al-Mubarok

Kita Yang Membutuhkan Dakwah Ini

Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Yusuf : 108)

Dakwah tauhid adalah kebutuhan setiap insan. Karena dengan dakwah inilah manusia mengenal Rabbnya. Dengan dakwah inilah manusia mengenali tujuan hidupnya. Dengan dakwah inilah manusia akan meraih kebahagiaan dan keselamatan.

Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman/syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (al-An’aam : 82)

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13)

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang pun penolong.” (al-Ma’idah : 72)

Seorang insan yang ridha Allah sebagai Rabbnya maka dia akan menggantungkan hati kepada Allah semata dan mencampakkan segala sesembahan selain-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Dengan dakwah tauhid inilah manusia akan menggapai kebahagiaan pada hari pembalasan. Dengan dakwah tauhid inilah manusia akan meraih kenikmatan yang abadi di akhirat nanti. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang-orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’araa’ : 88-89)

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Menegakkan dakwah tauhid adalah jalan menuju kejayaan. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong -agama- Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (Muhammad : 7)

Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain Islam niscaya Allah akan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Tidak ada Islam tanpa tauhid, karena tauhid adalah asas agama Islam dan pondasi keimanan. Tanpa tauhid maka akan lenyaplah seluruh amal kebaikan. Allah berfirman (yang artinya), “Jika kamu berbuat syirik niscaya lenyaplah seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Oleh sebab itulah para ulama menjelaskan, bahwa islam itu adalah kepasrahan kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Seorang muslim hanya menujukan ibadahnya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Sebagaimana perintah Allah (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36)

Seorang muslim tunduk kepada ketetapan dan aturan Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman atau perempuan yang beriman, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara maka masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa durhaka kepada Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (al-Ahzab : 36)

Tauhid adalah hak Allah atas setiap hamba. Tauhid adalah kewajiban terbesar di dalam islam. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu memerintahkan; Janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan kepada kedua orang tua hendaklah berbuat baik.” (al-Israa’ : 23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas segenap hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila hal ini telah jelas bagi kita, maka tidaklah ada kebaikan pada diri seorang hamba kecuali dengan memahami aqidah tauhid ini dan mengamalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan ilmu yang paling wajib untuk dipahami dan dipelajari oleh setiap muslim adalah ilmu tauhid yang itu merupakan kandungan dari kalimat laa ilaha illallah. Ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka ialah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari)

Tauhid inilah bagian keimanan yang paling utama dan paling penting yang tidak akan benar cabang iman yang lain tanpanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tauhid adalah intisari ajaran semua nabi dan rasul. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku -saja-.” (al-Anbiyaa’ : 25)

Tauhid inilah kunci keberuntungan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, maka benar-benar Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias diri. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang terpatri di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.”

Iman menuntut kita untuk beramal salih dan berdakwah. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Iman menuntut kita untuk bersabar. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Kedudukan sabar di dalam iman seperti fungsi kepala bagi anggota badan. Apabila kepala telah terputus maka tidak ada lagi kehidupan pada tubuh. Ketahuilah, bahwa tidak akan tegak iman pada diri orang yang tidak memiliki kesabaran.”

Iman menuntut kita untuk mengikhlaskan amal untuk Allah semata. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya dengan hanif…” (al-Bayyinah : 5)

Kita lah yang membutuhkan dakwah tauhid ini. Adapun Allah, maka Dia Maha Kaya. Dia tidak membutuhkan sesuatu apa pun dari hamba-Nya. Allah pasti membela dan memenangkan agama-Nya. Kalau seandainya kita meninggalkan dakwah ini maka Allah mampu untuk mengganti kita dengan orang-orang lain yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka.

Pilihan diserahkan pada diri kita masing-masing. Apakah kita ingin meraih kemuliaan dengan membela dakwah ini, ataukah kita ingin terjerumus dalam kehinaan dan kesengsaraan dengan meninggalkan dan menelantarkan dakwah yang mulia ini?

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan kepada Imam Muhammad bin Su’ud rahimahullah seraya menawarkan dakwah tauhid ini kepadanya, “Barangsiapa menolong agama Allah maka dia pasti akan diberikan kemenangan.” Dan inilah realita sejarah yang dapat kita saksikan dengan tegaknya negara tauhid Saudi Arabia yang menebarkan ajaran-ajaran Islam ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan harta mereka.

Maka negeri mana pun di muka bumi ini yang menginginkan kemuliaan dan kejayaan hakiki tidak ada jalan bagi mereka selain kembali kepada ajaran Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menegakkan dakwah tauhid serta mengajarkan aqidah tauhid ini kepada segenap lapisan masyarakat, dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Menebarkan dakwah tauhid ini di kota-kota dan pelosok-pelosok desa. Menyiarkan program pelajaran tauhid melalui media informasi, radio, televisi, majalah, dan surat kabar ke segenap penjuru negeri.

Semua kalangan masyarakat membutuhkan dakwah tauhid ini tanpa terkecuali. Semua keluarga membutuhkannya. Semua organisasi membutuhkannya. Semua daerah dan wilayah membutuhkannya. Semua pejabat negara, semua pemimpin dan karyawan, bahkan semua polisi dan tentara. Semua orang membutuhkannya. Karena tauhid adalah ruh dan cahaya bagi kehidupan umat manusia. Tanpa tauhid maka manusia akan binasa dan terjebak dalam kegelapan demi kegelapan. Hidup tak tentu arah dan berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Akankah kita biarkan kerusakan demi kerusakan menggerogoti negeri ini?

——————–

banner donasi


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh Ari Wahyudi; pengajar nahwu-shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok - Yayasan Pangeran Diponegoro (YAPADI). Dalam mengurus website ini alhamdulillah kami banyak dibantu oleh teman-teman relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Donasi Peduli Wabah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI