Nikmat Sehat dan Waktu Luang

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, seorang mukmin akan bisa merasakan kebahagiaan dengan nikmat apabila dia mensyukuri nikmat itu. Dengan syukur itulah nikmat akan bertambah. Akan tetapi jika nikmat itu diingkari dan disalahgunakan maka ia akan berubah menjadi siksaan. Seorang ulama terdahulu mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan diri kepada Allah maka pada hakikatnya itu adalah malapetaka.” Diantara nikmat yang Allah berikan adalah kesehatan dan waktu luang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah nikmat yang membuat tertipu dan merugi kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Banyak orang tertipu dengan nikmat sehat dan waktu luang. Mereka gunakan waktunya untuk berbuat dosa dan penyimpangan. Mereka gunakan kesehatan untuk hura-hura dan mengumbar hawa nafsu dan keserakahan.

Pada umumnya kaum muda adalah yang diberi nikmat kesehatan dan waktu luang lebih banyak daripada kaum tua renta. Karena itu kaum muda yang tidak mengenal agama banyak larut dalam kesia-siaan dan foya-foya. Sehingga anak muda yang salih dan istiqomah menjadi terasing di tengah masyarakatnya. Dalam kondisi semacam itulah anak-anak muda yang tumbuh dalam ketaatan dan kebaikan menjadi pemuda hebat peraih keutamaan di hari kemudian. Sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya, salah satunya adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seharusnya nikmat sehat dan waktu luang ini digunakan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Banyak orang menuai penyesalan di masa tua atau bahkan penyesalan di akhirat gara-gara tidak menggunakan nikmat-nikmat itu sesuai tujuan pemberiannya. Generasi muda adalah harapan masa depan umat ini. Maka sudah semestinya mereka mengisi waktu mudanya dengan menimba ilmu agama dan mempersiapkan diri untuk hari akhiratnya. Karena masa muda bukanlah jaminan jauh dari kematian. Betapa sering kita mendengar orang-orang yang dicabut nyawanya dalam keadaan usianya masih muda dengan berbagai sebab yang mereka alami.

Tsabit al-Bunani mengatakan, “Beruntunglah orang yang banyak mengingat saat-saat datangnya kematian. Tidaklah seorang pun memperbanyak mengingat kematian melainkan pasti akan tampak pengaruh hal itu di dalam amalnya.” Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk menggunakan nikmat waktu luang dan kesehatan dengan sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *