Bersihkan Hatimu

Bismillah.

Alhamdulillah, tidak henti-hentinya semestinya kita memuji Allah. Memuji Allah adalah bagian dari syukur kepada-Nya. Oleh sebab itu para ulama mengatakan, bahwa ‘alhamdulillah’ adalah kalimat dari setiap orang yang bersyukur. Diantara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat hidayah. Tahukah anda berapa besar nilai hidayah itu?

Ya hidayah ini terlalu mahal untuk dibeli dengan seluruh kekayaan dunia ini, atau bahkan dua kali lipatnya. Buktinya orang kafir di hari kiamat seandainya mereka mau menebus azab dengan dua kali lipat isi bumi maka Allah tidak menerimanya, karena mereka layak untuk diazab! Itulah keadilan Allah atas hamba-hamba-Nya. Kekafiran adalah dosa yang mengotori dan mematikan hati. Oleh sebab itu Allah menyebut orang-orang kafir sebagai ‘orang yang mati’. Dan Allah menyebut orang beriman dengan ungkapan ‘maka Kami pun menghidupkannya’ dan ‘Kami jadikan baginya cahaya’…

Nikmat hidayah itu -wahai saudaraku- lebih mahal daripada kemewahan harta yang dipuja banyak manusia. Tidakkah anda ingat motivasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, “Sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada seorang saja melalui perantara dakwahmu hal itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”

Kalau manusia mati-matian memburu harta, apakah tidak lebih layak manusia mati-matian berburu hidayah? Kalau anda mencela orang yang menghabiskan waktunya untuk berfoya-foya karena tidak menunjukkan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa; maka lebih layak lagi anda mencela orang yang menghabiskan waktunya untuk kesenangan yang fana tanpa sedikit pun tergerak untuk menimba ilmu agama dan membela ajaran nabinya.

Hidayah inilah yang bisa membersihkan hati manusia. Oleh sebab itu orang yang hatinya bersih mampu mengenali kebenaran dan tunduk kepadanya. Berbeda dengan orang yang hatinya sakit atau menyimpan kesesatan. Kebersihan hati ini butuh pada siraman hidayah. Karena itu setiap hari kita berdoa kepada Allah meminta hidayah. Kita pun berdoa kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘ala diinik’; wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu… 

Di masa-masa yang penuh dengan fitnah semacam ini, apa sebenarnya yang paling anda butuhkan? Apakah dengan gaji besar anda bisa bahagia dan masuk surga? Apakah dengan ketenaran anda bisa mencapai derajatnya shiddiqin dan syuhada’? Apakah dengan bermodal ketampanan dan kecantikan anda bisa meraih kemuliaan seperti kemuliaan ala kaum muda ash-habul kahfi? Berpikirlah seribu atau sejuta kali sebelum anda jual agama dan keyakinan anda demi menjilat serpihan dan ceceran kesenangan dunia yang semu dan sementara…

Saudaraku yang dirahmati Allah, terkadang kita merasa berada di jalan yang benar, tetapi kerapkali itu hanya perasaan dan pembelaan diri. Padahal kalau kita mau jujur dan bercermin kepada jalan para ulama salaf, barangkali kita akan menangis dan menjerit karena betapa jauhnya kita telah tenggelam dan terseret oleh fitnah-fitnah dalam keadaan kita tidak menyadari? Wallahul musta’aan

Apa yang bisa anda gunakan untuk menolak fitnah itu kalau bukan hidayah dan taufik dari Allah. Apakah dengan bermodal penampilan dan angan-angan anda merasa bisa selamat dari gempuran fitnah dari segala penjuru? Dari mana hidayah itu datang? Apakah ia akan datang seiring dengan kemalasan dan alasan-alasan yang kita kumpulkan; sementara kita sendiri tahu bahwa itu hanya alasan yang dibuat-buat, dan kita pun tahu kalau itu hanya kedok dan penipuan…

Bersihnya hati itu dengan siraman hidayah butuh perjuangan dan keseriusan. Inilah yang disebut oleh para ulama dengan jihadun nafs; yaitu berjihad menaklukkan hawa nafsu. Dan diantara bentuk perjuangan yang paling berat untuk membersihkan hati adalah perjuangan menuju ikhlas. Seperti dikatakan oleh sebagian salaf, “Tidaklah aku berjuang menaklukkan diriku dengan sebuah perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com untuk sementara ini dikelola oleh Ari Wahyudi, seorang pengajar nahwu dan shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok

LEAVE A REPLY

    E-Book Gratis

    Pencarian

    Bangun Masjid!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI