Faidah Hadits Jibril [bagian 2]

Materi :

– Jibril Mengajarkan Ilmu Agama

– Kedudukan Hadits Jibril

– Riwayat Hadits Jibril

Jibril Mengajarkan Ilmu Agama

“… Tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya namun tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh. Meskipun demikian tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya…”

Itulah potongan hadits yang mengisahkan kedatangan malaikat Jibril di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dia datang dalam bentuk seorang lelaki yang berpakaian bersih dan berambut rapi. Kemudian dia duduk di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan kepada beliau tentang islam, iman, ihsan dan seputar hari kiamat.

Pada bagian akhir hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu selang beberapa hari sesudah kejadian itu, “Itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan tentang agama kalian.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits tersebut, malaikat Jibril menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang islam, maka beliau menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika kamu mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Inilah yang kita kenal dengan istilah ‘rukun islam’.

Jibril pun bertanya tentang iman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Inilah yang dikenal dengan ‘rukun iman’.

Beliau juga bertanya tentang ihsan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya, dan jika kamu tidak mampu -beribadah- seolah-olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ketika Jibril bertanya tentang kapan hari kiamat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.” Hal ini menunjukkan bahwa kapan terjadinya hari kiamat itu tepatnya merupakan ilmu yang menjadi rahasia Allah, bahkan malaikat Jibril dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengetahuinya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan tercantum dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Begitu agungnya kandungan hadits ini sampai-sampai Imam Muslim rahimahullah menempatkannya di bagian pertama di dalam Kitab al-Iman dalam Sahih-nya. Demikian pula Imam Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits ini pada urutan kedua di dalam kitab ringkas beliau yang sangat populer yaitu al-Arba’in an-Nawawiyah.

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah telah menyusun sebuah buku khusus yang mengupas untaian faidah dan pelajaran dari hadits yang agung ini dengan judul ‘Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim ad-Dien’ (Penjelasan Hadits Jibril Tentang Pengajaran Ilmu Agama). Kitab ini bisa dibaca di dalam kumpulan karya beliau yang berjudul Kutub wa Rasa’il ‘Abdil Muhsin (3/7-80).

Hadits ini mengandung lautan faedah. Sedikit gambaran saja, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, di dalam Syarh Arba’in-nya merangkum faedah hadits ini hingga mencapai 28 faedah. Penyusun kitab al-Fawa’id adz-Dzahabiyah min al-Arba’in an-Nawawiyah juga berusaha menorehkan faedah-faedah hadits ini hingga mencapai 31 faedah.

Salah seorang murid Syaikh al-Albani Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah dalam daurah Shahih Muslim di Yogyakarta pada tahun 1430 H memetik faedah-faedah dari hadits ini hingga mencapai 41 faedah. Syaikh Yahya al-Hajuri hafizhahullah -seorang murid Syaikh Muqbil al-Wadi’i- di dalam syarah/penjelasan beliau terhadap hadits ini ketika membahas al-Arba’in an-Nawawiyah merangkum faedah hadits ini hingga mencapai 70 faedah (kitab ini kami peroleh dari hadiah seorang teman, semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan).

Kedudukan Hadits Jibril

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Hadits ini dapat disebut sebagai Ummus Sunnah/induknya as-Sunnah; karena ia mengandung perpaduan berbagai ilmu as-Sunnah.” (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari [1/154])

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa hadits ini mengumpulkan berbagai macam ilmu, pengetahuan, adab, dan menyimpan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga. Bahkan ia merupakan pokok Islam…” (Syarh Muslim [2/18]). Maka tidak mengherankan jika an-Nawawi sendiri telah memasukkan hadits ini di dalam kumpulan 42 hadits yang berisi pokok-pokok ajaran Islam yang dikenal dengan nama al-Arba’in an-Nawawiyah.

Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits yang sangat agung yang mengandung segala tugas amalan lahir maupun batin, ilmu-ilmu syari’at seluruhnya berporos kepadanya dan bercabang darinya; karena hadits ini telah memadukan seluruh kandungan ilmu Sunnah. Maka, hadits ini bagaikan induk bagi Sunnah, sebagaimana halnya al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an/induknya al-Qur’an karena surat itu mengandung perpaduan seluruh makna ajaran al-Qur’an.” (Syarh al-Arba’in, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 48)

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Hadits itu merupakan hadits yang sangat agung kedudukannya, ia mencakup penjelasan seluruh -pokok- ajaran agama. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan di akhirnya, “Ini adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian kepada kalian.”…” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 35)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Hadits ini memiliki banyak faedah, seandainya ada seseorang yang ingin memetik pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya baik secara manthuq, mafhum ataupun isyarat niscaya dia akan menulis menjadi satu jilid kitab…” (Syarh al-Arba’in, hal. 56)

Riwayat Hadits Jibril

Berikut ini terjemahan teks hadits Jibril lengkap dengan sanadnya sebagaimana yang dicantumkan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya:

Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki’ menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya’mar.

Ubaidullah bin Mu’adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: Ayahku menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Kahmas menuturkan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari Yahya bin Ya’mar, dia berkata:

Dahulu, yang pertama kali menolak takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Suatu ketika, aku beserta Humaid bin Abdurrahman al-Himyari memutuskan untuk bersama-sama berangkat menunaikan haji atau umrah, kami berkata,

Seandainya kita bisa dipertemukan dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita tanyakan kepadanya mengenai apa yang dilontarkan oleh orang-orang itu seputar masalah takdir.”

Maka kamipun dipertemukan dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab tatkala masuk ke dalam masjid. Kemudian aku dan temanku memeluknya. Seorang dari kami memeluk dari sebelah kanan, sementara yang lain dari sebelah kiri. Aku pun mengira bahwa temanku akan menyuruh diriku untuk berbicara. Aku pun berkata,

Wahai Abu Abdirrahman -panggilan Ibnu Umar-, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang suka membaca/menghafal al-Qur’an dan gemar mengumpulkan ilmu -lalu dia menceritakan keadaan mereka- akan tetapi mereka mengklaim bahwa takdir itu tidak ada, dan semua urusan itu terjadi begitu saja/tidak ditakdirkan sebelumnya.”

Maka dia -Ibnu Umar- berkata,

Apabila kamu bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka juga berlepas diri dariku. Demi tuhan yang dengannya Abdullah bin Umar bersumpah, seandainya salah seorang di antara mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud lalu dia infakkan niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.”

Lalu dia -Ibnu Umar- berkata: Ayahku Umar bin al-Khaththab menuturkan kepadaku, dia berkata:

Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian yang sangat putih dan memiliki rambut yang sangat hitam. Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan.

Namun, tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenali identitasnya. Sampai akhirnya dia duduk di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian meletakkan kedua lututnya di depan lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya.

Lalu dia berkata, “Wahai Muhammad, beritakan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana.” Maka dia -lelaki asing itu- berkata, “Kamu benar.”

Dia -Umar- berkata, “Kami pun terheran-heran terhadap ulahnya. Dia yang bertanya kepada beliau, namun di saat yang sama dia juga yang membenarkan jawabannya.”

Lalu dia -orang itu- bertanya, “Beritakan kepadaku tentang Iman.”

Beliau -Nabi- menjawab, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu juga harus beriman kepada takdir yang baik ataupun yang buruk.” Dia berkata, “Kamu benar.”

Lalu dia berkata, “Beritakan kepadaku tentang Ihsan.”

Beliau menjawab, “Yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Kalau kamu tidak bisa seolah-olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lalu dia berkata, “Beritakan kepadaku tentang waktu hari kiamat.”

Beliau pun menjawab, “Orang yang ditanyai tidak lebih tahu daripada yang bertanya.”

Maka dia berkata, “Kalau begitu beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya?”

Beliau menjawab, “Yaitu ketika seorang budak perempuan melahirkan tuannya. Dan ketika kamu melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, yang miskin dan pekerjaannya menggembalakan kambing sudah berlomba-lomba meninggikan bangunan.”

Dia -Umar- berkata: Lalu dia pergi, dan aku diam selama beberapa waktu. Kemudian beliau -Nabi- berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”.

Aku jawab, “Allah dan rasul-Nya lebih tahu.” Beliau berkata, “Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.”

(HR. Muslim no. 8)

Kesimpulan dan Faidah :

> Hadits Jibril berisi pokok-pokok ajaran agama Islam

> Di dalam hadits ini diterangkan tentang makna islam, iman, dan ihsan

> Hadits Jibril adalah hadits yang sangat agung sehingga disebut sebagai induk dari hadits

> Hadits Jibril mengandung banyak pelajaran berharga bagi penimba ilmu

> Banyak ulama yang telah menjelaskan kandungan faidah dari Hadits Jibril

> Penting bagi kita untuk menggali faidah-faidah dari Hadits Jibril

Pertanyaan Evaluasi :

– Sebutkan hal-hal penting yang disebutkan di dalam Hadits Jibril!

– Sebutkan nama sahabat yang meriwayatkan Hadits Jibril dalam Sahih Muslim!

– Hadits ini juga diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari sahabat siapa?

– Sebutkan lima rukun Islam!

– Sebutkan enam rukun iman!

– Apa yang dimaksud dengan ihsan?

– Sebutkan nama 2 orang tabi’in yang bertanya kepada Ibnu Umar dalam riwayat hadits di atas!

– Siapakah nama orang yang pertama kali mencetuskan paham menolak takdir?

– Hadits Jibril ini dicantumkan oleh Imam Muslim pada Sahihnya dalam kitab apa?

One thought on “Faidah Hadits Jibril [bagian 2]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *