Menorehkan Tinta Emas

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul-Nya, kekasih-Nya, dan da’i yang menyeru kepada jalan-Nya. Amma ba’du.

Meraih kesuksesan adalah dambaan. Menggapai kemuliaan dan kebahagiaan adalah cita-cita. Tak akan pernah sepi alam dunia ini dari gerak-gerik dan tingkah-laku para pengejar sukses dan bahagia. Merupakan sebuah kebanggaan dan kegembiraan tentu saja mendapatkan apa yang disebut sebagai kesuksesan dan keberhasilan itu.

Seringkali prestasi dan keberhasilan itu digambarkan ibarat tinta emas yang ditorehkan di atas lembaran sejarah dan arsip peradaban umat manusia. ‘Si fulan telah menorehkan tinta emas dengan perjuangannya’. ‘Si fulan telah menorehkan tinta emas dengan karya-karyanya’. ‘Si fulan telah membubuhkan tinta emas di atas lembaran sejarah dengan segudang jasanya’. Itulah kira-kira gambaran sanjungan dan komentar manusia atas sebuah ‘keberhasilan’.

Meskipun demikian, kerapkali orang terlena dengan sanjungan dan pujian manusia. Dia mengira bahwa pujian mereka adalah indikasi dan sinyal kemenangan. Padahal, sejak dahulu kala telah kita kenali bersama, bahwasanya pujian manusia adalah pandangan dan penilaian yang sangat lemah untuk dijadikan sebagai ukuran. Sebagian orang bisa jadi memuji, tetapi sebagian yang lain bisa jadi justru mencela dan mencaci-maki. Sampai-sampai tenar sebuah ungkapan yang artinya, “Ridha manusia adalah cita-cita yang tak akan pernah tercapai.”

Oleh sebab itu sebagian ulama tatkala mendefinisikan ikhlas berkata, bahwa ikhlas itu adalah ‘melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa memandang kepada penilaian al-Khaliq/Allah’. Hal ini menunjukkan, bahwasanya pandangan dan penilaian manusia memang tidak bisa dijadikan pedoman dan ukuran atas kebenaran yang sejati. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah dalam sebuah ayat (yang artinya), “Kebenaran adalah dari Rabb-mu…”

Pada sebagian ayat juga ditegaskan (yang artinya), “Apa pun yang kalian perselisihkan maka hukum/keputusannya harus diserahkan kepada Allah…” Di dalam ayat lainnya Allah juga memerintahkan kita apabila berbeda pendapat untuk kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Allah berfirman (yang artinya), “Apabila kalian berbeda-pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…”

Perintah yang ada di dalam al-Qur’an ini menunjukkan kepada kita bahwa sudah menjadi kewajiban kita untuk kembali dan tunduk kepada ajaran Allah dan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita harus menundukkan akal, perasaan, dan hawa nafsu kita kepadanya. Sebab rasul tidak berbicara dengan berlandaskan hawa nafsunya, akan tetapi semata-mata dengan wahyu yang Allah turunkan kepadanya demi menuntun manusia menuju bahagia.

Diantara sarana untuk mengembalikan manusia kepada al-Kitab dan as-Sunnah itu adalah dengan ditegakkannya nasihat dan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana kita temukan perintah untuk hal itu di dalam al-Qur’an maupun di dalam as-Sunnah. Saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran. Berdakwah di jalan Allah dan memerintahkan yang ma’ruf serta melarang dari hal-hal yang mungkar.

Dengan demikian, adalah sebuah keniscayaan bagi siapa saja yang ingin ikhlas beribadah dan taat kepada Allah untuk berlapang-dada dalam menerima nasihat ataupun teguran yang diberikan kepadanya, bahkan itu merupakan bagian dari asas keimanan. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Allah dalam ayat (yang artinya), “Sekali-kali tidak, demi Rabbmu, mereka itu tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim/pemutus perkara atas segala hal yang diperselisihkan diantara mereka, kemudian mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam hati mereka atas apa yang telah kamu putuskan, dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.”

Dari sinilah kita bisa memahami bahwasanya keikhlasan itu tidak bisa diidentikkan dengan sikap cuek alias tidak peduli dengan perkataan orang lain. Benar, bahwa yang dipikirkan oleh orang yang ikhlas adalah apa penilaian Allah atas diri dan perbuatannya, bukan penilaian manusia. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak menuntut kita untuk cuek dan tidak mau ambil pusing dengan komentar dan kritikan orang lain. Karena bisa jadi komentar orang lain itu adalah nasihat bagi kita sebagai bukti kecintaannya kepada sesama muslim. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa seorang mukmin satu sama lain ibarat sebuah bangunan; dimana satu sama lain saling menguatkan.

Memang mudah menerima sebuah nasihat ketika nasihat itu tidak menyinggung perasaan kita dan tidak melukai hati kita. Akan tetapi masalahnya bukanlah itu, sebab semua orang akan bisa menerimanya -dengan izin Allah-. Yang menjadi ujian dan cobaan bagi kita adalah ketika nasihat itu ternyata ‘terpaksa’ harus menyinggung perasaan atau sedikit melukai hati dan mungkin menyulut api kemarahan. Di sinilah kesabaran itu diuji; benarkah kita ingin tunduk kepada kebenaran karena itu adalah kebenaran atau sesungguhnya kita ini hanya ingin tunduk pada kebenaran yang sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan duniawi kita. Bukankah salah satu ciri kaum munafik ialah apabila ditimpa kebaikan dan kesenangan dia merasa tentram tetapi jika ditimpa ujian dan kesulitan maka dia berbalik mundur ke belakang dan meninggalkan jalan kebenaran….

Kembali ke persoalan ‘tinta emas’ tadi, bahwa banyak diantara kita tertipu dan terpedaya oleh sanjungan manusia. Mereka mengira bahwa sanjungan manusia itulah tinta emas yang akan kekal di dalam lembaran sejarah. Dengan segala cara dan upaya sebagian orang berjuang untuk merebut simpati dan mengundang decak kagum khalayak kepada dirinya. Mungkin dia lupa, bahwasanya hakikat ‘tinta emas’ itu adalah keikhlasan dan kelurusan jalan yang dia tempuh. Tinta emas itulah yang disebut sebagai ahsanu ‘amalan; orang yang terbaik amalnya. Sebagaimana kita pun mengetahui bahwa ‘tinta emas’ itu bukanlah banyaknya harta dan keturunan, melainkan ‘hati yang selamat’ ketika berjumpa dengan Allah kelak di negeri akhirat.

Ya, kita telah membaca kisah Uwais al-Qarani rahimahullah, seorang tabi’in yang paling baik karena keikhlasan dan baktinya kepada sang ibu. Siapakah yang berani mengatakan bahwa Uwais bukan termasuk jajaran manusia yang menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah? Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggelarinya sebagai tabi’in terbaik.

Kita pun pernah menyimak nasihat Abdullah ibnul Mubarok rahimahullah yang mengatakan, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil juga karena niatnya.”

Yang menjadi masalah bagi kita sekarang ini adalah terkadang kita menyepelekan perkara-perkara besar dan justru membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Kita menganggap kebaikan dan jasa kita sangat besar padahal kebaikan dan jasa kita -kalaupun ada- maka itu masih layak dipertanyakan kualitasnya. Di sisi lain, kita menilai bahwa dosa dan kesalahan kita terlalu kecil/remeh seperti seekor lalat yang hinggap di depan hidung saja. Padahal bisa jadi dosa dan kesalahan-kesalahan kita semakin besar dan parah gara-gara kita remehkan.

Untuk ‘menorehkan tinta emas’ itu seorang muslim juga tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apapun. Karena sekedar menyingkirkan gangguan dari jalan itu pun adalah bagian dari iman. Mengingat Allah di kala sepi lalu berlinang air mata karena mengingat dosa atau takut kepada hukuman Allah itu pun sebuah amalan yang sangat utama. Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena Allah, ini pun sebuah amalan yang tidak boleh disepelekan. Memberikan sedekah secara sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Ini semua adalah amalan-amalan besar di sisi Allah walaupun sebagian manusia menganggapnya remeh dan jauh dari publisitas.

Boleh jadi –wallahu a’lam– dengan ikut menyebarkan publikasi kajian, menempel pamflet, menaruh buletin dakwah, menata parkir jama’ah pengajian, menyapu masjid, membersihkan wc, dsb itu adalah ‘tinta emas’ yang akan memperberat timbangan catatan amal anda di hari kiamat.

Ustadz Abdullah Zaen hafizhahullah menasihatkan, “Tidak semua yang mengurus dakwah harus tampil di permukaan. Perlu ada orang yang ada di balik layar. Dan bisa jadi orang yang berperan di balik layar itu justru lebih besar pahalanya daripada yang ada di depan.” Demikian kurang lebih isi salah satu nasihat beliau dalam pertemuan bersama sebagian da’i dan pegiat dakwah yang diadakan di Hotel Ros In Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

Dengan demikian, menorehkan tinta emas bukanlah diukur dengan standar kemegahan dan popularitas di hadapan manusia. Simpati massa atau tumpukan harta bukanlah ukuran tinta emas yang ditorehkan seorang hamba. Namun, ketika seorang insan menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang wajib beribadah dan mentauhidkan-Nya, maka itu artinya tetesan tinta emas itu mulai mengalir dan ‘menunggu’ untuk dia torehkan dalam lembaran hidupnya.

Ketika seorang insan menyadari bahwa kemuliaan itu terletak pada ketakwaan maka itu artinya celupan tinta emas itu siap untuk dia bubuhkan di atas kertas sejarah hidupnya. Ketika seorang hamba telah mengerti bahwa keadaan yang paling dekat antara dirinya dengan Rabb alam semesta adalah ketika dia tersungkur sujud di hadapan-Nya; maka itulah sinyal yang menjadi penanda bahwa gerbang sukses mulai terbuka untuknya. Ketika seorang manusia telah mengerti bahwa sesungguhnya hanya iman dan amal salih yang bisa membuatnya bahagia, maka itulah pancaran cahaya yang akan menerangi perjalanan umurnya.

Dari sinilah kiranya penting bagi kita untuk kembali menemukan ‘tinta emas’ di dalam relung-relung hati dan di sela-sela kesibukan serta tingkah-laku kita. Jadilah manusia yang mengejar keutamaan akhirat dan tidak menjadi hamba dunia. Jadilah insan yang bersedekah dan membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan atau ucapan terima kasih dari mereka. Jadilah orang yang paling teliti terhadap aib diri dan kesalahan anda. Jadilah orang yang selalu mengingat besarnya nikmat yang Allah berikan kepada anda selama ini. Jadilah orang yang terus-menerus bertaubat dan beristighfar kepada Allah, mumpung kesempatan itu masih ada.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini hanyalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka berlalu pula sebagian dari dirimu.”

Para ulama adalah teladan bagi kita dalam bermuhasabah dan memperbaiki amalan. Dengan ilmu mereka menimbang dan mengambil sikap. Dengan ilmu mereka melandasi ucapan dan perbuatan. Dengan ilmu pula mereka mengambil kebijakan dan tindakan. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka, ‘Man kaana billahi a’raf kaana minhu akhwaf’ yang artinya, “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka niscaya dia lebih besar rasa takutnya kepada Allah.”

Seringkali kita bersemangat untuk menorehkan ‘tinta emas’ namun barangkali kita lupa atau lalai memeriksa dengan seksama, karena bisa jadi apa yang hendak kita torehkan itu bukanlah tinta emas tetapi kotoran yang menjijikkan, bangkai yang membusuk, atau ‘bensin’ yang semakin mengobarkan api fitnah yang menyala-nyala. Ya, tentu kita tidak sedang membicarakan apa yang tampak dari luarnya. Akan tetapi yang kita maksud adalah apa-apa yang bersemayam di dalam dada. Sudahkah kita membersihkannya dari kotoran dan penyakit-penyakit hati? Sebab bisa jadi sumber segala masalah adalah dosa-dosa yang mengurat dan mengakar di dalam hati….

banner donasi buku Nasihat-Nasihat Ramadhan2 ungu


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com untuk sementara ini dikelola oleh Ari Wahyudi, seorang pengajar nahwu dan shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Bangun Masjid!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI