Nikmat Hidayah Islam

Bismillah.

Sebuah nikmat agung yang tidak boleh dilupakan oleh seorang muslim adalah nikmat hidayah. Seorang akan bisa mengerjakan sholat dan ketaatan kepada Allah ketika dia mendapatkan nikmat hidayah. Bukan karena nikmat harta dan kesehatan. Betapa banyak orang kaya dan sehat tetapi tidak mau mengerjakan sholat dan tidak menundukkan dirinya kepada hukum Allah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, kehidupan di alam dunia adalah cobaan dari Allah kepada kita; apakah kita termasuk orang yang mau melakukan amal salih dan ketaatan kepada Allah ataukah kita termasuk para pembangkang dan barisan para durjana!

Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Seorang ulama salaf bernama Fudhail bin Iyadh rahimahullah menafsirkan bahwa yang terbaik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas apabila murni karena Allah, dan benar jika sesuai dengan sunnah/ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah standar pokok untuk menilai baik tidaknya suatu amalan, bukan berlandaskan hawa nafsu dan perasaan manusia. 

Banyak orang ingin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah tetapi dengan cara-cara yang mereka buat sendiri, bukan dengan mengikuti petunjuk Allah. Padahal cara untuk beribadah kepada Allah itu sudah diajarkan oleh para nabi dan rasul. Oleh sebab itu Allah mengatakan (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa’ : 80). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan kaum beriman niscaya Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami akan masukkan dia ke dalam Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115)

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah mereka yang konsisten tunduk dan patuh mengikuti ajaran dan syari’at Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)

Oleh sebab itu seorang ulama terdahulu bernama Sa’id bin Jubair rahimahullah menafsirkan ibadah dengan makna ketaatan. Artinya bukanlah orang yang beribadah kepada Allah apabila dia justru membangkang dan durhaka kepada-Nya. Karena ibadah adalah apa-apa yang Allah cintai dan Allah ridhai berupa ucapan dan perbuatan; yang tampak dan tersembunyi. Oleh sebab itu para ulama aqidah juga memaparkan bahwa ibadah itu secara bahasa artinya adalah merendahkan diri dan tunduk. Mereka juga menambahkan bahwa ibadah dalam pengertian syari’at harus dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan kepada Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri disertai puncak kecintaan.

Ketaatan kepada Allah artinya kita mengikuti kehendak Allah secara syar’i dan menundukkan akal kita kepada wahyu dan petunjuk-Nya. Oleh sebab itu Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan kehendak Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan kehendak Rasulullah.” Inilah yang menjadi syi’ar dan pedoman para ulama ahlus sunnah di sepanjang masa. Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah mengatakan, “Dan tidaklah akan kokoh pijakan Islam kecuali dia atas permukaan kepasrahan dan ketundukan…”

Oleh sebab itulah Allah memuji Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai sosok yang qaanit; yaitu senantiasa taat. Dan karena itu pula Allah menjadikan beliau sebagai manusia yang dicintai-Nya lebih daripada manusia yang lain. Karena ketaatan kepada Allah merupakan cerminan kecintaan kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh orang arab ‘innal muhibba liman yuhibbu muthii’u’ artinya, “Sesungguhnya orang yang mencintai itu pasti akan taat kepada apa yang dia cintai.” Apabila kecintaan seorang hamba kepada Allah itu jujur tentu dia akan tunduk patuh kepada-Nya. Ketaatan kepada Allah merupakan bukti keimanan seorang hamba. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghiasi penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.”

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3). Allah juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah imannya, dan mereka bertawakal hanya kepada Rabbnya.” (al-Anfal : 2-4)

Para ulama juga menjelaskan bahwa iman mencakup keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan. Sehingga semakin taat seorang hamba kepada Allah semakin kuat pula imannya dan semakin besar pula kecintaan Allah kepadanya. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku (rasul), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali ‘Imran : 31)

Banyak orang mengaku bahwa dirinya mencintai Allah, mencintai rasul dan mencintai Islam tetapi pada kenyataannya keyakinan dan perbuatan atau ucapannya justru mendatangkan murka Allah. Dari sinilah kita mengambil faidah bahwa sekedar pengakuan itu tidak cukup. Sebagaimana iman di lisan saja tidak cukup jika tidak dibarengi keimanan di dalam hati dan amal anggota badan. Sebagaimana diungkapkan oleh penyair arab yang artinya :

Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila

Tetapi Laila tidak menyetujui pengakuan mereka

Inilah ilmu -tentang makna ibadah dan iman- yang dimiliki oleh para ulama salaf. Ilmu yang tertancap di dalam hati sehingga membuahkan amalan dan rasa takut kepada Allah. Bukan sekedar ilmu di lisan yang justru akan menjadi bukti untuk menghukum pemiliknya pada hari kiamat, kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Sebagian ulama mengatakan, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan, dan cukuplah ightirar/tertipu oleh nikmat Allah bukti kebodohan.”

Karena itu pula para sahabat nabi sepakat bahwa setiap orang yang melakukan maksiat adalah orang yang bodoh/jahil. Sebagaimana semua orang yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Rasa takut yang menghalangi pemiliknya dari hal-hal yang diharamkan Allah. Rasa takut yang dilandasi keyakinan dan ilmu tentang kebesaran Allah dan segala kekurangan yang ada pada hamba. Rasa takut kepada Allah sebagai buah dari menyaksikan sekian banyak curahan nikmat Allah dan menelaah berbagai aib dan cacat pada diri dan amalan hamba. Rasa takut kepada Allah yang akan mengikis kekufuran dan kesombongan serta membabat sifat ujub.

Inilah nikmat hidayah yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpantun ketika menggali parit bersama para sahabatnya :

Kalau bukan karena Allah

maka kita tidak mendapat hidayah

tidak pula sholat…

Semoga catatan singkat ini bermanfaat bagi kita. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, Sya’ban 1440 H

Redaksi al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com untuk sementara ini dikelola oleh Ari Wahyudi, seorang pengajar nahwu dan shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok

LEAVE A REPLY

    E-Book Gratis

    Pencarian

    Bangun Masjid!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI