Allah Yang Lebih Mengetahui

Bismillah.

Salah satu jawaban yang sering diucapkan oleh para ulama ketika ditanya mengenai suatu perkara dan mereka belum berani menjawabnya adalah perkataan ‘Allahu a’lamu’ yang artinya, “Allah Yang lebih mengetahui.” Ya, ucapan ini serupa dengan perkataan mereka ‘laa adri’ yang artinya, “Saya tidak mengetahui.” Sebagian ulama mengatakan bahwa laa adri itu sepertiga ilmu. Ada juga yang mengatakan bahwa ucapan ‘laa adri’ itu separuh dari ilmu.

Jawaban semacam ini bukan tidak berdasar. Bahkan Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam rupa manusia tentang kapan kiamat terjadi maka beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada si penanya.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu). Itu pula yang dipraktekkan oleh para sahabat ketika ditanya oleh Nabi lantas mereka ‘tidak berani’ menjawabnya, mereka mengatakan, ‘Allahu wa rasuluhu a’lamu’ yang artinya, “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Hal ini merupakan termasuk adab dan bagian dari kemuliaan akhlak seorang penimba ilmu. Suatu sifat terpuji yang selayaknya dimiliki seorang da’i dan pegiat dakwah. Kenapa demikian? Ya, jelas karena dakwah tauhid itu adalah dakwah yang berlandaskan ilmu bukan mengikuti arahan hawa nafsu. Ingat bukan ayat (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Yusuf : 108)

Syaikh Sa’id al-Qahthani menceritakan dalam salah satu bukunya mengenai keluhuran akhlak Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah -mufti agung Arab Saudi di masa itu- ketika ditanya mengenai suatu perkara lantas beliau pun mengatakan kepada seorang muridnya -yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak- dengan kalimat, “Wahai, Syaikh Abdurrahman, kami ini tidak berilmu…”

Di era teknologi informasi dan pesatnya perkembangan media sosial pada masa kita sekarang ini, sifat semacam ini kiranya perlu dimiliki oleh setiap kita. Biarlah yang berbicara dalam hal ilmu agama itu para ahlinya, jangan kita serahkan pembahasan ilmu agama kepada sembarang orang. Apalagi kita berikan kesempatan kepada orang-orang yang menyimpang pemikiran dan cara beragamanya.

Imam Muslim mencantumkan di bagian mukadimah Sahihnya sebuah ucapan Imam Ibnu Sirin rahimahullah yang artinya, “Sesungguhnya ilmu ini adalah bagian agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian itu.”

Apabila kita buka al-Qur’an, Allah dengan tegas memperingatkan (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (al-Israa’ : 36)

Imam Bukhari di dalam Sahihnya juga membuat bab dengan judul Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan. Para ulama menjelaskan, bahwa maksudnya adalah ilmu merupakan syarat benarnya ucapan dan amalan. Termasuk dalam ucapan ialah jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan kepada kita dalam perkara agama atau perkara apa saja.

Apabila ada orang yang sebenarnya tidak berilmu tetapi berlagak berilmu lantas berani memberikan jawaban atas suatu perkara maka orang semacam ini disebut oleh para ulama dengan istilah jahil murokkab alias ‘bodoh kuadrat’. Dia sebenarnya tidak mengetahui masalah itu tetapi sayangnya dia tidak mau menyadari kalau dirinya itu bodoh, alias sok tahu. Orang yang jahil murokkab ini sangat berbahaya di tengah masyarakat, terlebih lagi dalam urusan agama.

Berbicara agama tanpa ilmu bahkan termasuk dosa besar sebagaimana disebutkan dalam surat al-A’raaf ayat 33 (yang artinya), “…Dan kalian mengucapkan atas nama Allah apa-apa yang tidak kalian ketahui ilmunya.” Maka sudah selayaknya kita menjaga baik-baik lisan kita. Sebab tidaklah terucap suatu kalimat kecuali di sisinya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat.

Kesadaran seperti ini harus kita perkuat lagi di masa-masa sekarang ini. Bukan hanya berkaitan dengan lisan. Bahkan juga berkaitan dengan anggota badan kita yang lain. Kita harus lebih banyak belajar tentang muraqabah alias merasa diawasi oleh Allah. Salah satu tingkatan mulia dalam hal ibadah ialah ihsan dimana seorang beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau minimal dia yakin bahwa dirinya selalu dilihat oleh Allah dimana pun dia berada.

Ihsan itu mencakup dua keadaan. Keadaan minimal ialah merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah; ini dikenal dengan istilah maqam muraqabah. Keadaan yang lebih sempurna lagi adalah merasa seolah-olah dirinya melihat Allah secara langsung, dan yang dimaksud ialah menyaksikan kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat Allah; tingkatan ini biasa disebut dengan maqam musyahadah. Demikian keterangan ulama semacam Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah dan penjelasan guru kami Ustaz Abu Isa hafizhahullah.

Iman kepada hari akhir dan mengingat kematian adalah salah satu benteng untuk melindungi diri dari hanyut dalam dosa dan kemaksiatan. Sebagaimana nasihat seorang tabi’in bernama Tsabit al-Bunani rahimahullah, “Beruntunglah bagi orang yang banyak-banyak mengingat saat-saat datangnya kematian. Tidaklah seorang memperbanyak ingat kematian kecuali akan tampak pengaruh hal itu pada amal-amalnya.” Atsar ini dinukil oleh Syaikh Abdul Malik al-Qasim hafizhahullah dalam kitabnya Aina Nahnu min Haa’ulaa-i.

Mengimani hari pembalasan adalah perisai yang akan melindungi diri seorang hamba dari menceburkan dirinya dalam kedurhakaan dan kekufuran. Oleh sebab itu di dalam sholat kita selalu membaca surat al-Fatihah yang di dalamnya terkandung peringatan akan hari pembalasan, yaitu dalam ayat yang berbunyi ‘maaliki yaumid diin’ bahwa Allah yang menguasai hari pembalasan. Para ulama pun menarik kesimpulan bahwa dari ayat ini terkandung salah satu pilar ibadah yang sangat agung yaitu merasa takut kepada Allah atau khauf.

Hari kiamat itu tidak bisa diidentikkan dengan masa depan yang masih jauh, sebab hakikatnya orang yang mengalami kematian sudah menjumpai kiamat itu; yaitu kiamat kecil dan berakhirlah masa dan kesempatan baginya untuk beramal dan ia berpindah ke negeri pembalasan. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut hari akhir atau kiamat itu dengan istilah ‘besok’ seperti dalam ayat yang sering kita dengar (yang artinya), “Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dia persiapkan untuk menyambut hari esok.” (al-Hasyr : 18)

Semakin besar kekuatan iman seorang hamba kepada hari akhir dan semakin besar keyakinan merasa diawasi oleh Allah di dalam hatinya niscaya hal itu akan menjaga perilaku dan ucapannya. Itulah salah satu hikmah mengapa Allah mewajibkan kita untuk terus-menerus membaca surat al-Fatihah di dalam sholat lima waktu bahkan dalam setiap raka’at sholat yang kita kerjakan setiap harinya; yaitu demi menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan hari akhir.

Sebagaimana orang musyrik kekal di neraka karena syiriknya maka begitu pula orang yang tidak mengimani adanya hari kebangkitan dan pembalasan amal juga bernasib serupa. Karena mereka yang tidak mengimani hari pembalasan itu secara tidak langsung menuduh Allah tidak bijaksana dan ‘membiarkan’ alam semesta ini berjalan sia-sia dan main-main belaka. Mereka su’uzhan kepada Allah sehingga menganggap bahwa hidup ini hanya perjalanan waktu, manusia hidup seenaknya lalu mati begitu saja dan tidak ada yang membinasakan mereka selain masa.

Allah yang lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Allah pun tidak membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk dan bimbingan. Bukankah Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Bukankah Allah juga membangkitkan para ulama sebagai pewaris para nabi dan perjuangan dakwah mereka. Allah yang menciptakan alam semesta ini pasti Allah pula yang lebih mengetahui keadaan dan masalahnya.

Maka sungguh aneh orang yang mengelak dan menolak ketika diajak untuk kembali kepada hukum Allah dengan alasan bahwa hukum Tuhan tidak sesuai dengan semangat perkembangan jaman [?!]. Dan yang lebih mengerikan lagi ucapan sebagian kaum bahwa tidak ada itu yang disebut sebagai hukum Tuhan. Subhanallah! Tidaklah apa-apa yang mereka ucapkan melainkan kedustaan… Allahul musta’aan.

– – –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *