Aqidah dan Keikhlasan

Bismillah.

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, tidaklah samar bagi kita bahwa agama Islam ini memiliki dasar-dasar dan pondasi. Ibarat sebuah bangunan megah maka Islam juga ditopang oleh pondasi yang kuat dan kokoh.

Tidak sedikit diantara kita yang merasa sedih ketika rumah kita ambruk atau toko kita ludes terbakar. Ini adalah sebagian contoh musibah dunia yang menimpa bangunan-bangunan fisik. Tentu kita merasa rugi dan kehilangan. Berbeda halnya dengan musibah agama yang melanda jiwa dan hati nurani, banyak orang cenderung cuek dan merasa hidup tanpa masalah dengan tumpukan dosa apalagi kerusakan aqidah yang merajalela. 

Diantara buah ilmu aqidah Islam adalah bersihnya jiwa dari kotoran niat dan hal-hal yang merusak tauhid. Tidak bisa diabaikan bahwa keikhlasan dan kemurnian iman adalah faktor paling utama untuk membentuk kepribadian muslim sejati. Tanpa keikhlasan, seindah apa pun amalan akan terbang sia-sia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)

Para salafus shalih merupakan teladan dalam hal keikhlasan. Karena itulah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu menyebut para sahabat sebagai orang-orang yang paling bersih hatinya. Sebagaimana Allah memuji nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang memiliki hati yang salim/bersih. Bersihnya hati adalah pokok segala kebaikan. Apabila hati itu terkotori dengan dosa, syirik dan kebid’ahan maka rusaklah kehidupan insan. 

Semestinya perhatian kepada aqidah dan keikhlasan ini selalu kita jaga dan pelihara. Sebab diantara sebab kebinasaan adalah lalainya seorang hamba dari menjaga gerak-gerik hatinya. Sebagaimana Allah mengazab tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat gara-gara lenyapnya keikhlasan dari lubuk hatinya. 

Ikhlas bukan di lisan atau penampilan. Akan tetapi ikhlas itu berakar dari dalam hati, sebagaimana ketakwaan hakiki adalah tunduknya anggota badan kepada Allah secara lahir dan batin. Amalan yang sama bentuk dan penampilannya bisa berbeda jauh pahala dan balasannya karena faktor keikhlasan pada diri pelakunya. Ibnul Mubarok rahimahullah berkata, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal besar menjadi kecil juga karena niat.”

Orang-orang yang ikhlas akan berusaha untuk menyembunyikan amal-amal kebaikannya sebagaimana dia senang menyembunyikan dosa dan kesalahan serta aib-aibnya. Orang yang ikhlas melihat bagaimana penilaian Allah kepada diri dan amalnya, dan ia tetap tegar di atas al-haq walaupun banyak orang mencibir dan mencela dirinya. Bahkan orang yang ikhlas itu -sebagaimana dikatakan ulama- tidak mencari saksi atas amalnya selain kepada Allah. 

Orang yang ikhlas tidak terpedaya dengan pujian dan sanjungan orang kepadanya. Dia lebih mengetahui hakikat dan kekurangan dirinya daripada orang lain. Oleh sebab itu seorang hamba yang berjalan menuju Allah meniti jalan ini di atas dua sikap; menyaksikan curahan nikmat Allah kepadanya dan kesadaran penuh akan kekurangan dan aib pada diri dan amal perbuatannya. Dari situlah akan muncul kecintaan kepada Allah yang telah memberikan nikmat kepadanya dan lahir pula perendahan diri kepada Allah yang berhak menghukum dirinya atas segala dosa dan kejahatannya.

Sebagian salaf pun berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkah jiwaku dengan sebuah perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk mencapai ikhlas…” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *