Tauhid Itu Apa?

Alhamdulillah atas nikmat islam dan sunnah. Banyak diantara kita yang ternyata belum menyadari agungnya nikmat hidayah. Hidayah terbesar yang kita peroleh adalah hidayah kepada Islam; yang dengannya kita terlepas dari kekafiran dan kesyirikan. Maka tidak heran jika setiap hari kita memohon hidayah kepada Allah agar tetap terus istiqomah di atas kebenaran.

Beberapa hari yang lalu seorang teman berkisah tentang perjumpaannya dengan sanak familinya dalam momen lebaran di Jakarta. Dalam ceritanya itu dia menyimpan sebuah faidah yang sangat bermakna. Singkat cerita, ada seorang saudaranya yang secara fisik berpenampilan islami dan terkesan punya semangat dakwah yang tinggi. Hanya saja, dia merasa keheranan dengan penampilan teman saya ini. Sebab teman sama sudah memelihara jenggot dan juga tidak isbal. 
 
Sampailah pembicaraan mereka mengenai apa sih yang dipelajari atau diajarkan pertama kali di pengajian-pengajian kalian; demikian kurang lebih isi pertanyaan saudaranya itu. Teman saya ini pun menjawab dengan polos, “Tauhid.” Eh, ternyata saudaranya malah bertanya, “Tauhid itu apa?” Ya, cukup mengagetkan… Bagaimana mungkin seorang muslim tidak mengenal tauhid… Karena itulah teman saya pun meminta agar saya menulis artikel ini. 
 
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, memang kehidupan ini sering menyeret kita kepada hal-hal yang menjauhkan manusia dari Rabbnya. Lebih tepatnya adalah berbagai bentuk fitnah dan kesesatan -walau dibungkus dengan kemasan indah- banyak memakan korban dari bani Adam. Padahal sejak dulu kala Allah telah berpesan kepada kita bahwa setan musuh yang nyata.  
 
Salah satu kenyataan pahit yang banyak kita temukan di masyarakat Islam adalah ketidakpahaman mereka mengenai pokok dan dasar agamanya yaitu tauhid. Mungkin kalau kita sebutkan kepada mereka iman kepada Allah, insya Allah mereka ‘nyambung’. Akan tetapi sayangnya ungkapan ‘iman kepada Allah’ ini pun masih global bagi mereka. Banyak orang menganggap iman kepada Allah itu cukup dengan meyakini Allah tunggal, Allah itu ada, Allah pencipta dan pemberi rezeki, dsb. Padahal keyakinan semacam itu telah dipegang oleh kaum musyrik jahiliyah dulu. 
 
Tauhid adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik. Dengan demikian tauhid tidak bisa terwujud dengan semata-mata memperbanyak ibadah atau amalan. Karena tauhid harus dibersihkan dari syirik dan kekafiran. Apabila amal dan ketaatan sebesar dan sebanyak apa pun tercampuri syirik dan kekafiran maka menjadi sia-sia dan sirna belaka. Seperti telah dijelaskan dalam firman Allah (yang artinya), “Sungguh jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)
 
Maka orang yang rajin sholat, berpuasa, berzakat, bahkan naik haji belum bisa dikatakan bertauhid kalau masih beribadah kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, berdoa kepada selain Allah, atau melakukan pembatal-pembatal islam lainnya. Inilah yang kiranya perlu untuk terus kita jelaskan kepada umat. Sebab, banyak orang yang belum mengerti. Kalau orang-orang yang dianggap aktifis dakwah saja belum paham tauhid, bagaimana lagi dengan orang awamnya?
 
Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat. Dan semoga Allah membalas kebaikan teman saya yang sudah memberikan nasihat kepada kita melalui kisah yang singkat ini. Sebagaimana kami memohon kepada Allah agar mengampuni dosa dan kesalahan kita semuanya. Tidak ada yang kami kehendaki selain perbaikan sejauh kami bisa, dan tidak ada taufik bagi kami kecuali dengan bantuan Allah…
 
Ditulis di Pogung Baru F 20 Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *