita mengingat dosa-dosa kita dan memohon ampunan Allah atasnya (lihat keterangan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Fat-hu Dzil Jalal wal Ikram, hlm. 306)

Hal ini mengandung pelajaran bagi kita bahwa istighfar adalah bacaan yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak dalam segala keadaan. Dari keadaan ibadah yang sangat agung yaitu setelah sholat hingga keadaan menunaikan hajat semacam buang air maka sesudahnya pun dianjurkan untuk membaca doa ampunan. Hal ini tentu menunjukkan kepada kita betapa besar kebutuhan seorang muslim terhadap istighfar dan taubat kepada Allah.

Bahkan lihatlah apa yang Allah perintahkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah melalui perjalanan panjang dalam menegakkan dakwah tauhid selama 23 tahun maka Allah pun memerintahkan kepadanya -sebagaimana dalam surat an-Nashr- untuk menyucikan Allah dan beristighfar kepada-Nya, ‘fa sabbih bihamdi Rabbika wastaghfirhu’ maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mintalah ampunan kepada-Nya… 

Setelah turunnya ayat tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memperbanyak doa ‘subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirlii’ dalam ruku’ dan sujudnya (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha

Perhatikanlah, wahai saudaraku yang mulia! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia terbaik di atas muka bumi, nabi yang paling mulia, pemimpin anak Adam pada hari kiamat, dan hamba yang paling Allah cintai pun diperintahkan untuk memohon ampunan kepada Allah; padahal beliau adalah beliau. Beliau bukan pendosa, bukan ahli maksiat, bukan pula orang yang lalai dan durhaka.

Hal ini mengandung pelajaran kepada kita bahwa semakin tinggi keimanan seorang hamba maka semakin besar kebutuhannya kepada istighfar; karena dia melihat bahwa apa yang dia lakukan dalam bentuk penghambaan kepada Allah sangat jauh dari apa yang semestinya diberikan kepada-Nya berupa pengagungan dan ibadah. Hak-hak Allah terlalu agung dan mulia untuk ‘dibayar’ dengan ketaatan dan amal salih segenap manusia! Karena Allah sama sekali tidak membutuhkan hamba-Nya, bahkan seluruh makhluk butuh kepada-Nya dalam segala kondisi mereka….

Syaikh Abdul Qayyum as-Suhaibani hafizhahullah mengatakan dalam sebuah nasehatnya, “Tidaklah musibah-musibah -dan kehinaan- menimpa kaum muslimin kecuali disebabkan minimnya perendahan diri mereka kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah kauniyah; barangsiapa yang tidak mau tunduk merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan buat dia tunduk/merendah kepada selain-Nya.” (dinukil dari Mafhum ‘Ibadah, seri 2 menit 20.15 – 20.31) 

Dalam sebuah sya’irnya, Ibnul Qayyim rahimahullah mengambarkan kondisi banyak manusia yang telah berpaling dari pengabdian kepada Allah menuju penghambaan kepada setan. Beliau berkata :

Mereka lari dari penghambaan

yang menjadi tujuan mereka diciptakan

Maka mereka terjebak dalam pengabdian

kepada hawa nafsu dan setan

Salah satu alasan yang menunjukkan betapa pentingnya memprioritaskan dakwah kepada manusia untuk beribadah kepada Allah (baca: dakwah tauhid) adalah karena inilah tujuan utama dakwah, yaitu untuk mengentaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah semata. Selain itu, tidaklah ada kerusakan dalam urusan dunia yang dialami umat manusia melainkan sebab utamanya adalah kerusakan yang mereka lakukan dalam hal ibadah mereka kepada Rabb jalla wa ‘ala (lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh ad-Da’wah ‘inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hlm. 249 oleh ‘Abid bin Abdullah ats-Tsubaiti penerbit Dar Ibnul Jauzi cet I, 1428 H)

Ketundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena dilihat orang lain. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 15-16)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasar yaitu kecintaan yang sepenuhnya dan perendahan diri yang sempurna. Munculnya kedua pokok/kaidah ini berangkat dari dua sikap prinsip yaitu musyahadatul minnah -menyaksikan curahan nikmat-nikmat Allah- dan muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal -selalu meneliti aib pada diri dan amal perbuatan-. Dengan senantiasa menyaksikan dan menyadari setiap curahan nikmat yang Allah berikan kepada hamba akan tumbuhlah kecintaan. Dan dengan selalu meneliti aib pada diri dan amalan akan menumbuhkan perendahan diri yang sempurna kepada Rabbnya (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 8 tahqiq Abdul Qadir dan Ibrahim al-Arna’uth)

Dengan selalu menyaksikan dan menyadari betapa banyak curahan nikmat yang Allah berikan akan menumbuhkan kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan begitu banyak kebaikan. Dan dengan memperhatikan aib pada diri dan amal perbuatan akan melahirkan sikap perendahan diri, merasa butuh, fakir, dan bertaubat di sepanjang waktu. Sehingga orang itu tidak memandang dirinya kecuali berada dalam kondisi bangkrut. Pintu terdekat yang akan mengantarkan hamba menuju Allah adalah pintu gerbang perasaan bangkrut. Dia tidak melihat dirinya memiliki kedudukan atau posisi dan peran yang layak diandalkan/dibanggakan. Sehingga dia pun akan mengabdi kepada Allah melalui pintu gerbang perasaan fakir yang seutuhnya dan kondisi jiwa yang merasa dilanda kebangkrutan (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 7)

Konsekuensi dari dua hal ini -puncak perendahan diri dan puncak kecintaan- adalah dia akan tunduk melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang insan yang hanya mencukupkan diri dengan rasa cinta dan perendahan diri tanpa melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah dan tanpa meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah tidak dianggap menjadi hamba yang beribadah kepada Allah. Oleh sebab itu puncak kecintaan dan puncak perendahan diri itu mengharuskan kepatuhan dalam bentuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan begitu akan terwujud ibadah.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hlm. 251)

Berdzikir kepada Allah merupakan sebab Allah mengingat dan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepada kalian.” (al-Baqarah : 152). Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melakukan ketaatan kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan memberikan ampunan dari-Ku kepada kalian.” Sa’id bin Jubair berkata, “Artinya; Ingatlah kalian kepada-Ku pada waktu berlimpah nikmat dan kelapangan niscaya Aku akan mengingat kalian ketika berada dalam keadaan tertimpa kesusahan dan bencana.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hlm. 74)

Mengingat Allah adalah sebab perlindungan dan bantuan dari Allah. Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Dan Aku senantiasa bersama dengan hamba-Ku apabila dia mengingat-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Hal ini memberikan faidah bagi kita bahwa sesungguhnya kebutuhan kita kepada dzikir dan istighfar adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Karena kita tidak bisa terlepas dari bantuan dan pertolongan Allah walaupun hanya sekejap mata. Oleh sebab itu melazimkan istighfar dalam kehidupan sehari-hari akan membuat hati kita selalu bergantung kepada Allah, takut dan harap kepada-Nya, dan bertawakal kepada Allah semata.

Selain itu, orang yang terbiasa beristighfar setelah melakukan amal-amal ketaatan maka -dengan izin Allah- dia akan lebih mudah beristighfar setelah melakukan dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadits ini, “Adapun kita -apabila dibandingkan dengan Nabi- maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat…” (lihat Syarh Muslim [8/293]). Benarlah apa yang dikatakan oleh an-Nawawi, semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau…

Dan apabila kita cermati keadaan kaum muslimin di zaman ini maka akan kita dapati bahwa amalan ini – bertaubat 100 kali dalam sehari – termasuk salah satu amalan yang sudah banyak ditinggalkan manusia ‘sunnah mahjurah’ kecuali pada sebagian manusia yang Allah berikan taufik kepada mereka; dan betapa sedikitnya mereka itu… Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengamalkannya…

Imam Nasa’i meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar, beliau berkata : Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 x (lihat Fath al-Bari, 11/115). Kepada Allah semata kita mohon pertolongan…


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh Ari Wahyudi; pengajar nahwu-shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok - Yayasan Pangeran Diponegoro (YAPADI). Dalam mengurus website ini alhamdulillah kami banyak dibantu oleh teman-teman relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Donasi Peduli Wabah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI