Bahaya Dosa Syirik

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.

Di era sekarang ini kita dapati manusia begitu waspada dari berbagai bentuk kejahatan semacam terorisme, narkoba, kekerasan seksual, fitnah dan kebohongan, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa pada diri mereka masih terdapat kecemburuan terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Sebuah kenyataan yang patut disyukuri.

Alhamdulillah, hal ini memberikan berita gembira bagi kita bahwa Allah masih memberikan fitrah dan naluri pada manusia untuk kembali kepada Allah dan hukum-hukum-Nya. Betapa indahnya apabila kehidupan manusia ini selalu disinkronkan dengan petunjuk Allah dan aturan-aturan-Nya. Ketenangan, keadilan, dan kebahagiaan akan bisa terwujud. Bukankah Allah telah memberikan janji kepada kita (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” (Thaha : 123)

Tauhid yang ini merupakan bentuk keadilan yang paling tinggi adalah sebab datangnya keamanan dan curahan hidayah dari Allah. Hal ini telah dijelaskan dalam ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82)

Syirik adalah kezaliman terberat yang menjadi sebab tercabutnya rasa aman dan pudarnya hidayah. Syirik disebut sebagai kezaliman disebabkan pelakunya telah menujukan ibadah kepada sesuatu yang tidak berhak menerimanya. Adakah kezaliman yang lebih berat daripada orang yang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah? Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13)

Dengan demikian status dosa syirik adalah dosa yang sangat besar di hadapan Allah. Apabila para ulama kita terdahulu menjelaskan bahwa bid’ah jauh lebih dicintai Iblis daripada maksiat, maka tentu saja bisa kita tarik pelajaran bahwa syirik pun lebih dicintai Iblis daripada bid’ah dan maksiat. Apabila bid’ah lebih disukai Iblis karena pelakunya sulit diharapkan taubatnya, maka tidak jauh dari itu pun syirik; sebab betapa banyak orang yang melakukan syirik dalam keadaan dirinya mengira bahwa dia telah berbuat amal kebaikan dan taqarrub kepada Allah!!

Para ulama menyebutkan dalil yang menunjukkan bahwa syirik adalah dosa besar yang paling besar diantaranya adalah firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan masih mengampuni dosa-dosa lain di bawahnya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisaa’ : 48). Yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang meninggal dalam keadaan berbuat syirik atau belum bertaubat darinya.

Dosa yang demikian besar ini ternyata dosa itu pula yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada umatnya. Dosa ini pula yang paling ditakuti oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah berfirman menceritakan doa beliau (yang artinya), “Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah patung.” (Ibrahim : 35)

Siapakah kita apabila dibandingkan dengan Ibrahim ‘alaihis salam yang telah rela untuk bermusuhan dengan ajaran tradisi ayah dan kaumnya demi mempertahankan dakwah tauhid? Siapakah kita apabila dibandingkan dengan Ibrahim ‘alaihis salam yang menghancurkan berhala dan dilemparkan oleh kaumnya ke dalam kobaran api yang menggunung karena membela akidahnya? Pantaskah orang-orang seperti kita merasa aman dari bahaya syirik?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *