al-Mubarok

Terhapus Seketika

Bismillah.

Salah satu perkara yang telah menjadi ketetapan dan pedoman pokok di dalam Islam adalah besarnya bahaya syirik dan wajibnya menjauhi segala bentuk syirik. Tidak ada seorang pun rasul melainkan memperingatkan umat akan bahaya syirik. Bahkan seandainya mereka -para nabi dan rasul- melakukan syirik pasti lenyap dan hancur semua kebaikan yang telah dikerjakan.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu -Muhammad-; Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65) 

Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu melakukan syirik niscaya akan terhapus semua amal yang telah mereka kerjakan.” (al-An’aam : 82)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lantas Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)

Oleh sebab itu para ulama menjelaskan bahwa semua amalan harus bersih dari syirik, karena bersihnya amalan itu dari syirik menjadi syarat diterimanya amal kebaikan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya antara Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Amalan yang bersih dari syirik merupakan hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba. Tanpa membersihkan diri dan amalan dari syirik maka seorang hamba telah melakukan sebuah kezaliman yang besar bahkan dosa yang paling berat di hadapan Allah.

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisaa’ : 48)

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas setiap hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, karena ibadah hak Allah semata. Barangsiapa beribadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah maka dia telah melakukan syirik. Dan syirik inilah yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka dan tidak bisa masuk surga selama-lamanya. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang pun penolong.” (al-Maa-idah : 72)

Oleh sebab itu pada hakikatnya semua perintah beribadah kepada Allah mengandung larangan dari berbuat syirik. Allah berfirman (yang artinya), “Dan beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36). Maka tauhid merupakan pondasi dan syarat diterimanya amalan. Tidak ada amalan yang diterima dan ketaatan yang dinilai kecuali jika ditegakkan di atas asas tauhid dan keikhlasan. Wallahul musta’an.


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh Ari Wahyudi; pengajar nahwu-shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok - Yayasan Pangeran Diponegoro (YAPADI). Dalam mengurus website ini alhamdulillah kami banyak dibantu oleh teman-teman relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Donasi Peduli Wabah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI