Subhanallahi Wa Bihamdihi

Bismillah.

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan hadits dalam Bulughul Maram dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘subhanallahi wa bihamdih’ seratus kali niscaya akan terhapus dosa-dosanya (dosa-dosa kecil) walaupun ia seperti banyaknya buih lautan.” (Muttafaq ‘alaih)

Makna ucapan subhanallah (maha suci Allah) adalah : tersucikannya Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas baginya, baik berupa sekutu, teman/istri, anak, dan segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya. Yang dimaksud dosa-dosa di sini adalah dosa-dosa kecil, karena dosa besar tidak bisa terhapus kecuali dengan taubat. Keutamaan semacam ini hanya diperoleh bagi orang-orang yang komitmen dalam beragama, bukan bagi orang-orang yang senantiasa memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya dan suka menerjang larangan-larangan Allah (lihat keterangan Imam ash-Shan’ani rahimahullah dalam Subul as-Salam, 4/2097-2098)

Imam Bukhari rahimahullah mencantumkan hadits ini di dalam Sahih-nya dalam kitab ad-Da’awaat dan memberi judul dengan bab ‘Keutamaan Tasbih’. Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa istilah tasbih juga digunakan untuk menyebut segala bentuk ucapan dzikir dan bisa juga dipakai untuk menyebut sholat sunnah. Keutamaan yang disebutkan di dalam hadits tersebut bisa diraih apabila terpenuhi dua syarat : Pertama; menjauhi segala bentuk dosa besar yaitu dengan menunaikan segala kewajiban dan meninggalkan semua keharaman. Kedua; tidak terus-menerus dalam melakukan dosa kecil (lihat keterangan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Min-hatul Malik al-Jalil, 11/320-321)

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah juga menerangkan bahwa yang dimaksud oleh hadits ini adalah orang yang mengucapkan kalimat tersebut –subhanallahi wa bihamdihi– sebanyak seratus sekali secara berturut-turut, bukan secara terpisah-pisah atau dicicil. Bacaan ini bisa dibaca ketika awal siang atau di pagi hari, bisa juga dibaca ketika sore hari atau di awal malam (lihat Min-hatul Malik al-Jalil Syarh Shahih Muhammad ibn Isma’il, 11/321)

Di dalam bacaan dzikir ini telah tergabung dua bentuk dzikir yaitu tasbih dan tahmid. Sehingga di dalam bacaan ini kita diajari untuk menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan aib serta untuk memuji Allah atas segala nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kita (lihat keterangan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam Tas-hil al-Ilmam, 6/316)

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa pujian atau al-hamd adalah menyebut-nyebut sifat-sifat terpuji pada Dzat yang disanjung -yaitu Allah- yang disertai dengan perasaan cinta dan pengagungan kepada-Nya (lihat Syarh Manhaj al-Haq, hal. 19)    

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah juga menjelaskan bahwa ucapan tahmidalhamdulillah atau wa bihamdihi dsb- mengandung penetapan segala macam kesempurnaan pada diri Allah baik dalam hal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya (lihat kitab beliau Fadha’il al-Kalimat al-Arba’, hal. 23)

Suatu pujian tidaklah dikatakan pujian yang sempurna kepada Allah kecuali apabila disertai dengan kecintaan dan ketundukan kepada-Nya. Suatu pujian yang tidak diiringi dengan kecintaan dan ketundukan maka itu bukanlah pujian yang sempurna (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Lathif al-Mannan, hal. 10)

Disebutkan dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahwa ucapan yang paling Allah cintai adalah ‘subahanallahi wa bihamdihi’.” (lihat Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’aa’ karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah, hal. 10)

Dianjurkan pula untuk membaca ‘subhanallahi wa bihamdihi’ seratus kali setiap pagi dan sore berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ketika pagi dan sore ‘subhanallahi wa bihamdihi’ seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang dia bawa kecuali orang yang melakukan seperti apa yang dia lakukan atau menambah padanya.” (lihat Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’aa’, hal. 13)

Suatu pujian yang disebut dengan al-hamd bisa mengandung dua makna; pujian atas nikmat dan ini termasuk dalam cakupan syukur, atau bermakna pujian atas kesempurnaan sifat yang dimiliki oleh Allah. Syukur terwujud karena adanya nikmat, sementara pujian/hamd terwujud karena limpahan nikmat maupun sebab-sebab yang lain. Oleh sebab itu hamd/pujian lebih luas daripada syukur. Dengan demikian setiap orang yang ber-tahmid/memuji Allah -dengan lisan- sedang bersyukur kepada-Nya, tetapi tidak setiap orang yang bersyukur dalam keadaan ber-tahmid dengan lisan; karena syukur juga bisa berbentuk keyakinan hati dan amal perbuatan badan (lihat keterangan Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim at-Tanzil, hal. 9)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Ucapan alhamdulillah merupakan kalimat setiap orang yang bersyukur.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/128) 

Ucapan alhamdulillah merupakan doa yang paling utama, sedangkan ucapan laa ilaha illallah adalah kalimat dzikir yang paling utama. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah laa ilaha illallah sedangkan doa yang paling utama adalah alhamdulillah.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

Apabila kita telah memahami bahwa di dalam kalimat subhanallah terkandung penyucian atas diri Allah dari segala hal yang tidak pantas bagi-Nya -dan salah satunya adalah penyucian Allah dari segala bentuk sekutu dan sesembahan tandingan- jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya di dalam kalimat subhanallah telah terkandung pula makna kalimat laa ilaha illallah. Sebagaimana Allah juga terpuji karena keesaan-Nya dalam hal ibadah; sehingga kita memuji-Nya. Oleh sebab itulah –wallahu a’lam– mengapa di dalam hadits di atas -dalam riwayat Muslim- disebutkan bahwa kalimat subhanallahi wa bihamdihi merupakan ucapan yang paling dicintai oleh Allah.

Dan yang tidak kalah penting daripada itu adalah bahwa kalimat ini –subhanallahi wa bihamdihi– memberikan faidah bagi kita untuk selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang tidak terhingga dan untuk terus beribadah kepada-Nya dengan ikhlas serta menjauhi syirik. Kita pun harus cinta dan tunduk kepada Allah dengan sepenuhnya. Di sisi lain kita harus terus bertaubat dari dosa dan kesalahan kita, karena dosa-dosa itu akan terhapus dengan sempurna jika kita meninggalkan dan bertaubat dari dosa besar maupun dosa kecil.

Kita tidak boleh meremehkan dosa walaupun itu bukan dosa besar. Karena dosa-dosa kecil itu apabila dibiarkan akan membinasakan pelakunya, terlebih lagi jika kita juga meremehkannya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah gunung; dia khawatir gunung itu akan hancur menimpa dirinya…”

Semoga catatan singkat ini bermanfaat bagi kita. Wallahul muwaffiq.   

— 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *