Kelompok Minoritas Pemungut Pahala

Bismillah.

Di tengah hiruk pikuk dan pergolakan hidup manusia, selalu saja ada kesempatan terbuka baik untuk menabung pahala atau sebaliknya; menumpuk dosa. Sayangnya kita sering lalai di mana kah kita berada? Banyak orang tak sadar menggabungkan dirinya dalam kelompok durjana.

Kalau kita hendak mengukur segala sesuatu dengan materi dan uang, maka duduk satu atau dua jam untuk menyimak kajian atau membaca kitab Allah adalah perkara yang tidak menguntungkan sama sekali. Dan itulah kebanyakan standar yang digunakan oleh orang; secara sadar atau tidak sadar. Karena itulah Allah mengingatkan kita bahwa ‘betapa sedikit diantara hamba-Nya yang pandai bersyukur.’ Bahkan menaati kemauan mayoritas manusia di muka bumi ini ‘akan bisa menyesatkanmu dari jalan-Nya’. Maka, pilihan ada di tangan kita; apakah kita ingin bergabung dengan mayoritas yang larut dalam kebingungan ataukah bertahan di atas jalan kebenaran walaupun harus sendirian.

Saudaraku -semoga Allah merahmatimu- di zaman ini kita hidup bersama kumpulan manusia yang sering mencampakkan akhirat dan agama ke belakang punggungnya. Seolah akhirat itu masih lama, atau kiamat itu hanya dongeng belaka. Ketika mata hati manusia telah buta akan kebenaran, maka tingkah laku mereka dipastikan akan tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Padahal hidayah dan agama ini laksana cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup kita. Ia menjadi ruh yang menggerakkan ketaatan dan menumbuhkan amal dan keimanan.

Oleh sebab itu wajarlah jika sebagian ulama mengatakan, “Risalah adalah cahaya, ruh, dan kehidupan alam semesta. Apakah yang terjadi pada alam semesta tanpa adanya cahaya, ruh, dan kehidupan?”. Risalah merupakan landasan untuk taat dan berdzikir kepada Allah. Yang karena itu seorang hamba memahami tujuan hidupnya dan tunduk kepada Rabbnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perumpamaan orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari)

Ya, anda akan melihat di masa ini bahwa pahala seringkali ‘dianggap’ sebagai barang rongsokan, atau bahkan dikategorikan sebagai ‘sampah’ yang mengotori lingkungan pentas dunia. Sehingga jarang orang yang mau mengambil dan memungutnya, kecuali orang yang mengetahui nilai pahala dan kebutuhan dirinya kepada pahala itu di akhirat kelak. Anda mungkin akan mencela orang yang tidak disiplin melaksanakan tugas kantornya, tetapi di saat yang sama banyak kita saksikan manusia menganggap ringan perihal orang yang tidak menunaikan tugas hidupnya. Para atasan sering marah ketika anak buahnya tidak tepat waktu atau terlambat, tetapi di sisi lain banyak orang yang mengaku muslim dan hamba Allah tetapi tidak berang ketika sholatnya terlunta-lunta…

Ketika seorang rasul diancam oleh kaumnya dan mereka beralasan segan karena kedudukan kaum dan kabilah rasul itu yang bisa jadi akan memerangi mereka, maka rasul itu pun mengingatkan kepada umatnya (yang artinya), “Apakah kaum/keompokku lebih mulia daripada Allah di sisi kalian?…” Sebagaimana Allah mengingatkan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Dan kamupun takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak untuk kamu takuti…”   

Sebagian orang mungkin rela mengorbankan waktunya yang semestinya bisa digunakan untuk berdzikir, membaca al-Qur’an, sholat sunnah, atau menghadiri majelis ilmu, hanya demi mengejar serpihan-serpihan kesenangan dunia yang fana dan menipu. Tidak terasa memang, hanyut dalam kelalaian yang pada akhirnya akan membuahkan penyesalan berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua nikmat yang banyak orang tertipu dan merugi padanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). 

Banyak cara yang Allah tempuh untuk menyadarkan manusia tentang kebesaran dan keagungan-Nya, salah satunya adalah dengan menimpakan bencana dan musibah kepada hamba-hamba-Nya. Agar mereka kembali kepada-Nya, menyadari kesalahan mereka, dan mengisi waktu dan kehidupannya dengan kebaikan dan amal ketaatan. Semoga Allah mengampuni dosa dan kelalaian kita….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *