al-Mubarok

Belajar Tauhid at-Tarbiyah [bagian 1]

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam pelajaran jarak jauh dengan materi tauhid. Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid adalah materi yang sangat penting untuk dipelajari.

Mengapa demikian? Ya, karena tauhid adalah tujuan penciptaan. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Para ulama salaf menafsirkan bahwa ‘beribadah kepada-Ku’ di sini maknanya adalah ‘mentauhidkan-Ku’.

Apa yang dimaksud dengan tauhid? Tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu kita beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan segala sesembahan selain-Nya. Hal ini sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah dalam ayat (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36)

Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung dan paling wajib ditunaikan. Allah perintahkan segenap manusia untuk beribadah kepada-Nya dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Inilah yang diserukan oleh setiap rasul kepada umatnya. Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36). Apa itu thaghut? Thaghut adalah segala bentuk sesembahan selain Allah. Setiap muslim harus mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah saja.

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang kufur/ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang-teguh dengan al-urwatul wutsqa/buhul tali yang sangat kuat; yaitu kalimat laa ilaha illallah, pent.” (al-Baqarah : 256). Selain beribadah kepada Allah saja, maka setiap muslim juga harus mengingkari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Artinya kita tidak boleh ridha terhadap kemusyrikan, kita harus berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya.

Allah berfirman (yang artinya), “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa-apa yang kalian sembah kecuali Dzat yang telah menciptakanku, maka sesungguhnya Dia pasti akan memberikan petunjuk kepadaku.” (az-Zukhruf : 26-27). Oleh sebab itulah kalimat tauhid laa ilaha illallah mengandung dua rukun; penafian segala sesembahan selain Allah dan penetapan bahwa hanya Allah sesembahan yang benar. Menujukan ibadah untuk Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Inilah tauhid.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, tauhid bukan hanya dipelajari dan diamalkan, bahkan ia juga harus kita dakwahkan. Dan kita pun harus bersabar dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Tauhid adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman/syirik, mereka itulah orang-orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82). Demikian pembahasan singkat yang bisa kami sajikan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi segenap kaum muslimin di mana pun berada.

Unduh materi dari sini : belajar-tauhid-1

Unduh rekaman materi dari sini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh Ari Wahyudi; pengajar nahwu-shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok - Yayasan Pangeran Diponegoro (YAPADI). Dalam mengurus website ini alhamdulillah kami banyak dibantu oleh teman-teman relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Donasi Peduli Wabah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI