Mengenal Tauhid [Bagian 23]

Bismillah.

Alhamdulillah kembali dipertemukan oleh Allah dalam seri mengenal tauhid dengan memetik faidah dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah. Sebagaimana telah dibahas dalam beberapa bagian sebelumnya mengenai kandungan hadits Ubadah bin Shamit mengenai keutamaan tauhid bahwa tauhid menjadi sebab masuk ke dalam surga.

Perkara yang patut untuk kita cermati diantaranya adalah bahwa ternyata kalimat tauhid itu memiliki banyak konsekuensi. Diantaranya adalah wajibnya mengikuti rasul, sebab tidak bisa kita beribadah kecuali dengan mengikuti ajaran rasul. Selain itu kalimat tauhid juga memberikan konsekuensi wajibnya menolak peribadatan kepada selain Allah apa pun bentuknya, bahkan nabi sekali pun tidak boleh diangkat sebagai sesembahan. Jangankan menjadikannya sebagai tuhan, mengatakan ada manusia yang dianggap sebagai anak tuhan saja adalah kekafiran.

Selain itu, keyakinan terhadap tauhid ini pun tidak bisa lepas dari iman kepada hari akhir, sebab hasil dari amalan tauhid itu adalah balasan di surga dan hukuman di neraka bagi mereka yang meninggalkannya. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa pada hakikatnya dakwah tauhid yang diserukan oleh para nabi itu tegak pada tiga asas; mengesakan Allah dalam beribadah, wajibnya tunduk dan mengikuti rasul, dan iman kepada hari pembalasan. Inilah tiga pilar dakwah para nabi sebagaimana ditegaskan oleh para ulama.

Kemudian perlu kita ingat pula bahwa keutamaan bagi orang bertauhid ini memiliki syarat-syarat, tidak bisa diperoleh semata-mata dengan ucapan syahadat. Kalau lah ucapan syahadat dengan lisan itu cukup niscaya kaum munafikin tidak kekal di neraka. Sebagaimana pula perlu dipahami bahwa dalil-dalil tentang keutamaan tauhid tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk meremehkan maksiat. Hal ini bisa kita simpulkan dari dalil sebelumnya yaitu hadits Mu’adz yang dibawakan penulis Kitab Tauhid sebelum bab keutamaan tauhid ini. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Mu’adz pada saat itu menyebarkan hadits tersebut karena khawatir orang-orang bersandar dengan tauhidnya dan meninggalkan amal; alias meremehkan maksiat.

Di dalam hadits Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa orang-orang yang bertauhid dan melaksanakan konsekuensinya pasti akan masuk surga ‘bagaimana pun keadaan amalnya’. Para ulama menjelaskan bahwa maksud ‘bagaimana pun amalnya’ adalah; dia pasti masuk surga walaupun membawa dosa -di bawah syirik- dan sebelumnya bisa jadi mampir ke neraka, dan atau bisa juga bermakna kedudukannya di surga sesuai dengan amal-amal yang dilakukan olehnya selama hidup di dunia (lihat al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid, hlm. 26)

Dengan demikian hadits ini merupakan dalil ahlus sunnah untuk menyatakan bahwa ahli maksiat dari kalangan kaum yang bertauhid tidak kekal di neraka. Dengan keadilan-Nya bisa saja Allah menghukumnya atau dengan rahmat-Nya Allah berkenan mengampuni dosanya. Yang jelas tidak ada seorang pun ahli tauhid yang kekal di neraka; kalau dia memasukinya karena dosa yang tidak dia taubati sebelum matinya. Dan hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan keutamaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan itu pun menunjukkan keadilan Allah dengan menetapkan hukum yang tegas dan jelas bagi kaum musyrik dan kafir bahwa mereka kekal di neraka.

Sehingga hadits yang mulia ini pun menjadi bantahan yang sangat kuat bagi orang-orang yang menganut paham liberal yang menganggap bahwa Nasrani juga mengajarkan tauhid. Karena salah satu bagian dari persaksian itu adalah mempersaksikan bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah, artinya Nabi Isa ‘alaihis salam bukan sesembahan atau anak tuhan. Oleh sebab itu hadits ini merupakan dalil bahwa kaum Nasrani termasuk kalangan kaum musyrik dan tidak berhak masuk ke dalam surga. Sebagaimana orang-orang yang beribadah kepada nabi atau wali juga melakukan kekeliruan yang sama yaitu mengangkat manusia sebagai sesembahan selain Allah. Bedanya, kaum Nasrani mengakui dirinya bukan muslim, sementara para penyembah nabi dan wali banyak yang mengaku dirinya muslim. Maha suci Allah dari apa yang mereka lakukan.

Hal ini juga mengingatkan kita akan wajibnya mengingkari thaghut dan menjauhinya. Tidak cukup bertauhid saja tanpa berlepas diri dari syirik dan kekafiran. Sebagaimana Allah tidak meridhai kekafiran dan kesyirikan maka wajib bagi setiap muslim untuk tidak ridha kepadanya. Karena kecintaan seorang muslim mengikuti kecintaan Allah. Oleh sebab itu simpul keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi juga karena Allah maka sesungguhnya dia telah menyempurnakan imannya.

Dari sini kita juga mengambil faidah tentang wajibnya mempelajari hal-hal yang bisa merusak tauhid dan menghancurkannya. Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah berkata, “… sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya, demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak/menodainya.” (lihat asy-Syarh al-Mujaz, hal. 8)

Setelah membawakan hadits Ubadah bin Shamit, penulis Kitab Tauhid membawakan hadits dari Itban bin Malik radhiyallahu’anhu, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan banyak pelajaran bagi kita, diantaranya : keutamaan tauhid dimana ia menjadi sebab untuk selamat dari neraka dan dihapuskannya dosa-dosa, ucapan syahadat dengan lisan saja tidak cukup apabila tidak dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati, sebagaimana tidak cukup keyakinan tanpa diikrarkan secara lisan dengan kalimat syahadat, orang bertauhid yang sempurna tauhidnya maka ia akan diharamkan masuk neraka sejak awal; artinya dia akan langsung masuk surga, mengucapkan laa ilaha illallah tetapi juga berdoa kepada selain Allah maka ucapan syahadatnya itu tidak bermanfaat, dan faidah-faidah lainnya (silahkan baca dalam al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 28-29)

Orang yang ikhlas/bertauhid maka akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman/tauhid meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali (lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)

Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Maka terkecualikan dari keutamaan ini orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya (lihat at-Tam-hid, hal. 26).

Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa ucapan la ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu’tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka, sementara hadits ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertaubat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja pelakunya memang berhak menerima hukuman/siksa (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/46])

Hadits di atas juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa kalimat syahadat yang bisa menyelamatkan dari neraka adalah syahadat yang terpenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana sudah diterangkan dalam seri terdahulu, bahwa kalimat syahadat ini memiliki syarat-syarat, diantaranya adalah mengetahui kandungannya, meyakini kebenarannya, ikhlas dalam mengucapkannya, jujur alias tidak dusta dalam bersyahadat, mencintai kandungan ajarannya, menerima dan patuh kepada konsekuensinya, dan wajib mengingkari segala bentuk sesembahan selain Allah.

Hadits di atas juga mengandung faidah betapa pentingnya keikhlasan. Dimana syahadat sekali pun -cabang keimanan yang paling tinggi- tidak akan bermanfaat di sisi Allah apabila tidak disertai dengan keikhlasan. Ikhlas merupakan syarat diterimanya seluruh amalan. Tanpa keikhlasan maka amal-amal itu hanya akan terbang sia-sia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagai debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)

Kalimat laa ilaha illallah yang itu merupakan ucapan dzikir yang paling utama tidak bernilai di hadapan Allah tanpa dilandasi keikhlasan. Oleh sebab itu dzikir pun butuh pada keikhlasan. Demikian pula membaca al-Qur’an, berdakwah, mengajarkan ilmu agama, bersedekah; semuanya butuh kepada keikhlasan. Tanpa keikhlasan maka amal-amal yang dikerjakan hanya akan membawa malapetaka. Sebagaimana kisah yang sangat masyhur tentang tiga orang yang pertama kali diadili dan dijadikan sebagai bahan bakar pertama guna menyalakan api neraka.

Gara-Gara Tidak Ikhlas

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi’in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [Yang pertama] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan itu semua?”.

Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

[Yang kedua] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan itu semua?”.

Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

[Yang ketiga] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan itu semua?”.

Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim [1903])

Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:

[1] Dosa riya’ -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat hukumannya (lihat Syarh Muslim [6/531]). Riya’ merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, “Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”. Para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Yaitu syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat at-Tam-hid, hal. 397, al-Qaul al-Mufid [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, bagaimana lagi dengan orang seperti kita?

[2] Dorongan agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), “Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5) (lihat Syarh Muslim [6/531])

[3] Hadits ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya ikhlas karena Allah (lihat Syarh Muslim [6/531-532])

[4] Sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.” (al-Fawa’id, hal. 143)

[5] Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 26). Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.” (lihat al-Qaul al-Mufid [2/53])

[6] Tercela dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan al-Albani) (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 22)

[7] Amalan yang tercampuri syirik -contohnya riya’- tidak diterima oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)

[8] Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.” (HR. Nasa’i dan dihasankan al-Albani) (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21)

[9] Amalan yang besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnul Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Hati yang Ikhlas

Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita bimbingan dan pertolongan… sesungguhnya pada masa-masa seperti sekarang ini; masa yang penuh dengan ujian dan godaan serta kekacauan yang meluas di berbagai sudut kehidupan… kita sangat memerlukan hadirnya hati yang diwarnai dengan keikhlasan. Hati yang selamat, sebagaimana yang disinggung oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya), “Pada hari itu -hari kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara’: 88-89)

Ibnul Qayyim rahimahullah memaparkan, “Ia adalah hati yang selamat dari segala syahwat/keinginan nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta terbebas dari segala syubhat yang menyelisihi berita yang dikabarkan-Nya.” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam kebid’ahan dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari apa-apa yang disebutkan tadi, maka konsekuensinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [2/812])

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mensifatkan pemilik hati yang selamat itu dengan ucapannya, “…Ia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun serta berupaya untuk selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara…”. Kemudian, beliau juga mengatakan, “… amalnya ikhlas karena Allah. Apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15)

Orang yang ikhlas akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya (lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17) 

Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda (lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 19). Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya… ” (Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 17). Semoga Allah menjadikan kita orang yang ikhlas.  

Ciri-Ciri Keikhlasan

Orang yang benar-benar ikhlas merasa dirinya belum ikhlas. as-Susi berkata, “Ikhlas itu adalah dengan tidak memandang diri telah ikhlas. Karena barangsiapa yang mempersaksikan kepada orang lain bahwa dirinya benar-benar telah ikhlas itu artinya keikhlasannya masih belum sempurna.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86). Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan, bahwa Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata, “Apabila diceritakan tentang orang-orang salih, maka aku merasa bukan termasuk golongan mereka.” Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata ketika berdoa di Arafah, “Ya Allah, janganlah Engkau tolak doa orang-orang gara-gara diriku.” (lihat al-Ighatsah, hal. 115).

Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai orang yang riya’!”. Maka beliau menjawab, “Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.” (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 93)

Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).

al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Ilmu dan amal terbaik adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231). Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat ingin orang-orang mengetahui ilmu ini dalam keadaan tidak disandarkan kepadaku satu huruf pun darinya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)

Dari Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari, “Bagaimana sholat malammu?”. Maka beliau pun marah sekali, beliau berkata, “Demi Allah, sungguh satu raka’at yang aku kerjakan di tengah malam dalam keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam suntuk kemudian hal itu aku ceritakan kepada orang-orang.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 234)

Ibrahim at-Taimi adalah seorang ulama yang suka mengenakan pakaian ala anak muda. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau beliau itu ulama kecuali sahabat-sahabatnya. Beliau pernah berkata, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)

Tetesan Faidah Hadits Niat

Di dalam kitabnya Umdatul Ahkam, Imam Abdul Ghani al-Maqdisi rahimahullah (wafat 600 H) menyebutkan hadits pertama di dalam kitab Thaharah. Hadits ini berbicara tentang masalah niat. Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu hanya akan dinilai jika disertai dengan niat-niat.” dalam sebuah riwayat disebutkan, “dengan niat.” “Dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang telah dia niatkan. Barangsiapa hijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah karena dunia yang ingin dia gapai atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadits ini terkandung pelajaran yang sangat penting yaitu bahwasanya niat merupakan pondasi amalan dan wajibnya mengikhlaskan amalan. Oleh sebab itu kita wajib mengikhlaskan seluruh amal untuk Allah semata. Hal ini merupakan perwujudan makna syahadat laa ilaha illallah. Karena maksud kalimat tauhid itu adalah memurnikan segala ibadah untuk Allah semata; dan inilah yang dimaksud dalam hadits di atas. Dengan demikian isi hadits ini adalah kaidah yang sangat agung diantara pokok-pokok agama Islam. Karena pentingnya kandungan hadits ini Imam Bukhari rahimahullah mengawali kitabnya Sahih Bukhari dengan hadits ini (lihat keterangan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Minhatul Malil al-Jalil, 1/26-27)

Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi rahimahullah (wafat 1163 H) berkata, “Hadits ini merupakan pokok yang agung diantara pokok-pokok agama. Semestinya setiap hamba menghendaki wajah Allah ta’ala dalam amal-amalnya serta menjauhi pujaan selain-Nya. Karena orang yang ikhlas itulah yang beruntung sedangkan orang yang riya’ pasti merugi. Dan ikhlas itu tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang mengetahui keagungan Allah ta’ala dan pengawasan-Nya terhadap segenap makhluk-Nya…” (lihat Tuhfatul Muhibbin bi Syarhil Arba’in, hal. 39)

Hadits ini mengandung pelajaran bahwasanya barangsiapa melakukan amal karena riya’ atau ingin dipuji berdosa. Barangsiapa berjihad dengan niat semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah sempurna balasan untuknya. Barangsiapa berjihad karena Allah dan juga karena ingin mendapat ghanimah/harta rampasan perang maka pahalanya berkurang. Oleh sebab itu niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya seluruh amal (lihat keterangan Syaikh Abdullah alu Bassam rahimahullah dalam Taisir al-‘Allam, 16)

Demikian sedikit catatan faidah, semoga bermanfaat bagi kita.

Penyusun : www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com untuk sementara ini dikelola oleh Ari Wahyudi, seorang pengajar nahwu dan shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok

LEAVE A REPLY

    E-Book Gratis

    Pencarian

    Bangun Masjid!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI