Suplemen Mengenal Tauhid # 2

Bismillah.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, pada bagian awal Kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah tidak membawakan mukadimah khusus berupa khutbatul hajah atau yang semacamnya. Beliau langsung membuka kitabnya dengan basmalah kemudian membawakan ayat-ayat Allah dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apa yang beliau lakukan ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam Sahih-nya yaitu Sahih Bukhari. Di dalam Sahih-nya Imam Bukhari tidak membuat suatu mukadimah khusus yang menjelaskan kandungan kitab yang beliau susun. Beliau menuliskan basmalah dan langsung membawakan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini mengandung faidah bahwa yang paling memahami tentang hadits adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh sebab itu Imam Bukhari tidak membawakan perkataan siapa pun untuk memulai kitab haditsnya yaitu Sahih Bukhari selain perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri.

Demikian pula dengan Kitab Tauhid yang berisi penjelasan tentang hak Allah yang paling agung yaitu tauhid, maka tidak ada yang lebih memahami tentang tauhid selain Allah. Oleh sebab itu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengawali kitabnya langsung dengan menyebutkan ayat-ayat Allah yang mengandung keterangan tentang makna dan kedudukan tauhid. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu para ulama dan adab mereka yang sangat tinggi dalam memuliakan ilmu dan dalil-dalil al-Kitab maupun as-Sunnah. Karena al-Qur’an merupakan kalam Allah dan petunjuk dari-Nya yang akan menjelaskan kebenaran dan menyingkap kebatilan. Begitu pula hadits adalah wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya; bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.” Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Inilah jalan keselamatan yang akan membawanya menuju kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Apa-apa yang diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya merupakan wahyu yang datang dari Allah, bukan hasil pikiran atau mengikuti hawa nafsunya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah hal itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (an-Najm : 3-4). Oleh sebab itu para ulama kita mengatakan, “Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya dia berada di tepi jurang kehancuran.”

Demikianlah sikap seorang mukmin. Tunduk kepada ketetapan dan bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang yang lebih memilih mengagungkan akalnya dan membuang petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah maka dia akan tenggelam dan hanyut dalam penyimpangan, walaupun dia mengira berada di atas kebenaran! Imam Malik rahimahullah berkata, “as-Sunnah (ajaran Nabi) adalah -laksana- bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka pasti tenggelam/celaka.”

Oleh sebab itu Kitab Tauhid ini sarat dengan dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah, bukan semata-mata hasil pikiran manusia, produk budaya atau bualan-bualan filsafat. Seperti inilah salah satu ciri dan sifat dakwah sunnah; dakwah yang tegak di atas dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Yusuf : 108)

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk menjadi kaum bertauhid yang sejati.

# Penyusun : Redaksi al-mubarok.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *