Merdeka dengan Tauhid!

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.

Umat manusia merasa gembira dengan sebuah kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan dan penindasan artinya adalah bebas dari belenggu dan kehinaan. Oleh sebab itu begitu banyak perjuangan dan pengorbanan yang diberikan demi terwujudnya kemerdekaan.

Akan tetapi banyak orang lupa, bahwa kemerdekaan itu menjadi tidak ada artinya ketika kebebasan justru dijadikan sebagai pembenar untuk melakukan berbagai bentuk pelanggaran dan kejahatan. Ketika kemerdekaan dimaknai dengan kebebasan ala binatang dimana manusia tidak peduli dengan halal dan haram, baik dan buruk, karena yang mereka kejar adalah kepuasan dan kesenangan semu.

Padahal, kemerdekaan itu hanya akan bisa menjadi kebahagiaan ketika ia digunakan untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya. Memang merdeka dari penjajahan adalah nikmat dan anugerah. Akan tetapi nikmat bisa berubah menjadi lahan petaka ketika nikmat itu tidak disyukuri dengan sebaik-baiknya. Seperti yang diungkapkan oleh Abu Hazim rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak menambah semakin dekat kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.”

Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan benar-benar Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang jauh lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)

Kebahagiaan dan kehidupan yang baik hanya bisa diraih dengan iman dan amal salih. Adapun semata-mata bernafas, berjalan, berlari, makan dan minum serta buang air maka ini bukanlah standar kebahagiaan yang sejati. Betapa banyak manusia yang hidup dan sehat secara fisik tetapi mati dan sakit secara ruhani. Betapa banyak orang yang matanya melihat tetapi tidak pernah mau membaca ayat-ayat Allah dan mengkaji hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hidupnya hati adalah dengan dzikir, iman dan ketaatan. Sebagaimana rusaknya hati disebabkan oleh kelalaian, kekafiran dan kemaksiatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang selalu mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak pernah mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari)

Orang yang selalu mengingat Allah akan sadar akan curahan nikmat yang Allah berikan kepadanya, maka dia pun akan berusaha mensyukurinya. Orang yang selalu mengingat Allah akan sadar akan betapa banyak dosa dan kesalahan yang telah diperbuat olehnya, sehingga dia akan tergerak untuk beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. Orang yang mengingat Allah maka akan berusaha menghiasi detik-detik lembaran hidupnya dengan iman dan amal salih.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam. Sesungguhnya kamu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap berlalu suatu hari maka berlalu pula sebagian dari dirimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Dua buah nikmat yang kebanyakan manusia terpedaya dengannya yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa waktu, kesehatan, dan nikmat yang Allah berikan adalah ujian bagi manusia. Ujian untuk melihat siapakah diantara manusia yang benar-benar beriman kepada Allah dan tunduk kepada rasul-Nya. Siapakah diantara mereka yang jujur keimanannya, yang mau bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya, dan siapakah yang justru kufur, ujub, dan menyalahgunakan nikmat dalam kedurhakaan dan pembangkangan kepada-Nya.

Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja dalam keadaan tidak diberikan ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka maka Allah benar-benar akan mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut : 2-3)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa diantara bentuk ujian yang Allah berikan kepada manusia itu adalah berupa kesenangan dan musibah, kesulitan dan kemudahan, semangat dan keterpaksaan, kekayaan dan kemiskinan, bahkan termasuk dalam bentuk ujian itu adalah berkuasanya musuh menindas/menjajah mereka atau pertarungan melawan musuh dengan ucapan dan perbuatan. Dan inti dari segala bentuk ujian/fitnah itu adalah berupa syubhat/kerancuan dan syahwat/kesenangan nafsu yang terlarang. Fitnah syubhat merusak akidah sementara fitnah syahwat merusak niat (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 626)

Tauhid, inilah tujuan dan hikmah penciptaan kita. Tidak ada artinya hidup jika tidak digunakan untuk mewujudkan tauhid dan iman kepada Rabb alam semesta. Manusia yang merdeka bukanlah manusia yang menghamba kepada makhluk seperti dirinya, tetapi manusia yang merdeka adalah mereka yang menghambakan dirinya kepada Allah semata. Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Inilah kelezatan tertinggi yang dirasakan setiap insan yang mengenal Rabbnya.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Telah pergi para pemuja dunia dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang paling baik di dalamnya.” Orang-orang pun bertanya kepada beliau, “Apakah itu sesuatu yang paling baik di dunia, wahai Abu Yahya?” maka beliau pun menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pasti merasakan lezatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim). Inilah kelezatan yang dirasakan oleh kaum beriman dan insan bertauhid. Kelezatan dalam berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Kelezatan dalam iman dan amal salih karena-Nya. Kelezatan dalam perjuangan menundukkan hawa nafsu dan melawan tipu daya setan. Kelezatan dalam ikhlas beribadah kepada Allah dan ittiba’ kepada ajaran nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah kemerdekaan yang ingin dirusak oleh Iblis dan bala tentaranya. Mereka ingin memalingkan umat manusia dari hikmah dan tujuan penciptaannya. Mereka ingin agar bani Adam bersama-sama kelompoknya untuk menjadi penghuni tetap neraka untuk selama-lamanya. Mereka ingin melepaskan manusia dari penghambaan kepada ar-Rahman supaya manusia itu terjerumus di dalam lembah nista pemujaan kepada hawa nafsu dan setan.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :

Mereka lari dari penghambaan yang menjadi tujuan penciptaan

Maka mereka pun terjebak dalam perbudakaan kepada nafsu dan setan

Demikian sedikit catatan nasihat, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.


admin

No description.Please update your profile.

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel