Hidup Tanpa Tujuan

Bismillah.

Hidup ibarat sebuah kendaraan. Apabila pengendara mengetahui tujuan maka dia akan berjalan menuju arah yang benar. Akan tetapi apabila si pengendara tidak mengetahui tujuan maka ia akan berjalan kesana kemari tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Orang yang hidup di alam dunia tanpa mengetahui apa tujuan hidupnya bisa dipastikan hanyut dalam kelalaian dan kesia-siaan. Habis waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna. Habis tenaganya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Dan habis pula hartanya untuk melakukan hal-hal yang tidak mendatangkan pahala dan kebaikan. Itulah kerugian.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Waktu adalah nikmat dari Allah. Orang yang tidak punya waktu tidak akan bisa melakukan amal salih. Orang yang tidak punya waktu tidak bisa menimba ilmu. Orang yang tidak punya waktu tidak akan bisa berdzikir kepada Allah. Bahkan orang yang tidak punya waktu juga tidak bisa makan, minum, dan beristirahat. Begitu berharganya waktu sampai-sampai Allah bersumpah dengan waktu secara umum atau waktu ashar secara khusus untuk menunjukkan kepada kita bahwa banyak orang merugi gara-gara tidak pandai memanfaatkan waktunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah nikmat yang kebanyakan orang merugi dan tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Abu Hazim rahimahullah berkata, “Semua nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah pada hakikatnya itu adalah malapetaka.”

Malapetaka penghambaan kepada selain Allah. Itulah yang banyak menimpa manusia. Sehingga kebanyakan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Kebanyakan manusia tidak beriman dan tidak tunduk kepada agama-Nya. Kebanyakan manusia terjerumus dalam syirik dan kekafiran. Hal itu terjadi karena mereka tidak menggunakan nikmat hidup ini sebagaimana mestinya. Padahal Allah menciptakan kita untuk mewujudkan penghambaan kepada-Nya -yang ini merupakan satu-satunya jalan untuk bahagia-. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Tujuan hidup setiap insan adalah untuk mewujudkan ibadah kepada Allah. Hal itu bukan karena Allah butuh kepada kita atau ibadah kita. Akan tetapi karena sesungguhnya ibadah itulah yang akan mengantarkan kita kepada bahagia yang sesungguhnya. Tidak ada kebahagiaan tanpa ibadah kepada Allah. Allah mahakaya, Allah tidak butuh kepada amalan kita. Kita lah yang butuh kepada bantuan dan pertolongan serta hidayah-Nya. Sebab milik Allah semata segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang menanggung rezekinya. Lalu kepada siapa kita hendak meminta dan bersandar kalau bukan kepada-Nya?!

Banyak orang mengira bahwa ibadah adalah beban yang menyusahkan, padahal sesungguhnya ibadah itu adalah kebutuhan setiap insan. Hal ini timbul karena dua sebab; karena tidak memahami hakikat ibadah itu sendiri atau karena tenggelam dalam hawa nafsu dan rayuan setan. Ibadah mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah. Ibadah bukan hanya sholat atau membaca al-Qur’an. Ibadah juga mencakup berbuat baik kepada sesama dengan niat ikhlas karena Allah. Ibadah juga mencakup menyingkirkan gangguan dari jalan karena Allah. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibadah kepada Allah harus memenuhi dua syarat; yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk dan bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110). Amal yang salih adalah amal yang sesuai dengan tuntunan. Dan amal yang ikhlas adalah yang dilakukan murni karena perintah Allah dan mengharap pahala-Nya.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan bagi-Nya agama/amal dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya antara Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Amal yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah kami kabarkan mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia amal usahanya di dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira bahwa telah melakukan kebaikan dengan sebaik-baiknya.” (al-Kahfi : 103-104)

Begitu pula amalan yang menyimpang dari tuntunan akan tertolak di hadapan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan termasuk dari ajarannya niscaya tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim juga disebutkan dengan redaksi, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami pasti tertolak.”

Dari sini jelaslah bagi kita bahwa setiap manusia memiliki satu tujuan hidup yang harus dia kejar dan wujudkan. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Beribadah kepada Allah artinya tunduk kepada agama-Nya dan mengikuti rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa’ : 80)

Hanya dengan beribadah kepada Allah dan mengikuti nabi manusia akan meraih kebahagiaan. Barangsiapa mengira bahwa ia bisa bahagia dengan kufur kepada Allah atau dengan syirik kepada Allah atau dengan meninggalkan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Dan orang yang mengetahui bahwa dirinya telah menyimpang dari jalan yang benar semestinya sadar dan kembali meniti jalan lurus itu. Akan tetapi banyak orang yang menyimpang dari kebenaran sementara dirinya mengira di atas kebaikan. Aduhai, betapa malang nasib orang-orang yang menikmati syirik dan kekafiran dan menyangka bahwa syirik dan kekafiran itu akan membawa mereka menuju surga…

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan ia terombang-ambing dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dirinya ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115)

Kepada Allah semata kita memohon petunjuk dan pertolongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *