Kandungan Kitab Tauhid :

Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah berkata :

موضوع كتاب التوحيد في الجملة: توحيد العبادة -توحيد الألوهية-؛ نظراً لمسيس الحاجة إليه، فالإمام -رحمة الله عليه- رأى أن الحاجة ماسَّة في عصره إلى تحقيق هذا التوحيد، وأن الناس من أهل زمانه أخلوا بهذا التوحيد حتى شابهوا من وجوه من بُعث فيهم الرسول -عليه الصلاة والسلام-، بحيث وجد الشرك بأنواعه.

Tema Kitab Tauhid secara global adalah mengenai tauhid ibadah atau tauhid uluhiyah. Hal ini disebabkan beliau -penulis- melihat betapa besarnya kebutuhan terhadapnya.

Sang Imam -Muhammad at-Tamimi- semoga Allah merahmatinya melihat bahwa kebutuhan sangat mendesak di masa beliau untuk mewujudkan tauhid dengan benar, dan bahwasanya umat manusia yang hidup di masanya telah melakukan penyimpangan dalam hal tauhid ini sampai-sampai mereka menyerupai dari banyak sisi dengan kondisi kaum yang dihadapi oleh Rasul ‘alaihis sholatu was salam di kala itu; yang mana ketika itu segala bentuk syirik ditemui (merajalela).

(lihat Transkrip Syarh Kitab Tauhid, bagian 1, hlm. 1)

Parahnya Kesyirikan di Masa Kini :

Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah berkata :

والإمام المجدد -رحمه الله- يقرر -رحمة الله عليه- أن الشرك في هذا النوع في العصور المتأخرة في زمنه -رحمه الله- أشدّ مما كان في زمن النبي -عليه الصلاة والسلام-، لماذا؟

لأن المشركين الذين بعث فيهم النبي -عليه الصلاة والسلام- يشركون في الرخاء، لكنهم يخلصون في الشدة، ومشركو زمانه -رحمة الله عليه- ومن بعدهم إلى يومنا هذا شركهم دائم في الرخاء والشدة

Sang Imam Mujaddid -semoga Allah merahmatinya- memberikan kesimpulan ilmiah bahwasanya syirik yang terjadi dalam jenis tauhid ini -tauhid ibadah- pada masa-masa belakangan terutama di masa beliau hidup lebih parah daripada yang terjadi di masa Nabi ‘alaihis sholatu was salam. Mengapa demikian? Karena kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi ‘alaihis sholatu was salam dahulu melakukan syirik pada saat lapang tetapi mereka memurnikan ibadahnya kepada Allah pada saat sempit/terjepit. Adapun kaum musyrik di masa beliau dan yang datang sesudahnya hingga hari ini maka kesyirikan mereka terus-menerus dalam kondisi lapang maupun sempit…

(lihat Transkrip Syarh Kitab Tauhid, bagian 1, hlm. 3)

Faidah Ayat Pertama :

قول الله تعالى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Allah menciptakan kita untuk beribadah kepadanya bukan karena kebutuhan Allah kepada kita. Akan tetapi dalam rangka memberikan kemuliaan bagi mereka yang taat kepada-Nya.

Allah berfirman (yang artinya), “Apabila kalian berbuat baik maka kalian berbuat untuk diri kalian sendiri.” (al-Isra’ : 7)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan Allah Yang Mahakaya sedangkan kalian adalah orang-orang yang fakir/butuh kepada-Nya.” (Muhammad : 38)

Perintah Beribadah :

Yang dimaksud perintah beribadah kepada Allah di sini adalah dengan mengesakan-Nya dan meninggalkan segala sesembahan selain-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada sesembahan yang satu.” (at-Taubah : 31)

Secara bahasa, ibadah bermakna merendahkan diri dan patuh (lihat Tafsir al-Baghawi, hlm. 1236)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu menafsirkan ayat tersebut -dalam adz-Dzariyat : 56-, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk Aku perintahkan mereka beribadah.” (lihat Tafsir al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an Jil. 19 hlm. 507)

Makna Ibadah :

Sa’id bin Jubair rahimahullah menafsirkan bahwa ibadah maknanya adalah ketaatan. Beliau menjelaskan, bahwa barangsiapa yang menaati perintah dan larangan Allah sesungguhnya dia telah menyempurnakan ibadah kepada-Nya. Adapun barangsiapa yang dalam beragama mengikuti dan menaati setan maka sesungguhnya dia telah beribadah kepada setan. Hal ini sebagaimana dimaksud dalam ayat (yang artinya), “Bukankah Aku telah mengingatkan kalian wahai anak Adam; jangan kalian beribadah kepada setan.” (Yasin : 60). Sementara yang dimaksud beribadah kepada setan itu adalah menaati mereka dalam beragama (lihat Jami’ Aqa’id Ahlil Atsar, hlm. 33-34)

Bersambung insya Allah…