Suplemen Qawa’id Arba’ # 2

Bismillah.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sebagaimana risalah beliau yang lainnya, kitab al-Qawa’id al-Arba’ yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ini pun sarat dengan dalil; baik dari al-Qur’an ataupun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu di dalam risalah-risalahnya kita sering menjumpai bahwa beliau mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang beliau dakwahi. Misalnya beliau mengatakan ‘Semoga Allah merahmatimu’ atau ‘Semoga Allah berikan bimbingan kepadamu untuk taat kepada-Nya’. Doa dari seorang da’i atau pengajar untuk kebaikan kaum atau muridnya adalah tanda kecintaannya kepada mereka. Sebab salah satu kesempurnaan iman dalam diri seorang muslim adalah dengan mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai hal itu bagi dirinya sendiri. Dan hal itu merupakan bagian dari sikap dan sifat nasihat kepada sesama muslim.

Ketika Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab; maka itu semua adalah dalam rangka mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari jurang kehinaan menuju kemuliaan dan kebahagiaan yang hakiki. Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu kepada bayinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah untuk membawa petunjuk dan agama yang benar pun disifati oleh Allah sebagai seorang da’i yang lembut lagi penyayang kepada kaum beriman. Lebih daripada itu sesungguhnya diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan rahmat bagi segenap insan.

Doa dari seorang guru kepada muridnya adalah bagian dari sikap kelembutan dalam mengajak manusia kepada kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali semakin membuatnya bertambah buruk.” (HR. Muslim)

Doa merupakan bentuk perendahan diri dan ketergantungan hati kepada Allah yang menguasai segala sesuatu. Tidak ada kebaikan kecuali Allah yang menguasainya. Oleh sebab itu seorang da’i senantiasa dituntut untuk bertawakal kepada Allah di dalam dakwahnya. Tidaklah dia mengharapkan dengan dakwahnya selain melakukan perbaikan di tengah masyarakatnya dan demi mencapai keridhaan Allah dan cinta-Nya. Dakwah inilah jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebab kecintaan Allah kepada hamba. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali ‘Imran : 31)

Dari sinilah kita mengetahui besarnya kebutuhan umat manusia kepada risalah dan para ulama. Risalah atau ajaran para nabi merupakan cahaya dan ruh bagi alam semesta. Alam semesta ini berada dalam kegelapan dan kematian tanpa bersinarnya matahari risalah dalam kehidupan mereka. Kebutuhan manusia kepada ilmu dan hidayah jauh lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan, minuman, atau bahkan udara. Tanpa ilmu dan hidayah maka manusia akan menjalani kehidupan dunia bagaikan binatang yang hanya mencari kepuasan nafsu belaka. Seorang ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena adanya para ulama niscaya manusia itu menjadi berubah seperti binatang.” Bahkan manusia bisa jadi lebih sesat darinya….

Di bagian awal al-Qawa’id al-Arba’ ini penulis mendoakan kepada segenap pembaca risalahnya, “Aku memohon kepada Allah yang mahamulia; Rabb pemilik Arsy yang agung, semoga Allah menjadi penolongmu di dunia dan di akhirat…” Doa yang mencerminkan sifat kasih sayang dan kelembutan yang ada pada diri seorang da’i tauhid. Doa yang menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya ilmu dan dakwah itu ditegakkan di atas pilar kasih sayang. Semoga Allah merahmati Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menempatkannya di surga-Nya yang luas….

Penyusun : Redaksi al-mubarok.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *