al-Mubarok

Indahnya Penghambaan

Menghamba kepada Allah adalah hikmah penciptaan kita. Mengikuti kehendak dan ajaran-ajaran Allah serta tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Merendahkan diri dan mengagungkan Allah dengan penuh kecintaan, takut, dan harapan. Menggantungkan hati kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Sebab Allah semata yang menguasai seluruh alam semesta.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Para ulama salaf menafsirkan bahwa beribadah kepada Allah maksudnya adalah dengan mentauhidkan-Nya. Setiap perintah untuk beribadah kepada Allah maka tercakup di dalamnya perintah untuk mentauhidkan-Nya. Sebab tauhid adalah syarat diterimanya amalan. Tanpa tauhid segala bentuk amalan hanya akan menjadi sia-sia.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu telah mereka kerjakan kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)

Menghamba kepada Allah artinya tunduk beribadah dan mentauhidkan-Nya. Bukanlah menghamba kepada Allah dengan sekedar meyakini bahwa Allah pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta. Namun, lebih daripada itu menghamba kepada Allah artinya tunduk kepada aturan dan hukum-hukumnya, dan yang paling pokok ialah dengan mengikhlaskan segala bentuk ibadah kepada-Nya. Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk menyeru manusia agar menghamba kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya.

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Tidaklah cukup beribadah kepada Allah apabila tidak disertai dengan pengingkaran dan penolakan kepada segala sesembaha selain-Nya. Oleh sebab itu tauhid terdiri dari dua pilar pokok yaitu penolakan dan penetapan. Penolakan segala sesembahan selain Allah dan penetapan bahwa Allah satu-satunya sesembahan yang benar sedangkan selain-Nya adalah batil.

Allah berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Benar, sedangkan segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah -sesembahan- yang batil. Dan bahwasanya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (al-Hajj : 62)

Menghamba kepada Allah bukan semata-mata menunaikan sholat, berzakat, berpuasa, atau bersedekah dan berbuat baik kepada tetangga. Lebih daripada itu, menghamba kepada Allah artinya adalah menjadikan seluruh amal dan kebaikan yang dia kerjakan murni untuk mencari wajah Allah dan meraih surga-Nya, bukan demi kepentingan atau ambisi dunia. Tanpa keikhlasan dalam melakukan amal dan kebaikan maka semua itu hanya akan sirna.

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Hal ini menunjukkan bahwa amalan yang tercampur dengan riya’ atau sum’ah tidak akan diterima di sisi Allah. Riya’ yaitu melakukan amal karena ingin dilihat manusia dan mengharap pujian atau sanjungan mereka. Adapun sum’ah adalah melakukan amal karena ingin didengar manusia dan menginginkan sanjungan atau pujian dari mereka. Kedua hal ini termasuk dalam bentuk syirik ashghar yang akan merusak dan menghapuskan pahala amalan yang dikerjakan.


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh Ari Wahyudi; pengajar nahwu-shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok - Yayasan Pangeran Diponegoro (YAPADI). Dalam mengurus website ini alhamdulillah kami banyak dibantu oleh teman-teman relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Donasi Peduli Wabah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI