Bismillah.

Sudah menjadi sunnatullah, manusia menginginkan hidupnya bahagia. Akan tetapi banyak orang terjebak dalam pemahaman dan cara yang salah untuk meraih bahagia.

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Tidak tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat inilah puncak kebahagiaan hamba. Dan hal itu hanya bisa diperoleh dengan mengikuti petunjuk dari Allah. Dengan demikian mempelajari al-Qur’an adalah jalan untuk menjemput kebahagiaan insan. Sebagaimana berpaling darinya menjadi sebab kehancuran dan kesengsaraan hidupnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim). Mereka yang mulia adalah yang mengikuti al-Qur’an dan mereka yang dihinakan adalah yang meninggalkan dan menyelisihi ajaran-ajarannya.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3)

Iman adalah sebab utama kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa keimanan. Sebagaimana tidak ada petunjuk bagi mereka yang tidak mau mengikuti ajaran Kitabullah. Oleh sebab itu Allah menyebut al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kaum yang bertakwa; karena mau menundukkan hati dan hawa nafsunya kepada perintah dan larangan Rabbnya. Sehingga mereka pun bisa menyerap petunjuk yang Allah berikan melalui kitab dan rasul-Nya. Adapun orang yang kafir sama saja bagi mereka apakah diberikan peringatan atau tidak; mereka tetap keras tidak mau beriman.

Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (al-An’aam : 82). Semakin sempurna seorang hamba dalam mewujudkan nilai-nilai keimanan dan membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman maka akan semakin sempurna pula petunjuk dan keamanan yang akan dia dapatkan.

Adapun orang yang mengotori amal ibadahnya dengan syirik dan kezaliman maka mereka akan mengalami kerugian berat akibat kezaliman yang tidak ditinggalkan. Allah berfirman (yang artinya), “Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap amal-amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65). Betapa meruginya seorang hamba yang mengira amal-amalnya bisa mengantarkannya ke surga tetapi ternyata amalnya sia-sia dan justru menggiringnya ke neraka akibat tidak adanya ikhlas dan tauhid dalam dirinya!

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah Kami kabarkan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira sudah berbuat yang sebaik-baiknya.” (al-Kahfi : 103-104)   

Kerugian seorang hamba dan kesengsaraan akibat syirik dan kezaliman adalah kerugian yang sebenarnya. Betapa sering kita menyangka diri ini mencapai sukses gemilang dengan tumpukan prestasi dan penghargaan manusia; tetapi di saat yang sama lupa akan hakikat dosa dan kejahatan hati dan anggota badan yang mencerminkan ketidakikhlasan dan ketidakmurnian penghambaan kita kepada Allah. Kita sangka diri ini ikhlas, tetapi nyatanya diri ini haus sanjungan dan ucapan terima kasih. Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kotoran syirik dan dosa-dosa…

# Channel Telegram : Belajar Tauhid al-Mubarok (t.me/belajartauhidmubarok)