al-Mubarok

Datangnya Dari Allah

Bismillah.

Tidaklah samar bagi seorang muslim bahwa segala macam nikmat yang kita rasakan adalah datang dari Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan apa pun nikmat yang ada pada kalian, itu adalah datangnya dari Allah.” (an-Nahl : 53)

Nikmat Allah yang begitu banyak ini pun akan Allah tambahkan kepada kita ketika kita mau mensyukurinya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Rabb kalian memberikan permakluman; Jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambahkan (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian kufur maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (Ibrahim : 7)

Dengan demikian syukur merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu untuk selalu membaca sebuah doa di akhir sholatnya. Doa itu berbunyi ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’ yang artinya, “Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahabi, dan al-Albani; lihat ta’liq kitab al-Bayan al-Murashsha’ Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hlm. 10 karya Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah)

Diantara ayat yang menunjukkan betapa besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia adalah firman Allah yang sering dibawakan oleh para ulama fikih dan ahli tafsir yang menunjukkan bahwa hukum asal segala sesuatu di bumi ini adalah halal dan suci, yaitu firman Allah (yang artinya), “Dia lah Yang telah menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi ini semuanya.” (al-Baqarah : 29). Ayat ini menunjukkan bahwa hukum asal segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah halal bagi kita baik itu berupa hewan, tumbuhan, bejana, dsb yang bisa kita manfaatkan dengan berbagai macam cara selama hal itu tidak dilarang oleh agama (lihat al-Ilmam bi Ba’dhi Ayatil Ahkam, hlm. 31 karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah)

Selain itu, Allah juga menurunkan air hujan bagi manusia sebagai sebab tumbuhnya tanam-tanaman, untuk memberi minum hewan ternak, dan bahkan untuk bersuci bagi hamba-hamba-Nya yang hendak menunaikan sholat. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Allah turunkan dari langit air (hujan) maka Allah keluarkan dengan sebab air itu berbagai buah-buahan/hasil pertanian sebagai rezeki untuk kalian…” (al-Baqarah : 22). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari langit air yang suci dan menyucikan.” (al-Furqan : 48). Begitu pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai air laut, “Laut itu airnya suci dan menyucikan, dan halal bangkainya.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Irwa’)

Ya, terlalu banyak nikmat Allah yang tidak bisa kita ceritakan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan jika kalian berusaha untuk menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan sanggup menghingganya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (an-Nahl : 18). Meskipun demikian Allah ridha kepada orang yang mensyukuri nikmat-Nya itu dengan mengakuinya, menceritakan nikmat yang diberikan oleh-Nya, dan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah serta tidak memanfaatkannya untuk bermaksiat kepada-Nya (lihat Ta’liqat Bahiyah ‘alal Qawa’id Fiqhiyah, hlm. 17 karya Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Apabila kita mau bersyukur kepada Allah maka ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa hal itu menjadi sebab Allah menahan azab-Nya kepada manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Allah akan berbuat dengan mengazab kepada kalian jika kalian bersyukur dan beriman, dan Allah itu Maha berterima kasih lagi Maha mengetahui.” (an-Nisaa’ : 147). Allah adalah asy-Syakur yaitu yang Maha berterima kasih. Allah mau menerima amalan walaupun sedikit. Tidak ada amalan yang Allah sia-siakan. Bahkan Allah akan lipatgandakan pahalanya (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hlm. 241 karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah)

Semoga catatan singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Prioritas Dakwah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI