Masuk Neraka Karena Salah Niat

Bismillah; dengan memohon pertolongan-Mu, Ya Allah…

Dalam sebuah bukunya yang membahas tentang sarana untuk mencari ilmu dan buah-buahnya, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili hafizhahullah menyebutkan sebuah hadits yang berisi peringatan keras atas kesalahan niat dalam menimba ilmu.

Hadits itu berbunyi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menimba ilmu (agama) untuk bersikap lancang/membanggakan diri kepada para ulama, atau untuk mendebat/melecehkan orang-orang dungu, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (mencari ketenaran) maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, al-Albani mengatakan hadits ini sahih lighairihi) (lihat al-’Ilmu, Wasa-iluhu wa Tsimaruhu, hlm. 18)

Hal ini mengisyaratkan bahwa penimba ilmu harus membersihkan hatinya dari segala hal yang merusak berupa tipu-daya/sifat curang, kotoran dosa, iri dan dengki, ataupun keburukan aqidah dan kejelekan akhlak. Ilmu adalah ibadah hati, dan tidak mungkin ilmu bisa diserap dengan baik kecuali apabila hati itu bersih dari segala hal yang mengotorinya. Sahl rahimahullah berkata, “Haram bagi hati yang memendam sesuatu yang dibenci oleh Allah ‘azza wa jalla untuk dimasuki cahaya/ilmu.” (lihat kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, hlm. 86)

Salah satu fenomena yang menunjukkan kerusakan niat adalah ketika sebagian orang membahas suatu perkara yang rumit dan pelik lalu dia bersemangat menelaah hal itu dengan sebaik-baiknya kemudian dia sebarkan hasilnya di sebagian majelis sementara tidak ada niat/motivasi di dalam hatinya ketika membahas masalah itu secara detail selain demi menampakkan kehebatan/berbangga diri di hadapan para ulama. Selain itu, ada pula sebagian orang yang membahas beberapa perkara ilmu hanya untuk tujuan mendebat/melecehkan orang-orang dungu/bodoh atau menyulut pertengkaran dan perdebatan yang tidak bijaksana (lihat keterangan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh Manzhumah Mimiyah, hlm. 94) 

Karena itulah seorang penimba ilmu hendaknya menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebagaimana telah diajarkan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada/hati kalian atau kalian tampakkan maka Allah mahamengetahuinya.” (Ali ‘Imran : 29). Setiap amalan dinilai dengan niatnya dan setiap orang akan diberi balasan selaras dengan niat yang tertanam di dalam hatinya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (silahkan baca nasihat Syaikh Husain al-’Awaisyah hafizhahullah dalam Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hlm. 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) yang seharusnya dia pelajari demi mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla sedangkan ternyata dia justru mempelajarinya untuk mencari suatu bentuk kesenangan/perhiasan dunia maka dia tidak akan mendapatkan bau harum surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dll dan dinyatakan sahih lighairihi oleh al-Albani) (lihat Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hlm. 11)

Dari sinilah kita bisa mengerti alasan para ulama semacam Imam Bukhari dan Imam Nawawi rahimahumallah yang mengawali kitab karya mereka dengan hadits innamal a’malu bin niyaat; sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya. Tidak lain dalam rangka mengingatkan para penimba ilmu agar terus-menerus meluruskan niatnya. Sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Tidaklah aku memperbaiki suatu hal yang lebih berat daripada niatku..”

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk ikhlas dalam beramal dan menuntut ilmu. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 22 Syawwal 1439 H

Redaksi al-mubarok.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *