Belajar Tauhid Sebuah Kewajiban

Bismillah.

Telah dimaklumi bersama, bahwa tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali disertai dengan tauhid. Sebagaimana wajib memahami makna ibadah maka wajib pula memahami makna dan hakikat tauhid.

Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah dilandasi dengan puncak kecintaan dan puncak perendahan diri. Ibadah mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan; yang tampak dan tersembunyi. Ibadah harus murni untuk Allah, tidak boleh tercampuri syirik. Beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik; inilah hakikat tauhid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan kepahaman (fikih) dalam hal agama ini luas mencakup perkara pokok dan cabang-cabangnya. Dengan demikian memahami tauhid secara khusus dan akidah secara umum merupakan ilmu dan pemahaman yang paling mendasar dan paling wajib untuk dipahami. Karena itulah para ulama menyebut ilmu tauhid sebagai fikih akbar.

Ilmu tauhid memberi pondasi bagi setiap muslim dalam melakukan amal dan ketaatan. Ilmu tauhid inilah yang akan membuatnya bisa membedakan antara iman dan kekafiran, tauhid dan syirik, serta hal-hal yang bisa memperkuat atau melemahkannya. Perealisasian tauhid -sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan- bermakna ‘pemurnian tauhid dari syirik, bid’ah, dan maksiat’. dengan demikian setiap muslim harus mengenali hal-hal yang merusak tauhidnya dan menjaga diri darinya. Dan hal itu tidak bisa dikerjakan kecuali dengan landasan ilmu.

Sayangnya di masa sekarang ini banyak diantara kaum muslimin yang tidak paham tauhid sehingga mereka terseret dalam keyakinan atau amalan syirik dalam keadaan tidak sadar. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi ketika kesesatan itu dibela mati-matian dengan dalih mempertahankan tradisi nenek-moyang atau demi menyemarakkan dunia pariwisata. Yanglebih parah lagi ketika hal itu dimotori oleh para pembesar dari kalangan penguasa atau tokoh agama. Jadilah syirik dibungkus dengan kedok kecintaan kepada wali dan orang salih. Jadilah syirik dikemas dalam topeng pelestarian kearifan lokal dan menjaga keragaman budaya.

Ini semuanya berangkat dari ketidakpahaman terhadap tauhid dan syirik. Karena itulah mereka yang berjuang keras membela tauhid dianggap kolot dan kaku serta ekstrim. Di sisi lain orang-orang yang mengabdi kepada hawa nafsu dan menyebarkan pemikiran rusak diagung-agungkan sebagai tokoh cendekiawan dan pelopor persatuan. Inilah salah satu bentuk tipu daya setan; menghiasi kebatilan dengan ucapan dan propaganda yang menawan… Allahul musta’aan.   

Sebagian ulama pun memberi petuah, “Wajib atasmu meniti jalan kebenaran, janganlah kamu sedih karena sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Dan jauhilah olehmu jalan-jalan kebatilan, serta janganlah gentar karena banyaknya orang yang binasa.”

Apabila belajar tauhid sudah dianggap asing bahkan tidak diperlukan, tentu pemahaman tauhid semakin rancu di tengah umat. Jadilah kebenaran sebagai barang langka dan dimusuhi manusia. Sementara kebatilan dan kemungkaran terus dipromosikan dengan alasan kebebasan berpendapat dan iklim demokrasi. Apakah makna kebebasan jika manusia justru dibuat terbelenggu oleh jerat-jerat setan dan apa makna kebebasan jika manusia justru diperbudak oleh hawa nafsunya?

Dalam salah satu ceramahnya, Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menegaskan, ‘jangan sampai kita berada pada suatu keadaan dimana kita merasa sudah tidak butuh lagi tambahan ilmu tentang tauhid’. Jangan sampai kita seperti itu… Sebab itu adalah tanda kehancuran!

www.al-mubarok.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *