Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya para penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa niscaya akan Kami bukakan untuk mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi.” (al-A’raaf : 96)

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah berkata, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan beriman kepada-Nya maka sesungguhnya Allah ta’ala akan memberikan ganjaran pahala kepadanya dan memberikan kepadanya rizki dalam kehidupan dunia, dan Allah bukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi yaitu dalam bentuk diturunkannya hujan dan ditumbuhkannya tanam-tanaman serta dikeluarkan untuk mereka berbagai perbendaharaan dari dalam bumi.” (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/193)

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka benar-benar Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan benar-benar Kami akan berikan balasan untuk mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah janji dari Allah ta’ala bagi orang-orang yang melakukan amal salih -yaitu amalan yang mengikuti Kitabullah ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya- apakah dia lelaki atau perempuan dari umat manusia, sedangkan hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan amal yang diperintahkan di sini adalah sesuatu yang memang disyariatkan dari sisi Allah, bahwa Allah akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia dan akan membalasnya di akhirat dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah dilakukannya.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/601])

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya; bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” (lihat Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 49)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, merasa takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (an-Nur: 52)

Thalq bin Habib rahimahullah mengatakan, “Takwa adalah kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah seraya mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah seraya merasa takut terhadap siksaan dari Allah.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/222])

al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekadar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barangsiapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruniai amal kebaikan itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allah, sesungguhnya hal itu lahir dari ketakwaan di dalam hati.” (al-Hajj: 32).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (al-Hajj: 37).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketakwaan yang hakiki adalah ketakwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketakwaan dengan anggota badan.” (lihat al-Fawa’id, hal. 136).

Abdullah bin ‘Aun rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang-orang terdahulu sebelum kita menjadikan untuk dunia sisa-sisa dari urusan akhirat mereka, sementara kalian menjadikan untuk akhirat kalian sisa-sisa dari urusan dunia kalian.” (lihat Aina Nahnu, 2/168)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sungguh aneh, orang yang bisa tertawa-tawa sedangkan di belakangnya adalah kobaran api neraka, dan orang yang bisa bergembira-ria sementara di belakangnya kematian selalu mengintai dirinya.” (lihat Aina Nahnu, 2/200)

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu lihat di surga ada orang menangis bukankah kamu akan keheranan terhadap tangisannya itu.” Maka dijawab, “Iya tentu saja.” Lalu beliau berkata, “Kalau begitu orang yang tertawa-tawa di dunia sementara dia tidak mengetahui kemanakah tempat kembalinya maka keadaan orang itu jauh lebih mengherankan.” (lihat Aina Nahnu, 2/206-207)

Sebagian orang bijak mengatakan, “Aku sungguh heran dengan orang yang merasa sedih dengan hartanya yang berkurang sementara dia tidak merasa sedih dengan umurnya yang berkurang. Dan aku heran terhadap orang yang dunia pergi meninggalkannya dan akhirat datang menyambutnya; bagaimana mungkin dia justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang akan sirna dan berpaling dari sesuatu yang datang menghadang dirinya.” (lihat Aina Nahnu, 2/237)

Ada seorang lelaki yang mengadu kepada Hasan al-Bashri rahimahullah. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.” Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan dzikir.” (lihat Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Apakah susahnya bagi salah seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap harinya untuk berdzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 346)

Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata, “Tidaklah terasa menyenangkan dunia kecuali dengan dzikir kepada-Nya. Tidak terasa menyenangkan akhirat kecuali dengan maaf/ampunan dari-Nya. Dan tidaklah memuaskan kenikmatan di surga kecuali dengan memandang -Nya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 350)

‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu mengatakan, “Seandainya bersih hati kalian niscaya ia tidak akan merasa kenyang dari menikmati kalam/ucapan Rabb kalian [yaitu al-Qur’an, pent].” (lihat Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha, hal. 48)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu [dzikir] adalah ruh dalam amal-amal salih. Apabila suatu amal tidak disertai dengan dzikir maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij as-Salikin [2/441])

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah dzikirnya kepada Allah niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarat al-Iman, hal. 57)

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi dzikir dan begitu besar faidah darinya. Sebab dzikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Allah telah memerintahkan berdzikir di dalam al-Qur’an al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar [1/11])

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu dzikir kepada Allah jalla wa ‘ala merupakan hakikat kehidupan hati. Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat Fawa’id adz-Dzikri wa Tsamaratuhu, hal. 16)

‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah rahimahullah berkata, “Majelis-majelis dzikir adalah obat bagi hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 348)

‘Atho’ bin Maisarah al-Khurasani rahimahullah mengatakan, “Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram [majelis ilmu, pent].” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 348)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Sebagaimana hujan akan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu-ilmu agama akan menghidupkan hati yang mati.” (lihat Fath al-Bari [1/215])

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih banyak membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan -untuk dikonsumsi- dalam sehari sekali atau dua kali saja. Adapun ilmu maka ia dibutuhkan -untuk dipahami, pent- sebanyak hembusan nafas.” (lihat Miftah Daris Sa’adah, 1/248-249)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun…” (lihat al-‘Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96)

Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Senantiasa ada orang berilmu yang meninggal dan karena itulah bekas-bekas kebenaran semakin luntur dan hilang. Hingga banyaklah orang yang bodoh dan lenyaplah ahli ilmu. Maka mereka pun beramal dengan dasar kebodohan. Mereka beragama tidak dengan ajaran yang benar. Dan mereka pun tersesat dari jalan yang lurus.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 199)

Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” (lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 93)