al-Mubarok

Tanya Jawab Seputar Aqidah Islam

Tanya : Apa yang dimaksud aqidah?

Jawab : Secara bahasa aqidah bermakna ikatan (aqad). Aqidah merupakan hal-hal yang diyakini oleh seorang insan di dalam hatinya. Adapun aqidah dalam pengertian syari’at adalah keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada takdir.

Tanya : Apa pentingnya aqidah?

Jawab : Aqidah merupakan asas tegaknya bangunan agama dan syarat diterimanya amalan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan/berbuat syirik dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Tanya : Apa bahaya syirik?

Jawab : Syirik merupakan penyebab terhapusnya amal-amal kebaikan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu -Muhammad- dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Tanya : Apa keutamaan aqidah?

Jawab : Perbaikan aqidah merupakan misi utama diutusnya para rasul di atas muka bumi. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Tanya : Dari mana kita mengambil aqidah?

Jawab : Aqidah diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah. Itulah tali Allah yang kita diperintahkan untuk berpegang-teguh dengannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali ‘Imran : 103)

Tanya : Apa keutamaan berpegang-teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah?

Jawab : Allah memberikan jaminan keselamatan bagi mereka yang mau mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman (yang artinya), “Maka apabila datang kepada kalian petunjuk dari-Ku; maka barangsiapa yang mau mengikuti petunjuk-Ku itu niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Tanya : Siapakah yang dimaksud al-Firqah an-Najiyah?

Jawab : Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ketika menjelaskan tentang berbagai kelompok yang menyimpang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah) yaitu, “Orang-orang yang beragama sebagaimana aku dan para sahabatku pada hari ini.” (HR. Ahmad)

Tanya : Apa sebab manusia menyimpang dari aqidah yang benar?

Jawab : Sebab utamanya adalah kebodohan terhadap agama. Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu pernah mengatakan, “Sesungguhnya simpul-simpul Islam itu akan terurai satu-persatu ketika tumbuh di tengah umat Islam ini orang-orang yang tidak mengenal hakikat jahiliyah.”

Tanya : Apakah bahaya fanatik kepada nenek-moyang?

Jawab : Fanatik kepada ajaran nenek moyang -apabila itu ajaran yang keliru- menjadi sebab manusia tenggelam dalam penyimpangan aqidah. Allah berfirman (yang artinya), “Apabila dikatakan kepada mereka; Ikutilah apa-apa yang telah diturunkan Allah, mereka mengatakan; Bahkan kami akan tetap mengikuti apa-apa yang kami dapati dari nenek-moyang kami. Apakah meskipun nenek-moyang mereka itu tidak berakal dan tidak mendapat petunjuk.” (al-Baqarah : 170)

Tanya : Apakah lingkungan bisa mempengaruhi aqidah?

Jawab : Benar. Banyak orang tersesat aqidahnya diantara sebabnya adalah karena lingkungan yang buruk, terlebih lagi jika ia dibesarkan oleh orang tua yang tidak mengenal agama dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap bayi yang dilahirkan berada di atas fitrah. Kemudian kedua orang tuanya lah yang menjadikan anaknya itu berubah menjadi beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tanya : Apa yang dimaksud tauhid rububiyah?

Jawab : Tauhid rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta dan penguasa alam semesta. Allah satu-satunya yang memberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan serta yang mengatur segala urusan. Allah berfirman (yang artinya), “Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (az-Zumar : 62). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah ada satupun makhluk melatan di muka bumi melainkan Allah yang memberikan rezekinya.” (Hud : 6)

Tanya : Apakah semua manusia mengakui tauhid rububiyah?

Jawab : Pada dasarnya manusia telah mengakui Allah merupakan pencipta dan penguasa alam ini. Tidak ada yang meragukan hal itu kecuali orang yang sudah rusak fitrahnya atau karena kesombongan dari dalam hatinya. Allah berfirman (yang artinya), “Telah berkata para rasul mereka itu; Apakah terhadap Allah ada keragu-raguan; Yaitu Dia yang menciptakan langit dan bumi.” (Ibrahim : 10)

Tanya : Apakah ada sesembahan yang benar selain Allah?

Jawab : Tidak ada. Semua sesembahan selain Allah adalah batil alias tidak pantas disembah. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya semua sesembahan yang kalian seru selain Allah tidak akan bisa menciptakan seekor lalat meskipun mereka bersatu-padu untuk itu.” (al-Haj : 73)

Tanya : Apa konsekuensi tauhid rububiyah?

Jawab : Mengakui bahwa Allah satu-satunya pencipta mengharuskan kita untuk beribadah kepada Allah semata, dan inilah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah atas seluruh umat manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang Dia telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu karena Allah adalah Rabb kalian, tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Dia Yang mencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia.” (al-An’am : 102)

Tanya : Apa yang dimaksud tauhid uluhiyah?

Jawab : Yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Referensi : Tulisan ini diadaptasi dari penjelasan-penjelasan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya yang sarat manfaat yang berjudul : ‘Aqidah Tauhid’.


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Ikut Beramal Yuk!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI

    Nasihat Ulama

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas bagaimana keadaan seekor ikan apabila memisahkan dirinya dari air?” (al-Wabil ash-Shayyib)