Suplemen Mengenal Tauhid # 3

Bismillah.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan kepada kita petunjuk dan nikmat yang begitu banyak. Diantara nikmat yang paling besar adalah nikmat hidayah. Karena itulah orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa; karena mereka mengikuti hidayah Allah dan mempertahankannya.

Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ini mengandung begitu banyak petunjuk dan bimbingan di jalan Islam. Bimbingan yang sangat dibutuhkan oleh setiap insan yang hidup di alam dunia ini. Bahkan di awal kitabnya ini, beliau membawakan firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Ayat yang agung ini memberikan arahan bagi setiap manusia bahwa tujuan hidup mereka yang sejati adalah untuk meraih kecintaan Allah dan ridha-Nya. Karena hakikat ibadah adalah melakukan hal-hal yang dicintai dan diridhai Allah, bukan dengan hanya memperturutkan kemauan hawa nafsu atau apa-apa yang dipandang baik oleh perasaan dan logika manusia.  

Allah ciptakan hamba-hamba-Nya dalam keadaan hanif; yaitu di atas agama yang benar alias Islam. Akan tetapi setan berusaha untuk menyimpangkan manusia dari jalan yang lurus. Setiap bayi yang lahir berada di atas fitrah, kemudian ayah dan ibunya yang membuat mereka beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama -yang benar- di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran : 19). Beribadah kepada Allah hanya akan benar dan diterima oleh Allah apabila ditegakkan di atas Islam dan tauhid. Tauhid itu sendiri merupakan pondasi Islam; karena ia merupakan kandungan dari syahadat laa ilaha illallah. Yang mana setiap rasul mendakwahkan kalimat tauhid laa ilaha illallah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus seorang pun sebelum kamu (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku -saja-.” (al-Anbiya’ : 25) 

Dengan demikian memahami tauhid adalah perkara yang sangat penting dan mendasar. Lebih penting bagi manusia daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman, bahkan lebih mendesak daripada air dan udara. Karena lenyapnya tauhid dalam dirinya akan menjadi pintu menuju kesengsaraan selama-lamanya. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (al-Ma-idah : 72)

Hakikat tauhid itu adalah dengan beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik serta berlepas diri darinya. Tidak cukup seorang beribadah kepada Allah jika sebagian ibadahnya ditujukan kepada selain-Nya. Semua ibadah harus murni dipersembahkan kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan kepada-Nya agama/amalan dengan hanif/bertauhid…” (al-Bayyinah : 5)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa amalan yang tercampuri syirik tidak akan diterima oleh Allah. Karena yang diterima oleh Allah hanya amal-amal yang ikhlas untuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110). Amal salih adalah amalan yang sesuai tuntunan rasul, sedangkan amalan yang ikhlas adalah amalan yang bersih dari syirik.

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya mendakwahkan Islam tanpa memprioritaskan tauhid adalah dakwah yang keliru dan menyimpang bahkan menyesatkan! Sebab tauhid adalah tujuan penciptaan setiap manusia; sebuah perkara yang jika orang tidak memahaminya maka itu artinya dia hidup dalam kebingungan dan ketidakjelasan. Laksana nahkoda yang kehilangan arah atau pengemudi yang tersesat di tengah jalan. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mewujudkan tauhid dalam kehidupan dan mematikan kita di atasnya. Allahul musta’aan.  

# Penyusun : Redaksi al-mubarok.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *